ACEH — Warga Patungan Perbaiki Jembatan, Kementerian PU Janji Perbaikan Permanen
Aroma aspal basah dan lumpur masih menyengat di sepanjang jalan nasional lintas Bireuen–Aceh Tengah. Di bawah terik matahari yang menyengat, puluhan warga
Aroma aspal basah dan lumpur masih menyengat di sepanjang jalan nasional lintas Bireuen–Aceh Tengah. Di bawah terik matahari yang menyengat, puluhan warga dari dua kabupaten, Bener Meriah dan Bireuen, bahu-membahu menambal lubang, membersihkan material longsor, dan memperkuat struktur Jembatan Enang-enang yang nyaris ambruk. Mereka melakukannya bukan karena ditugasi, melainkan karena hati mereka tak tahan lagi melihat penderitaan yang ditimbulkan oleh rusaknya akses vital ini. Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh beberapa pekan lalu telah memutus jalur utama tersebut, mengisolasi ribuan warga, melumpuhkan distribusi logistik, dan membuat anak-anak terpaksa berjalan kaki berjam-jam menuju sekolah.
Kondisi Darurat Pascabencana
Jembatan Enang-enang, yang melintasi Sungai Peusangan, merupakan satu-satunya penghubung antara Kabupaten Bener Meriah dan Bireuen. Ambruknya sebagian oprit jembatan dan retaknya beberapa gelagar beton membuat kendaraan berat sama sekali tak bisa melintas. Kendaraan roda dua dan pejalan kaki pun hanya bisa menyeberang dengan sangat hati-hati. “Setiap hari saya lihat ibu-ibu menangis karena dagangan mereka busuk tak bisa dibawa ke pasar,” ujar Muhammad Nasir (47), seorang petani kopi yang turut bekerja memperbaiki jalan. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sebanyak 12 titik longsor dan 3 jembatan rusak berat terjadi di lintas tersebut, mengakibatkan kerugian ekonomi harian yang diperkirakan mencapai Rp2,4 miliar akibat terhambatnya distribusi hasil bumi.
Inisiatif Warga yang Mengharukan
Tak tega melihat kondisi semakin memburuk, warga dari kedua kabupaten berinisiatif mengumpulkan dana secara swadaya. Dalam waktu tiga hari, mereka berhasil mengumpulkan Rp18,5 juta dari celengan pribadi, sumbangan warung kopi, hingga uang saku pelajar. Uang itu digunakan untuk membeli semen, pasir, batu, dan besi seadanya. “Kami tidak peduli siapa yang punya kewajiban. Yang penting jembatan ini bisa dilewati lagi. Kami rela tidak jajan berbulan-bulan asal anak-anak kami bisa sekolah,” kata Cut Fatimah (33), seorang ibu rumah tangga yang turut mengaduk semen. Gotong royong ini merekam solidaritas yang mendalam, mengingatkan pada budaya meugoe (gotong royong) khas Aceh yang telah mengakar selama berabad-abad. Aksi mereka pun menjadi viral di media sosial, menuai pujian sekaligus memunculkan pertanyaan: ke mana tanggung jawab pemerintah?
Respons Kementerian PU: Anggaran dan Jadwal
Menanggapi kondisi ini, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Direktorat Jenderal Bina Marga akhirnya buka suara.
“Kami sangat mengapresiasi semangat kebersamaan warga Aceh. Namun, kami meminta masyarakat untuk tidak memperbaiki sendiri jalan dan jembatan nasional karena menyangkut spesifikasi teknis dan keselamatan. Pemerintah telah menyiapkan anggaran darurat untuk penanganan pascabencana ini,”ujar Haris Setiawan, Staf Khusus Menteri PU Bidang Infrastruktur, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (7/7). Ia menegaskan bahwa Kementerian PU telah mengalokasikan Rp12,7 miliar dari Dana Siap Pakai (DSP) untuk perbaikan darurat dan permanen di koridor Bireuen–Aceh Tengah. Proyek itu ditargetkan rampung sepenuhnya dalam 45 hari kalender, terhitung sejak 10 Juli 2026. Haris juga memastikan bahwa jembatan Enang-enang akan dirancang ulang untuk meningkatkan ketahanan terhadap banjir susulan.
Harapan dan Kecemasan Warga
Meski janji sudah diucapkan, campuran antara harapan dan skeptisisme masih menyelimuti warga. “Kami sudah dengar janji berkali-kali. Tapi kalau kali ini benar, kami sangat bersyukur. Jangan sampai nanti uang yang kami kumpulkan habis, lalu proyek resmi mangkrak,” ujar Teuku Zulkarnain, kepala pemuda setempat. Sementara itu, dana hasil patungan warga kini dialihkan untuk membantu logistik harian warga terdampak yang belum menerima bantuan maksimal. Pemerintah daerah setempat juga berjanji akan mengawal ketat proses tender dan pelaksanaan proyek agar sesuai jadwal. Akses sementara menggunakan jembatan bailey darurat pun direncanakan tiba dalam waktu seminggu ke depan, untuk membuka kembali denyut ekonomi yang sempat terhenti.
Comments (0)