Thayeb Gobel dan Program AURA BRI Berdayakan Wanita Tani Bogor
Jakarta - Di tengah hiruk-pikuk dunia bisnis yang seringkali terjebak pada pengejaran profit semata, kearifan lokal dari seorang maestro industri nasional,
Jakarta - Di tengah hiruk-pikuk dunia bisnis yang seringkali terjebak pada pengejaran profit semata, kearifan lokal dari seorang maestro industri nasional, Thayeb Mohammad Gobel, terus bergema. Sosok di balik kesuksesan perusahaan elektronik nasional itu meyakini bahwa bisnis sejati haruslah menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Filosofi inilah yang membawanya dari seorang pedagang kecil di Gorontalo menjadi pengusaha besar yang produknya merakyat.
Namun, benih pemikiran itu tidak berhenti pada era Gobel. Kini, semangat bisnis berbasis manfaat menemukan wujudnya dalam program pemberdayaan perempuan di pelosok Bogor, Jawa Barat. Lewat inisiatif AURA BRI Peduli, sekelompok wanita tani di Desa Mysari berhasil mengubah komoditas pala lokal menjadi produk bernilai tambah, menciptakan kemandirian ekonomi yang nyata.
Filosofi Bisnis Gobel: Manfaat di Atas Segalanya
Almarhum Thayeb Mohammad Gobel dikenal sebagai pendiri PT Gobel International, perusahaan yang memproduksi berbagai barang elektronik, terutama radio dan televisi dengan merek nasional. Namun, rahasia kesuksesannya bukan terletak pada kecanggihan teknologi semata, melainkan pada prinsip sederhana yang ia pegang teguh.
"Bisnis harus bermanfaat bagi masyarakat. Jika produk kita berguna dan terjangkau, maka masyarakat akan mencintainya, dan rezeki akan mengalir dengan sendirinya,"
demikian petuah Gobel yang kerap dikutip dalam berbagai forum kewirausahaan.
Bagi Gobel, kebermanfaatan sosial adalah landasan yang membedakan entrepreneur sejati dari sekadar pemburu laba. Produk-produknya dirancang untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga Indonesia, seperti radio transistor yang kala itu menjadi jendela informasi dan hiburan. Dengan harga yang bersaing dan kualitas teruji, mereknya merebut hati konsumen hingga pelosok negeri. Kesuksesan Gobel mengajarkan bahwa bisnis yang berpijak pada kebutuhan masyarakat justru lebih tahan banting terhadap krisis dan persaingan.
Program AURA BRI: Menyalakan Lentera Pemberdayaan Perempuan
Berjarak ribuan kilometer dari masa kejayaan Gobel, tepatnya di kawasan Bogor, filosofi serupa dihidupkan kembali melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Bina Tani Mysari Pala. Kelompok ini beranggotakan puluhan ibu rumah tangga yang setiap hari bergelut dengan pala, rempah andalan daerah mereka. Jika dulu pala hanya dijual mentah dengan harga fluktuatif, sekarang melalui pendampingan dari program AURA (Akselerasi Usaha Rakyat) BRI Peduli, para perempuan ini mampu mengolahnya menjadi aneka produk bernilai tambah: sirup pala, manisan, minyak atsiri, hingga bumbu masak premium.
Program AURA BRI Peduli sendiri merupakan wujud tanggung jawab sosial perusahaan BUMN tersebut yang menyasar pengembangan usaha mikro dan kecil, khususnya yang dikelola oleh perempuan. Pendekatannya tidak hanya sebatas pemberian modal, tetapi juga pelatihan manajemen usaha, peningkatan kapasitas produksi, hingga strategi pemasaran digital.
Dari program ini, KWT Bina Tani Mysari Pala berhasil menembus pasar yang lebih luas. Produk olahan pala mereka kini terjual tidak hanya di pasar tradisional, tetapi juga merambah ke marketplace dan pameran skala nasional. Volume penjualan dikabarkan melonjak hingga dua kali lipat dalam enam bulan terakhir, menandakan bahwa konsumen semakin menghargai produk lokal berkualitas. Pendapatan anggota kelompok pun meningkat rata-rata 40%, memberi dampak langsung pada kesejahteraan keluarga.
Sinergi Dua Lintasan: Dari Pabrikan Nasional Hingga Dapur Perempuan Desa
Meski beroperasi pada skala yang berbeda, kesamaan benang merah antara pendekatan Thayeb Gobel dan program AURA BRI Peduli sangat jelas: keduanya menempatkan kemaslahatan masyarakat sebagai inti dari aktivitas bisnis. Gobel membangun industri yang melayani kebutuhan informasi rakyat, sementara AURA BRI memberdayakan perempuan agar mampu mengelola sumber daya lokal secara mandiri.
Menurut pengamat ekonomi, model bisnis berbasis manfaat seperti ini sejatinya menciptakan lingkaran ekonomi yang berkelanjutan. Ketika usaha kecil tumbuh, maka rantai pasok lokal bergerak, konsumsi rumah tangga meningkat, dan pada akhirnya menggerakkan perekonomian daerah. Inilah yang disebut ekonomi kerakyatan yang nyata, bukan sekadar jargon.
Di tingkat global, tren bisnis sosial (social business) juga semakin digaungkan. Tokoh seperti Muhammad Yunus dengan Grameen Bank-nya membuktikan bahwa pendekatan bisnis yang berpihak pada kaum marginal bisa sukses secara finansial sekaligus memberantas kemiskinan. Thayeb Gobel, jauh sebelum booming konsep social enterprise, sudah menerapkan prinsip ini di Indonesia.
Pemberdayaan ala AURA BRI pun demikian. Dengan membidik segmen perempuan—yang kerap menjadi motor penggerak sekaligus korban ketimpangan ekonomi—program ini langsung menyasar akar permasalahan. Perempuan yang terampil dan berpenghasilan sendiri cenderung mengalokasikan pendapatannya untuk pendidikan anak dan perbaikan gizi keluarga, menciptakan efek ganda (multiplier effect) yang signifikan.
Tantangan dan Harapan
Tentu, baik pabrikan nasional maupun kelompok tani menghadapi tantangan serupa: persaingan produk impor, fluktuasi harga bahan baku, dan keterbatasan akses permodalan. Namun, dengan landasan filosofi yang kuat, mereka mampu beradaptasi. Gobel di masanya gencar melakukan inovasi produk dan membangun jaringan distribusi hingga ke pelosok. Sementara itu, KWT Bina Tani Mysari Pala dengan dukungan BRI mulai menerapkan teknologi sederhana untuk meningkatkan efisiensi pengolahan dan mempercantik kemasan produk agar bersaing di rak modern.
Ke depan, diharapkan semakin banyak korporasi besar yang meneladani sinergi ini: memadukan warisan kearifan lokal para pendahulu dengan inovasi program CSR yang terukur dan berkelanjutan. Karena pada akhirnya, bisnis yang sesungguhnya bukanlah tentang menumpuk modal sebesar-besarnya, melainkan tentang bagaimana kapital itu bisa mengalir dan menyejahterakan sebanyak mungkin manusia. Sebagaimana pesan Thayeb Gobel yang abadi: "Bisnis harus bermanfaat bagi masyarakat."
Melalui program AURA BRI Peduli, pesan itu kini menemukan nafas baru di tangan para perempuan Bogor.
[SOCIAL_TWEET]: Filosofi bisnis Thayeb Gobel yang menekankan manfaat bagi masyarakat kini terwujud di Bogor. Lewat program AURA BRI Peduli, wanita tani mengolah pala jadi produk bernilai tambah. #PemberdayaanPerempuan #BRI #EkonomiKerakyatan[SOCIAL_TG]: ✨ Filosofi Bisnis Gobel Hadir di Bogor! Wanita tani olah pala jadi cuan lewat AURA BRI. Cek kisahnya!
Comments (0)