Warga Yahukimo Cemas Pascapenembakan Pilot dan Bakar Pesawat

Masyarakat di pedalaman Kabupaten Yahukimo, Papua, tengah dihantui rasa takut yang mendalam menyusul insiden penembakan seorang pilot dan pembakaran sebuah pesawat perintis yang selama ini menjadi sat...

Jul 12, 2026 - 15:23
0 0
Warga Yahukimo Cemas Pascapenembakan Pilot dan Bakar Pesawat

Masyarakat di pedalaman Kabupaten Yahukimo, Papua, tengah dihantui rasa takut yang mendalam menyusul insiden penembakan seorang pilot dan pembakaran sebuah pesawat perintis yang selama ini menjadi satu-satunya moda transportasi penghubung desa-desa terpencil di wilayah itu. Peristiwa tersebut tidak hanya merenggut nyawa penerbang yang bertugas, tetapi juga melumpuhkan jalur logistik vital yang menyokong kehidupan ribuan warga.

Kronologi Insiden di Distrik Terpencil

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari aparat keamanan setempat, aksi kekerasan itu terjadi pada Senin, 14 Juli 2025, sekitar pukul 09.30 WIT di landasan udara pendek di Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo. Pilot berkewarganegaraan asing, Mark D. Harrington (52 tahun), baru saja mendaratkan pesawat tipe Pilatus PC-6 Porter bernomor registrasi PK-VVA milik maskapai perintis PT Mission Aviation Fellowship (MAF) ketika sekelompok orang bersenjata melepaskan tembakan ke arah kokpit. Harrington mengalami luka tembak di bagian dada dan meninggal di tempat. Pelaku kemudian menyiramkan bahan bakar dan membakar badan pesawat hingga hangus total.

Kepala Kepolisian Resor Yahukimo, AKBP Didimus Yahuli, menyatakan bahwa pihaknya telah mengerahkan satu peleton personel gabungan TNI-Polri untuk mengejar kelompok pelaku. "Kami sedang melakukan penyelidikan intensif. Identitas pelaku sudah mulai terpetakan, dan kami akan menindak tegas siapa pun yang terlibat dalam aksi biadab ini," tegas Yahuli dalam keterangan pers di Dekai, ibukota Yahukimo, pada Selasa, 15 Juli 2025.

Lumpuhnya Akses dan Ancaman Krisis Kemanusiaan

Pesawat yang hancur itu selama ini mengoperasikan rute Dekai–Seradala–Anggruk, melayani pengangkutan penumpang, bahan pokok, obat-obatan, serta evakuasi medis bagi 12 kampung yang hanya bisa dijangkau lewat udara karena ketiadaan jalan darat. Dihancurkannya armada tersebut membuat sekitar 4.500 jiwa penduduk di tiga distrik langsung terisolasi.

Kepala Dinas Perhubungan Yahukimo, Yulianus Heluka, mengungkapkan bahwa belum ada pengganti pesawat yang bisa segera dioperasikan. "Stok bahan bakar di Seradala hanya cukup untuk satu bulan ke depan. Jika dalam dua pekan tidak ada penerbangan masuk, kami khawatir terjadi kelangkaan pangan dan obat-obatan yang bisa memicu keadaan darurat kemanusiaan," ujarnya.

Kekhawatiran serupa disampaikan oleh Pastor Fransiskus Wonda, pemimpin Gereja Katolik Paroki Seradala. "Umat saya ketakutan. Mereka tidak hanya berduka atas wafatnya pilot yang sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga, tetapi juga tidak tahu bagaimana akan bertahan hidup jika tidak ada lagi pesawat yang datang," katanya. Ia menambahkan bahwa saat ini warga sangat berharap adanya jaminan keamanan agar penerbangan kemanusiaan dapat segera dilanjutkan.

Seruan Jeda Kemanusiaan dari Berbagai Pihak

Insiden ini memicu desakan agar semua pihak yang bertikai di Papua, khususnya di wilayah Yahukimo, menyepakati jeda kemanusiaan. Ketua Dewan Adat Yahukimo, Nikodemus Yelipele, dalam pernyataan resminya menekankan bahwa konflik bersenjata tidak boleh mengorbankan hak hidup masyarakat sipil. "Kami meminta kepada seluruh kelompok agar menahan diri dan menghentikan segala bentuk kekerasan. Papua benar-benar memerlukan jeda kemanusiaan agar bantuan bisa masuk dan warga tidak menjadi korban yang terlupakan," tegasnya.

Senada dengan itu, Koordinator Jaringan Advokasi Papua untuk Kemanusiaan (JAPUK), Maria Kogoya, mendesak pemerintah pusat untuk segera membuka koridor kemanusiaan yang dijamin keamanannya oleh aparat negara. "Negara hadir itu bukan hanya lewat senjata, tapi lewat roti dan obat. Jika negara tidak mampu membuka akses, maka sama saja membiarkan rakyatnya mati di tengah hutan," ucap Kogoya saat ditemui di Jayapura, Rabu (16/7).

Komitmen Pemerintah dan Langkah Darurat

Pemerintah Kabupaten Yahukimo bersama Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan Tengah menggelar Rapat Koordinasi Darurat pada Rabu, 16 Juli 2025, di Wamena. Dalam rapat yang dipimpin Penjabat Bupati Yahukimo, Simon Mirin, disepakati tiga langkah prioritas: pertama, percepatan pengiriman bantuan bahan pokok dan obat-obatan melalui jalur udara menggunakan helikopter milik TNI Angkatan Udara; kedua, pembentukan posko keamanan di sekitar landasan terbang Seradala; dan ketiga, pembicaraan dengan tokoh masyarakat dan pemuka adat untuk memulihkan kepercayaan publik.

"Kami sudah berkoordinasi dengan Pangdam XVII/Cenderawasih dan Lanud Silas Papare untuk menyediakan satu unit helikopter Bell 412 guna mendistribusikan bantuan, sambil menunggu kesiapan pesawat perintis pengganti dari MAF," jelas Simon Mirin. Ia juga mengimbau warga untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh informasi yang tidak jelas.

Sementara itu, Direktur Eksekutif MAF Indonesia, Budi Santoso, menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya pilot Harrington. "Beliau adalah pahlawan kemanusiaan yang telah belasan tahun melayani masyarakat Papua. Kami akan terus berusaha meneruskan pelayanan ini, tapi kami juga memerlukan jaminan keamanan yang nyata," ujarnya dari Sentani, Kabupaten Jayapura.

Hingga berita ini diturunkan, situasi keamanan di Distrik Seradala masih dikategorikan siaga tinggi. Warga yang ketakutan memilih untuk tidak keluar dari permukiman, sementara aparat gabungan terus melakukan patroli untuk memastikan pelaku dapat segera ditangkap dan jalur logistik vital itu dapat difungsikan kembali.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User