Adiksi Blind Box Ancam Kesehatan Mental dan Picu Penuaan Dini
Jakarta, Apaberita – Maraknya tren blind box di kalangan masyarakat, terutama generasi muda, kini menuai sorotan tajam dari akademisi. Praktik pembelian produk misteri ini dinilai tidak hanya mengur...
Jakarta, Apaberita – Maraknya tren blind box di kalangan masyarakat, terutama generasi muda, kini menuai sorotan tajam dari akademisi. Praktik pembelian produk misteri ini dinilai tidak hanya menguras keuangan, tetapi juga menyimpan risiko serius berupa gangguan kesehatan mental dan bahkan mempercepat proses penuaan biologis.
Peringatan itu disampaikan oleh dr Samuel Stemi, pengajar di IPB University, dalam sebuah forum diskusi kesehatan publik yang digelar di Bogor pada Senin (12/5). Ia menekankan bahwa mekanisme ketidakpastian yang melekat pada blind box mampu memicu siklus adiksi yang sulit diputus.
Mekanisme Dopamin dan Jerat Psikologis
Secara klinis, dr Samuel Stemi menjelaskan, sensasi membuka kotak tanpa mengetahui isinya memicu pelepasan dopamin secara tidak terduga di otak. Respons neurologis ini serupa dengan yang terjadi pada perilaku judi, di mana ekspektasi terhadap hadiah langka memperkuat dorongan untuk terus mengulangi pembelian. "Setiap kali seseorang mendapatkan item yang diinginkan, sirkuit penghargaan di otak diaktifkan. Namun ketika hasilnya mengecewakan, otak justru mendorong untuk mencoba lagi demi mengejar kepuasan yang tertunda. Pola inilah yang menjadi fondasi adiksi," ungkapnya di hadapan peserta diskusi.
Fenomena tersebut diperparah oleh strategi pemasaran yang kerap menghadirkan edisi terbatas atau seri rahasia. Konsumen, lanjut dr Samuel, seringkali kehilangan kendali atas pengeluaran karena dorongan kompulsif untuk melengkapi koleksi. Data dari aplikasi pemantau keuangan lokal pada kuartal pertama 2026 menunjukkan rata-rata pengguna di bawah usia 25 tahun menghabiskan Rp450.000 per bulan untuk produk blind box, naik 37 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Dampak pada Kesehatan Mental dan Fisik
Tekanan psikologis yang muncul tidak berhenti pada adiksi finansial. Stres kronis akibat kegagalan mendapatkan item incaran, rasa bersalah pasca pembelian impulsif, serta kecemasan sosial karena tertinggal tren, secara akumulatif dapat memicu gangguan ansietas dan depresi ringan hingga sedang. dr Samuel Stemi merujuk pada sejumlah laporan kasus di klinik kesehatan jiwa kampus yang menunjukkan korelasi antara intensitas bermain blind box dengan gejala distres psikologis.
Lebih jauh, pakar biomedis itu memaparkan keterkaitan antara stres berkepanjangan dengan percepatan pemendekan telomer—struktur pelindung di ujung kromosom yang menjadi penanda biologis penuaan. "Stres oksidatif yang dipicu oleh tekanan psikologis kronis mempercepat pemendekan telomer. Ini berarti, secara seluler, individu yang terjebak adiksi berisiko mengalami penuaan dini lebih cepat dibandingkan usianya," tuturnya. Temuan serupa juga diperkuat oleh riset terbaru dari Fakultas Kedokteran IPB yang mengamati biomarker penuaan pada kelompok dewasa muda dengan kecenderungan perilaku kompulsif.
Perlu Regulasi dan Literasi Kolektif
Menanggapi eskalasi tren ini, sejumlah pihak mendesak adanya intervensi kebijakan. Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia) melalui pernyataannya pada Selasa (13/5) mendorong pemerintah untuk memasukkan peringatan risiko adiksi pada kemasan blind box, sebagaimana yang diterapkan pada produk tembakau. Sementara itu, Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) tengah mengkaji kemungkinan penerapan batas usia pembelian serta transparansi peluang perolehan item.
dr Samuel Stemi menekankan bahwa regulasi saja tidak cukup. Ia mengusulkan integrasi edukasi literasi digital dan kesehatan mental ke dalam kurikulum sekolah menengah. "Anak muda harus dibekali kemampuan mengenali mekanisme manipulatif dalam desain produk digital dan fisik. Tanpa itu, mereka akan terus menjadi sasaran empuk model bisnis yang memang dirancang untuk mengeksploitasi kerentanan psikologis," katanya. Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Komunikasi dan Digital belum memberikan respons resmi atas usulan penyertaan label peringatan tersebut.
Comments (0)