Tuchel Akui Keberuntungan Usai Inggris Lolos Semifinal Piala Dunia 2026
Los Angeles, 12 Juli 2026 — Tim Nasional Inggris memastikan tiket ke semifinal Piala Dunia 2026 setelah menumbangkan Brasil dengan skor tipis 2-1 dalam laga perempat final yang berlangsung di SoFi S...
Los Angeles, 12 Juli 2026 — Tim Nasional Inggris memastikan tiket ke semifinal Piala Dunia 2026 setelah menumbangkan Brasil dengan skor tipis 2-1 dalam laga perempat final yang berlangsung di SoFi Stadium, Los Angeles, Sabtu malam waktu setempat. Meski meraih kemenangan, Pelatih Kepala Thomas Tuchel justru melontarkan kritik pedas terhadap performa anak asuhnya dan menyebut kelolosan tersebut tak lepas dari faktor keberuntungan.
Kemenangan yang Diwarnai Kontroversi
Gol kemenangan Inggris lahir pada menit ke-88 melalui titik penalti yang dieksekusi oleh Harry Kane. Wasit asal Meksiko, César Arturo Ramos, menunjuk titik putih setelah VAR mengonfirmasi adanya handball yang dilakukan bek Brasil, Marquinhos, di dalam kotak terlarang. Keputusan itu memicu protes keras dari kubu Brasil, namun hasil akhir tetap berpihak kepada The Three Lions. Sebelumnya, Brasil unggul lebih dulu melalui sepakan Vinícius Júnior pada menit ke-23, yang kemudian disamakan oleh Jude Bellingham pada menit ke-57 lewat skema serangan balik cepat.
Statistik pertandingan menunjukkan dominasi Brasil dalam penguasaan bola sebesar 58 persen dan total 17 tembakan berbanding 9 milik Inggris. Jumlah umpan sukses dan peluang bersih juga lebih banyak diciptakan oleh tim asuhan Dorival Júnior. Realitas di atas lapangan inilah yang membuat Tuchel enggan merayakan kemenangan secara berlebihan.
“Kami Cuma Beruntung”
Dalam konferensi pers pasca pertandingan, Thomas Tuchel secara blak-blakan menilai bahwa timnya tidak layak menang jika melihat jalannya pertandingan secara utuh. Ia tidak menutupi kekecewaannya terhadap organisasi permainan Inggris yang dinilainya jauh dari standar yang diinginkan.
“Jujur, saya tidak puas. Kami tidak bermain di level yang seharusnya. Brasil jauh lebih baik dalam membangun serangan dan mengontrol tempo. Kami hanya beruntung mendapatkan penalti di akhir laga. Jika ingin juara, performa seperti ini tidak bisa diulangi,”
tegas mantan pelatih Chelsea dan Bayern München tersebut.
Tuchel juga menyoroti lemahnya lini tengah Inggris dalam memutus aliran bola Brasil. Ia menyebut duet Declan Rice dan Jude Bellingham terlalu sering meninggalkan ruang yang dieksploitasi oleh Lucas Paquetá dan Bruno Guimarães. Meski Bellingham mencetak gol penyama kedudukan, Tuchel menilai kontribusi bertahannya masih jauh panggang dari api.
“Jude adalah pemain luar biasa, tetapi malam ini ia dan Declan terlalu ofensif. Kami kehilangan keseimbangan. Lawan berikutnya tidak akan memberi kami kesempatan kedua jika kami tampil serapuh ini,”
tambahnya.
Jalan Terjal Menuju Trofi
Dengan hasil ini, Inggris akan menghadapi pemenang laga antara Prancis dan Belanda di babak semifinal yang dijadwalkan berlangsung pada 16 Juli 2026 di Stadion MetLife, New Jersey. Tuchel menegaskan bahwa skuadnya harus segera membenahi kelemahan fundamental sebelum bertemu lawan sekelas finalis Piala Dunia 2022 atau tim kolektif sekelas Belanda.
Rekam jejak Inggris di turnamen ini sejatinya cukup meyakinkan. Mereka keluar sebagai juara Grup F dengan poin sempurna, menyingkirkan Kroasia di babak 16 besar melalui drama adu penalti, dan kini mengatasi Brasil. Akan tetapi, konsistensi permainan dari laga ke laga masih menjadi tanda tanya besar. Tuchel menyebut bahwa timnya belum pernah menampilkan performa dominan selama 90 menit penuh di turnamen ini.
“Kami harus jujur pada diri sendiri. Sejauh ini kami selalu menemukan cara untuk menang, tetapi cara itu tidak selalu berasal dari struktur permainan yang bagus. Kadang dari keberuntungan, kadang dari momen individu. Di semifinal, itu tidak akan cukup,”
ujarnya.
Skuad Inggris dijadwalkan menjalani sesi pemulihan dan analisis video pada Minggu pagi waktu setempat. Tuchel bersama staf pelatih akan memanfaatkan waktu tiga hari ke depan untuk meramu strategi yang lebih solid. Ia juga mengindikasikan kemungkinan perubahan susunan pemain, terutama di sektor gelandang, guna mengembalikan keseimbangan antara menyerang dan bertahan.
Tekanan terhadap Tuchel memang tidak kecil. Ekspektasi publik Inggris yang haus gelar juara dunia selama enam dekade membuat setiap kemenangan selalu diiringi tuntutan permainan yang meyakinkan. Kritik pedas yang dilontarkan Tuchel kepada timnya sendiri bisa jadi merupakan upaya menjaga fokus dan mencegah euforia berlebihan di internal skuad.
Sementara itu, di kubu Brasil, kekalahan ini menjadi akhir dari perjalanan mereka yang sebelumnya digadang-gadang sebagai salah satu kandidat juara. Pelatih Dorival Júnior menyayangkan keputusan penalti, namun mengakui bahwa timnya gagal memaksimalkan peluang yang dimiliki.
Inggris kini hanya tinggal selangkah lagi menuju partai puncak di MetLife Stadium pada 23 Juli mendatang. Apakah kritik keras Tuchel mampu membangkitkan performa terbaik The Three Lions, atau justru menjadi tanda kerapuhan yang akan terekploitasi oleh lawan berikutnya, akan menjadi jawaban yang ditunggu dalam empat hari ke depan.
Baca juga:
Comments (0)