Telkomsat Gandeng Univity Kembangkan Satelit Generasi Mutakhir

Jakarta, Apaberita – PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat) dan Univity, perusahaan penyedia infrastruktur konektivitas berbasis antariksa asal Amerika Serikat, secara resmi menandatangani perjanji...

Jul 13, 2026 - 21:26
0 1

Jakarta, Apaberita – PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat) dan Univity, perusahaan penyedia infrastruktur konektivitas berbasis antariksa asal Amerika Serikat, secara resmi menandatangani perjanjian kerja sama strategis untuk menjajaki pengembangan satelit generasi baru. Kesepakatan yang diteken di Kantor Pusat Telkomsat, Jakarta, Kamis (20/3/2025), ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat kapasitas nasional di sektor telekomunikasi satelit, sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang mendorong kedaulatan infrastruktur digital.

Direktur Utama Telkomsat, Lukman Hakim, menyatakan bahwa kolaborasi tersebut diarahkan untuk merancang satelit generasi terkini yang mampu menghadirkan kapasitas besar dan latensi rendah, khususnya menjawab kebutuhan konektivitas di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). "Kami tidak sekadar membeli satelit, tetapi bersama-sama mengkaji desain yang paling sesuai dengan karakteristik geografis Indonesia," tegas Lukman dalam keterangan tertulis yang diterima Apaberita. Penjajakan ini, lanjutnya, akan mencakup aspek teknologi, model bisnis, hingga skema pendanaan.

Lingkup dan Target Pengembangan

Berdasarkan dokumen Nota Kesepahaman yang diakses Apaberita, kedua pihak sepakat membentuk tim teknis gabungan untuk melakukan studi kelayakan selama enam bulan ke depan. Kajian akan berfokus pada arsitektur satelit high throughput satellite (HTS) yang dipadukan dengan konfigurasi orbit rendah (low earth orbit/LEO) atau orbit menengah (medium earth orbit/MEO). Telkomsat, yang saat ini mengoperasikan tiga satelit geostasioner, memproyeksikan satelit baru akan meluncur pada 2028.

Presiden Univity, Robert Chen, yang hadir secara virtual dalam seremoni tersebut, menegaskan komitmen perusahaannya untuk mentransfer pengetahuan dan teknologi. "Kami melihat Indonesia sebagai pasar strategis dengan pertumbuhan permintaan konektivitas yang sangat dinamis. Model kemitraan ini akan mempercepat adopsi satelit generasi mutakhir tanpa membebani keuangan negara secara berlebihan," ujarnya. Univity sebelumnya terlibat dalam pembangunan konstelasi LEO berkapasitas 1,2 Tbps yang melayani kawasan Asia Pasifik.

Selain aspek teknis, penjajakan juga menyentuh pemanfaatan frekuensi. Telkomsat akan mengusulkan pita Ka-band dan Q/V-band kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) untuk mengoptimalkan throughput. Langkah ini sejalan dengan hasil Rapat Koordinasi Nasional Telekomunikasi 2024 yang merekomendasikan percepatan migrasi ke spektrum frekuensi tinggi guna mendukung layanan broadband satelit.

Dukungan Kebijakan dan Regulasi

Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie Setiadi, dalam kesempatan terpisah menyambut baik inisiatif Telkomsat. "Pemerintah sedang merampungkan revisi Peraturan Pemerintah tentang Penyelenggaraan Satelit yang akan memberikan kepastian hukum bagi investasi di sektor ini," kata Budi Arie. Ia menambahkan bahwa Kemenkominfo tengah menyusun peta jalan satelit nasional 2025—2035 yang menempatkan kolaborasi dengan mitra global sebagai salah satu pilar utama.

Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), yang membidangi investasi dan BUMN, juga memberikan sinyal positif. Ketua Komisi VI, Faisol Riza, menyatakan dukungannya terhadap langkah Telkomsat sepanjang memenuhi prinsip kemandirian nasional. "Kami akan mengawasi agar kerja sama ini tidak sekadar menjadi proyek turnkey, melainkan benar-benar membangun kompetensi dalam negeri," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat di Kompleks Parlemen, Senayan, awal pekan ini.

Payung hukum yang tersedia, antara lain Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi dan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan, dinilai telah cukup akomodatif. Meski demikian, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika, Ismail, mengakui perlunya penyesuaian aturan teknis, terutama terkait dengan pengelolaan space debris dan koordinasi orbit. "Kami akan segera menerbitkan Peraturan Menteri yang mengadopsi standar internasional untuk memastikan keberlanjutan lingkungan antariksa," ujarnya.

Dampak bagi Perekonomian dan Konektivitas Nasional

Kolaborasi Telkomsat-Univity diproyeksikan berdampak langsung pada percepatan transformasi digital di sektor maritim, pendidikan, dan kesehatan. Satelit generasi baru dengan kapasitas hingga 500 Gbps akan memungkinkan penyediaan akses internet cepat di lebih dari 10.000 desa yang selama ini belum terjangkau jaringan fiber optik. Peneliti Lembaga Penelitian dan Pengembangan Telematika, Andi Surya, menilai proyek ini dapat menekan biaya bandwidth hingga 30 persen dibandingkan mengandalkan satelit asing.

Dari sisi ekonomi, investasi awal yang ditaksir mencapai 450 juta dolar AS diharapkan menciptakan ribuan lapangan kerja langsung dan mendorong tumbuhnya industri komponen satelit di dalam negeri. "Telkomsat sudah menjalin komunikasi dengan beberapa BUMN strategis untuk ikut serta dalam rantai pasok, seperti PT Dirgantara Indonesia dan PT Len Industri," ungkap Lukman. Hal tersebut sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2024 tentang Percepatan Pemanfaatan Produk Dalam Negeri.

Dengan rampungnya studi kelayakan pada September 2025 mendatang, Telkomsat menargetkan keputusan investasi final dapat diambil pada Rapat Umum Pemegang Saham triwulan keempat tahun ini. Jika berjalan sesuai rencana, Indonesia akan memiliki satelit generasi terbaru yang tak hanya memperkuat tulang punggung telekomunikasi, tetapi juga mengukuhkan posisi sebagai pemain kunci dalam ekonomi antariksa di Asia Tenggara.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User