Wakayama, Jepang — Menilik Proses Produksi Umeshu di Kebun Plum Arimoto

MINABE, WAKAYAMA — Deretan pohon plum hijau membentang di lereng bukit, buahnya masih muda dan akan dipanen pada Juni mendatang. Di sinilah Yohei Arimoto,

Jul 08, 2026 - 16:02
0 0
Wakayama, Jepang — Menilik Proses Produksi Umeshu di Kebun Plum Arimoto

MINABE, WAKAYAMA — Deretan pohon plum hijau membentang di lereng bukit, buahnya masih muda dan akan dipanen pada Juni mendatang. Di sinilah Yohei Arimoto, generasi ketiga keluarga Arimoto, melanjutkan tradisi bertani plum dan memproduksi umeshu yang telah berlangsung sejak era 1920-an.

Liputan6.com berkesempatan mengunjungi kebun seluas 2,5 hektare milik keluarga Arimoto di Kota Minabe, Prefektur Wakayama, pada Selasa (25/3/2025). Perjalanan darat dari Osaka menempuh waktu sekitar 2,5 jam melalui jalur tol Hanwa. Minabe dikenal sebagai “ibu kota plum Jepang” — sekitar 60 persen produksi plum nasional berasal dari wilayah ini, dengan varietas unggulan Nanko-ume.

Yohei Arimoto (45) mewarisi usaha ini dari sang ayah pada 2010. Kini ia mengelola kebun dengan sekitar 400 pohon plum dan pabrik kecil yang memproduksi rerata 8.000 liter umeshu per tahun. Sekitar 30 persen produk diekspor ke Taiwan, Hong Kong, dan Singapura.

“Kunci umeshu yang baik adalah keseimbangan tiga elemen dasar: plum, gula batu, dan alkohol. Kami menggunakan Nanko-ume yang dipanen saat kadar asam puncak, difermentasi minimal satu tahun,”
ujar Yohei saat memandu tur di ruang fermentasi bersuhu terkontrol.

Proses Produksi

  • Panen: Buah dipetik manual pada Juni, saat kadar asam malat mencapai 4–5 persen — ideal untuk umeshu.
  • Sortir: Hanya buah berdiameter 3–4 cm dan tanpa cacat yang lolos. Sisanya diolah menjadi umeboshi (plum asin).
  • Fermentasi: Plum dicampur gula batu dan shochu (destilasi beras) 35 persen dalam tangki keramik selama 10–12 bulan.
  • Penyaringan dan aging: Setelah setahun, cairan disaring dan disimpan tambahan 6 bulan sebelum dibotolkan.

Menurut data Pemerintah Prefektur Wakayama, total produksi plum 2024 mencapai 65.200 ton, dengan nilai ekonomi menyentuh ¥42 miliar (sekitar Rp4,4 triliun). Usaha seperti milik Arimoto tergolong produsen skala menengah, mengandalkan penjualan langsung via daring dan agrowisata.

Tantangan Generasi Ketiga

Yohei mengakui tantangan terbesar adalah perubahan iklim. “Dua tahun terakhir, musim semi tiba lebih cepat 10–14 hari, bunga mekar prematur dan risiko frost meningkat,” jelasnya. Ia mulai bereksperimen dengan penanaman di ketinggian berbeda untuk mengantisipasi fluktuasi suhu yang semakin tajam.

Meski begitu, Yohei optimistis. Permintaan umeshu global tumbuh 12 persen per tahun, didorong tren koktail berbasis bahan alami. Ia berencana menambah kapasitas produksi 20 persen pada 2026 dan memperluas jangkauan ekspor ke Eropa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User