JAKARTA — Tim Search and Rescue (SAR) gabungan secara masif memperluas kawasan pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal yang dinyatakan hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Operasi penyisiran yang memfokuskan area di sekitar Pulau Sertung, Banten, tersebut terus diintensifkan hingga Jumat (11/9/2026).
Insiden hilangnya rombongan insan pers tersebut mengundang keprihatinan publik secara luas. Berdasarkan informasi yang dihimpun, para jurnalis bertugas mengambil rekaman visual serta melaporkan peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau sebelum akhirnya memutus komunikasi secara tiba-tiba di sekitar perairan Selat Sunda.
Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, mengonfirmasi bahwa tim di lapangan telah melakukan pengamatan visual secara ketat dari berbagai titik strategis menggunakan teropong jarak jauh. Kendati demikian, hingga saat ini belum ditemukan tanda-tanda fisik keberadaan para korban maupun keberadaan perahu yang mereka tumpangi.
Analisis Medan dan Tantangan Evakuasi di Zona Bahaya
Pencarian secara langsung di atas daratan Pulau Sertung hingga kini belum dapat direalisasikan secara penuh akibat kendala keselamatan. Pulau Sertung terletak di area yang sangat krusial, yakni berada persis di dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau. Kawasan tersebut masih dikategorikan sebagai zona merah berpotensi bahaya tinggi oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
"Untuk Pulau Sertung, itu memasuki radius 3 km ya, data dari PVMBG menyatakan bahwa itu masih daerah rawan, tetapi kami akan tetap berupaya bisa masuk ke situ," ujar Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, dalam keterangannya.
Ancaman lontaran material pijar, gas beracun, serta hempasan gelombang tinggi di perairan Selat Sunda menuntut kewaspadaan ganda dari seluruh personil evakuasi. Oleh karena itu, skenario pemetaan dilakukan dengan memadukan penyisiran air serta pemantauan udara guna meminimalkan risiko terhadap tim penolong.
Kronologi dan Skala Operasi SAR Gabungan
Operasi pencarian ini melibatkan koordinasi lintas sektoral yang mengerahkan sumber daya secara maksimal. Berikut adalah urutan serta langkah taktis yang ditempuh oleh tim SAR gabungan dalam pencarian korban:
- Pemantauan Visual Awal: Tim memulainya dengan melakukan pengamatan jarak jauh dari beberapa titik pemantau di pesisir Banten dan pulau-pulau aman sekitar.
- Penyisiran Bersama Nelayan Lokal: Memanfaatkan pengetahuan navigasi warga setempat, tim SAR bersama nelayan menyisir gugusan pulau kecil di luar radius bahaya utama.
- Mobilisasi Armada Besar: Sebanyak 11 unit kapal patroli dan penyelamat dikerahkan ke titik-titik krusial di Selat Sunda.
- Pengerahan Ratusan Personel: Sedikitnya 300 personel dari unsur Basarnas, TNI AL, Polairud, dan sukarelawan bencana diterjunkan ke lokasi pencarian.
- Penemuan Petunjuk Awal: Unsur TNI AL berhasil menemukan satu buah pelampung keselamatan di perairan Anyer yang diduga berkaitan dengan perahu rombongan jurnalis.
Ringkasan Parameter Operasi Pencarian
| Parameter Operasi | Rincian Data | Keterangan Tambahan |
|---|---|---|
| Total Korban Hilang | 8 Orang | 5 Jurnalis dan 3 Kru Kapal |
| Armada Dikerahkan | 11 Kapal | Kapal Penyisir Basarnas & TNI AL |
| Kekuatan Personel | 300 Personel | Tim SAR Gabungan & Nelayan |
| Batas Radius Rawan | 3 Kilometer | Zona Merah Penetapan PVMBG |
| Lokasi Fokus Utama | Pulau Sertung | Perairan Sekitar Selat Sunda |
Prospek Pencarian dan Sinergi Mitigasi Bencana
Mengingat karakteristik Gunung Anak Krakatau yang sangat dinamis, evaluasi keselamatan operasional dilakukan secara berkala tiap jamnya. Kordinasi ketat antara Basarnas dan PVMBG menjadi kunci utama dalam menentukan momen yang tepat bagi tim pencari untuk merapat ke Pulau Sertung tanpa membahayakan nyawa personel.
Pihak berwenang mengimbau seluruh perahu nelayan maupun awak media lainnya untuk mematuhi rekomendasi jarak aman navigasi. Operasi pencarian dipastikan terus berlanjut hingga seluruh korban dapat dipastikan keberadaannya.
Comments (0)