Warga Pengasinan Depok Pilih Cat Kuning-Hitam Jelang HUT ke-81 RI

Sekelompok pemuda di Kampung Pengasinan, Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, menegaskan keputusan untuk mengecat permukaan jalan gang di lingkungan mereka dengan kombinasi warna kuni...

Warga Pengasinan Depok Pilih Cat Kuning-Hitam Jelang HUT ke-81 RI

Sekelompok pemuda di Kampung Pengasinan, Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, menegaskan keputusan untuk mengecat permukaan jalan gang di lingkungan mereka dengan kombinasi warna kuning dan hitam menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada Minggu, 16 Agustus 2026. Tindakan tersebut diambil sebagai bentuk memeriahkan perayaan kemerdekaan sekaligus menunjukkan sikap hormat terhadap simbol negara, dengan lokasi pengecatan ditetapkan di ruas jalan permukiman padat yang menjadi akses utama warga setempat.

Berbeda dengan fenomena yang marak di sejumlah wilayah lainnya yang menyemarakkan jalanan dengan nuansa merah dan putih, para pemuda di kawasan tersebut justru menyatakan pilihan warna yang kontras. Keputusan ini, menurut pengakuan warga, bukan semata-mata untuk menarik perhatian visual, melainkan didasari pada pertimbangan mendalam terkait nilai sakral bendera Merah-Putih serta makna filosofis perjalanan hidup manusia.

Pertimbangan Etika terhadap Simbol Negara

Ririe, tokoh warga setempat, menegaskan bahwa pemilihan warna kuning dan hitam salah satunya dilatarbelakangi oleh rasa hormat yang tinggi terhadap kehormatan simbol negara. Menurutnya, warna Merah-Putih yang tertera pada bendera Indonesia merupakan representasi sakral bagi bangsa dan negara yang harus dijaga kesuciannya.

"Merah-Putih itu simbol kehormatan bangsa yang sakral. Menurut kami kurang tepat kalau dilukis di atas permukaan jalanan yang nantinya bakal dilintasi, digilas roda kendaraan, dan terinjak-injak oleh kaki manusia setiap hari," ujar Ririe.

Ririe menyatakan bahwa perlakuan terhadap warna bendera negara harus tetap dipertahankan dalam tataran yang terhormat. Melukiskan warna merah dan putih di tapak jalan dinilai berpotensi mengurangi rasa hormat karena secara tidak langsung akan selalu terinjak oleh warga maupun pengendara yang melintas. Oleh karena itu, warga menindaklanjuti semangat perayaan kemerdekaan dengan tetap menjaga marwah simbol kenegaraan melalui pemilihan warna alternatif yang tidak mengurangi nilai historis bendera.

Makna Filosofis Warna Kuning dan Hitam

Selain aspek etika, kombinasi warna kuning dan hitam yang menghiasi sepanjang jalan gang tersebut ternyata menyimpan makna mendalam tentang dinamika kehidupan manusia. Warna kuning yang kerap diidentikkan dengan simbol duka atau peringatan dipadukan dengan warna hitam untuk mengingatkan bahwa roda kehidupan tidak selalu berjalan mulus atau sekadar "putih" saja.

Pemuda setempat menegaskan bahwa filosofi tersebut diharapkan menjadi pengingat kolektif bagi seluruh warga permukiman. Dalam konteks perayaan HUT ke-81 RI, pemilihan warna tersebut juga menjadi representasi bahwa perjalanan bangsa dan masyarakat tidak terlepas dari berbagai tantangan dan liku yang harus dihadapi bersama. Pesan ini disampaikan bukan untuk mengaburkan semangat kemerdekaan, melainkan untuk memperkuat kesadaran bahwa kebebasan yang diraih harus terus dijaga melalui pengakuan akan realitas kehidupan yang kompleks.

Respons Warga dan Implikasi Sosial

Langkah kreatif dan beda tersebut sontak menyedot perhatian warga sekitar serta pengguna jalan yang melintas di kawasan Pengasinan. Sejumlah warga menyatakan apresiasi terhadap inisiatif para pemuda yang mampu mengekspresikan nasionalisme dengan cara yang tidak konvensional namun tetap berpijak pada nilai-nilai luhur bangsa. Pemandangan jalanan yang dihiasi cat berwarna kuning dan hitam di tengah dominasi dekorasi merah-putih di wilayah lain menjadi penanda bahwa kebhinekaan dalam berekspresi tetap menjadi bagian dari identitas masyarakat Indonesia.

Dengan demikian, perayaan di Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, pada Minggu, 16 Agustus 2026, tidak sekadar menghadirkan estetika visual yang unik, tetapi juga menegaskan kembali pentingnya pemahaman mendalam terhadap makna kemerdekaan. Keputusan untuk tidak menginjak-injak warna Merah-Putih di aspal justru menjadi bentuk penghormatan yang konkret, sementara pesan filosofis kuning-hitam menjadi refleksi kolektif akan perjalanan panjang bangsa dan masyarakat menuju keadilan serta kesejahteraan bersama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User