SURABAYA, APABERITA.COM — Insiden terbaliknya Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Virgo Transport 8 di perairan Indonesia kembali membuka tabir persoalan kelaiklautan armada kapal bekas impor. Pakar Hidrodinamika dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof Ir I Ketut Aria Pria Utama, memberikan sorotan tajam terkait aspek performa kapal di laut atau seakeeping yang dinilai menjadi salah satu faktor kunci dalam tragedi tersebut.
Menurut Prof Ketut Aria, kapal-kapal buatan Jepang umumnya dirancang secara spesifik untuk kondisi gelombang dan karakter perairan pedalaman maupun perairan pantai Jepang. Ketika kapal-kapal tersebut dioperasikan di wilayah Indonesia tanpa penyesuaian desain hidrodinamika yang matang, potensi risiko kecelakaan saat menerjang cuaca buruk menjadi sangat tinggi.
Evaluasi Aspek Seakeeping dan Stabilitas Kapal
Dalam ilmu teknik perkapalan, performa kapal saat beroperasi di atas gelombang atau seakeeping sangat menentukan keselamatan penumpang maupun muatan. Insiden terbaliknya Virgo Transport 8 mengindikasikan adanya ketidakmampuan kapal dalam meredam gerakan ekstrem akibat gelombang laut Indonesia yang memiliki periode dan arah terjal.
Prof Ketut Aria menjelaskan bahwa terdapat beberapa variabel utama yang memengaruhi kestabilan kapal penyeberangan saat mengarungi laut lepas:
- Respon Oleng (Roll Motion): Kemampuan kapal untuk menahan poyangan samping saat berpapasan dengan puncak gelombang berturut-turut.
- Perubahan Titik Berat (Center of Gravity): Penataan kendaraan di atas geladak yang tidak sesuai dengan perhitungan garis air dasar pabrikan asli.
- Modifikasi Konstruksi: Penambahan struktur bangunan atas (superstructure) atau dek tambahan yang dapat menaikkan titik berat kapal secara signifikan.
Perbedaan Karakteristik Perairan Jepang dan Indonesia
Kapal Virgo Transport 8 yang dibangun dengan standar rancang bangun Jepang menghadapi tantangan lingkungan yang berbeda ketika berlayar di laut Nusantara. Karakteristik gelombang di perairan Jepang umumnya memiliki pola gelombang alun (swell) yang relatif lebih teratur dibandingkan spektrum gelombang pendek dan terjal di perairan kepulauan Indonesia.
"Desain kapal asal Jepang sangat unggul untuk perairan asalnya. Namun, ketika dipindahkan ke perairan Indonesia dengan dinamika arus selat yang kuat serta gelombang pendek terjal, performa hidrodinamika kapal harus dihitung ulang secara komprehensif, bukan sekadar memperbarui sertifikat kelaikan," tegas Prof Ketut Aria.
Analisis teknis menunjukkan bahwa perubahan kondisi operasional dari laut tenang ke perairan terbuka sering kali memicu fenomena parametric rolling. Fenomena ini terjadi saat kapal mengalami oleng ekstrem secara mendadak akibat frekuensi gelombang yang bertabrakan dengan frekuensi alami stabilitas kapal.
Rekomendasi Pengetatan Evaluasi Kelaiklautan
Untuk mencegah terulangnya tragedi pelayaran serupa di masa mendatang, akademisi maritim mendesak otoritas keselamatan pelayaran untuk memperketat audit teknis terhadap seluruh armada kapal bekas impor yang beroperasi di jalur penyeberangan nasional.
- Audit Stabilitas Ulang: Mewajibkan pengujian kemiringan (inclining test) secara berkala bagi kapal penyeberangan buatan luar negeri yang telah mengalami modifikasi.
- Simulasi Hidrodinamika Digital: Menggunakan perangkat lunak Computational Fluid Dynamics (CFD) untuk memodelkan respons kapal pada tinggi gelombang ekstrem perairan Indonesia.
- Pengawasan Distribusi Muatan: Mengetatkan pengawasan penataan tonase kendaraan di atas geladak demi mempertahankan margin stabilitas positif.
Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) diharapkan segera mengintegrasikan analisis hidrodinamika dari akademisi guna menyempurnakan standar regulasi keselamatan pelayaran nasional secara menyeluruh.
Comments (0)