Sep 16, 2026
Jawa Timur

TULUNGAGUNG — Perajin Marmer Naikkan Harga Produk Demi Pasar Ekspor

Suara deru mesin pemotong batu dan denting pahat saling bersahutan di kawasan pusat kerajinan marmer Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Di balik debu-debu

TULUNGAGUNG — Perajin Marmer Naikkan Harga Produk Demi Pasar Ekspor

Suara deru mesin pemotong batu dan denting pahat saling bersahutan di kawasan pusat kerajinan marmer Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Di balik debu-debu putih yang membumbung di udara, para perajin lokal kini harus memutar otak lebih keras. Gelombang dinamika ekonomi global, terutama penguatan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah serta melambungnya biaya energi, memaksa para pelaku usaha menyesuaikan tarif jual karya seni batu alam mereka agar roda produksi tidak berhenti berputar.

Kendati dihadapkan pada pembengkakan modal usaha, denyut industri kreatif di kota yang dijuluki Kota Marmer ini menolak redup. Penyesuaian harga menjadi langkah realistis yang tidak bisa dihindari demi menjaga kelangsungan operasional pabrik dan kesejahteraan para pengrajin lokal.

Tekanan Biaya Produksi dan Pembengkakan Kurs Dolar

Kenaikan harga bahan bakar dan tarif listrik industri berimbas langsung pada seluruh rantai pasok manufaktur marmer. Mulai dari proses penambangan bahan baku di pegunungan kapur, transportasi material mentah, hingga tahap pemotongan dan penghalusan akhir, semuanya membutuhkan energi dalam jumlah besar. Di sisi lain, menguatnya mata uang dolar AS turut mendongkrak harga suku cadang mesin impor serta bahan kimia pendukung penyerapan warna dan pemolesan.

Akibatnya, para pengusaha sepakat untuk menaikkan harga jual produk kerajinan marmer. Jika sebelumnya kerajinan dijual pada kisaran Rp25.000 hingga Rp130.000 per unit, kini harganya merangkak naik menjadi Rp35.000 hingga Rp150.000 per unit, tergantung pada ukuran, tingkat kesulitan ukiran, dan kualitas batuan yang digunakan.

"Kami tidak punya pilihan selain menyesuaikan harga jual. Biaya operasional, terutama BBM untuk alat berat dan tarif listrik mesin pemotong, naik cukup signifikan. Namun, kami berjanji tidak akan mengurangi standar kualitas sedikit pun demi kepuasan pelanggan," ujar salah seorang pelaku usaha marmer di Tulungagung.

Daya Tahan Tinggi di Pasar Ekspor Mancanegara

Menariknya, lonjakan harga tersebut tidak surut menghentikan minat pembeli mancanegara. Produk-produk marmer khas Tulungagung—mulai dari wastafel, patung hiasan, meja, vandel, hingga hiasan interior premium—tetap menjadi primadona di pasar internasional. Para pembeli asing memahami bahwa marmer Tulungagung memiliki karakteristik serat dan ketahanan fisik yang unik yang sulit ditandingi oleh produsen dari negara lain.

Permintaan ekspor yang stabil berasal dari tiga kawasan utama, yakni:

  • Amerika Serikat: Menggemari produk dekorasi rumah berdesain minimalis dan aksesoris kamar mandi dari batu alam.
  • Eropa: Banyak memesan patung ukir artistik dan elemen arsitektur klasik bernilai seni tinggi.
  • Tiongkok: Membutuhkan komoditas marmer mentah dan olahan setengah jadi untuk memenuhi kebutuhan proyek properti skala besar.

Kepercayaan pembeli luar negeri terhadap mutu marmer lokal membuat pesanan tetap mengalir deras meski harga mengalami penyesuaian. Faktor nilai tukar mata uang asing yang kuat justru memberi sedikit ruang bernapas bagi transaksi ekspor berbasis dolar AS.

Analisis Perbandingan Harga dan Penyesuaian Komponen Biaya

Berikut adalah perincian penyesuaian harga dan faktor pendorong utama dalam industri marmer Tulungagung saat ini:

Kategori Perubahan Sebelum Penyesuaian Setelah Penyesuaian Faktor Pendorong Utama
Rentang Harga Jual Rp25.000 - Rp130.000 / unit Rp35.000 - Rp150.000 / unit Penguatan Dolar AS & Harga Energi
Pasar Utama Lokal & Ekspor Tentatif Fokus Ekspor (AS, Eropa, China) Daya Beli Pasar Global Tetap Tinggi
Strategi Produksi Kuantitas Masal Efisiensi Energi & Kualitas Premium Mengantisipasi Lonjakan Modal Operasional

Menjaga Eksistensi Industri Warisan Leluhur

Langkah berani memertahankan produksi di tengah himpitan ekonomi ini menunjukkan ketangguhan UMKM sektor kerajinan batu alam di Jawa Timur. Komitmen untuk terus menggapai pasar mancanegara terbukti mampu membentengi ekosistem usaha lokal dari ancaman gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) pada sektor manufaktur.

Para perajin berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat memberikan imbal bantuan berupa subsidi alat produksi modern yang lebih hemat energi serta kemudahan regulasi ekspor. Dengan dukungan infrastruktur dan stabilitas biaya modal, industri marmer Tulungagung optimistis dapat terus mengukir prestasi di kancah perdagangan internasional sekaligus menghidupi ribuan keluarga yang menggantungkan mata pencahariannya pada kilau batu marmer.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS dimas-permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Comments (0)

User