Swiss Incar Kemenangan Perdana Atas Argentina, Peran Messi Dikunci

Tim nasional Swiss bertekad memutus rekor buruk saat menjamu Argentina dalam laga persahabatan internasional di Stadion Wankdorf, Bern, Jumat dini hari WIB. Laga ini menjadi momentum bagi Nati—juluk...

Jul 12, 2026 - 04:36
0 1
Swiss Incar Kemenangan Perdana Atas Argentina, Peran Messi Dikunci

Tim nasional Swiss bertekad memutus rekor buruk saat menjamu Argentina dalam laga persahabatan internasional di Stadion Wankdorf, Bern, Jumat dini hari WIB. Laga ini menjadi momentum bagi Nati—julukan Swiss—untuk membuktikan bahwa era dominasi Argentina telah berakhir, sekaligus membangun kepercayaan diri jelang Kualifikasi Piala Dunia 2026. Sejarah mencatat, dalam tujuh pertemuan sejak 1966, Swiss tak pernah sekalipun meraih kemenangan. Rekor itu menjadi beban sekaligus pemicu bagi anak asuh Murat Yakin.

Berdasarkan arsip FIFA, pertemuan perdana kedua tim terjadi di fase grup Piala Dunia 1966 di Inggris, yang dimenangkan Argentina 2-0. Setelah itu, laju Albiceleste terus melaju: kemenangan 5-0 di laga uji coba 1979, kemenangan 3-1 di Piala Dunia 1986, serta hasil imbang 1-1 pada 2007 dan 2012. Puncaknya terjadi di babak 16 besar Piala Dunia 2014, saat gol tunggal Ángel Di María—berkat assist Lionel Messi—membawa Argentina menang 1-0 dan mengakhiri perjalanan Swiss di Brasil. Total, Argentina mengoleksi empat kemenangan dan tiga hasil imbang, sementara Swiss belum sekalipun merayakan kemenangan dalam 58 tahun sejarah rivalitas ini.

Bagi Swiss, angka itu bukan sekadar statistik. “Kami tidak boleh terjebak romantisme masa lalu. Yang terpenting adalah apa yang kami lakukan di lapangan nanti,” ujar Yakin dalam konferensi pers pra-pertandingan. “Argentina punya kualitas individu luar biasa, tapi kami telah menganalisis pola permainan mereka dan percaya ada celah yang bisa dieksploitasi.”

Rekor Kelam dan Ambisi Kebangkitan

Meski tak pernah menang, Swiss menunjukkan peningkatan performa dalam dua pertemuan terakhir—keduanya berakhir imbang. Pada laga uji coba 2007 di Swiss, Alexander Frei menyamakan kedudukan setelah tertinggal lebih dulu. Lima tahun kemudian, di markas Argentina, Swiss mampu menahan imbang 1-1 lewat gol Blerim Džemaili. Hasil itu menjadi modal psikologis bahwa jarak kualitas antara kedua tim kian menipis.

“Kami sudah sangat dekat pada 2012 dan 2014. Sekarang kami di rumah sendiri, dengan dukungan penuh suporter. Inilah saatnya,” ujar kapten Granit Xhaka kepada media setempat. Xhaka menekankan bahwa rekor buruk justru menjadi bahan bakar untuk tampil lebih agresif. “Kami ingin menulis sejarah baru, bukan sekadar mengenang kekalahan.”

Messi: Moncer yang Tak Bisa Diabaikan

Di sisi Argentina, Lionel Messi tetap menjadi figur sentral yang mendapat pengawalan ketat. Penyerang Inter Miami itu telah mengemas 106 gol dalam 180 penampilan untuk timnas, dan selalu terlibat dalam kemenangan atas Swiss—baik sebagai pencetak gol maupun kreator serangan. Assistnya untuk gol Di María pada 2014 masih melekat di ingatan publik Swiss.

Namun, Yakin menegaskan bahwa rencananya bukan hanya menghentikan Messi. “Messi adalah pemain terbaik sepanjang masa, tapi Argentina bukan hanya Messi. Kami harus disiplin secara kolektif. Jika terlalu fokus pada satu pemain, pemain lain seperti Julián Álvarez atau Enzo Fernández akan menghukum kami,” kata Yakin. Ia mengindikasikan akan menerapkan pressing bertahap dan penjagaan zona untuk membatasi ruang gerak Messi di sepertiga akhir lapangan.

Strategi Baru dan Eksploitasi Kelemahan Argentina

Staf kepelatihan Swiss telah meramu formula untuk mengeksploitasi kelemahan Argentina—terutama saat bertransisi dari menyerang ke bertahan. Berdasarkan analisis internal, lini belakang Argentina, yang diisi Nicolás Otamendi dan Cristian Romero, kerap meninggalkan ruang di belakang ketika full-back naik membantu serangan. Celah inilah yang ditarget oleh kecepatan Xherdan Shaqiri dan Noah Okafor di sayap.

“Kami akan bermain dengan intensitas tinggi sejak menit awal. Argentina tidak nyaman jika ditekan. Kami harus berani mengambil risiko,” ujar asisten pelatih Swiss. Dalam sesi latihan tertutup, Yakin menerapkan formasi 3-4-2-1 yang fleksibel: saat kehilangan bola, dua gelandang serang akan turun membentuk blok 5-4-1 untuk menutup ruang operan Messi. Skema ini telah diuji coba pada pertandingan internal dan dinilai efektif meredam pergerakan playmaker sekaliber Messi.

Kelemahan lain yang diincar adalah situasi bola mati. Data dari laga-laga terakhir Argentina menunjukkan rata-rata 1,3 gol kebobolan berasal dari set-piece, dengan kerapuhan dalam mengantisipasi bola-bola silang ke tiang jauh. Swiss memiliki pemain bertinggi seperti Manuel Akanji dan Nico Elvedi yang berpotensi memanfaatkan momentum tersebut.

Dukungan Penuh Suporter dan Laga Ujian

Stadion Wankdorf yang berkapasitas 32.000 kursi dipastikan penuh oleh pendukung tuan rumah. Atmosfer ini diyakini menjadi pembeda, mengingat Argentina terakhir kali bertandang ke Swiss pada 2007 dengan hasil imbang. “Kami bangga bermain di depan publik sendiri. Ini adalah kesempatan emas untuk menunjukkan bahwa Swiss bisa bersaing dengan tim elite dunia,” tutup Xhaka.

Bagi Argentina, laga ini menjadi bagian dari persiapan menuju Copa América 2024 dan Kualifikasi Piala Dunia 2026. Pelatih Lionel Scaloni menekankan pentingnya konsistensi permainan. “Swiss adalah lawan yang sulit. Mereka memiliki organisasi pertahanan yang baik dan pemain-pemain berpengalaman. Justru di sinilah kami mengukur diri,” ujarnya.

Dengan komposisi terbaik yang dimiliki kedua tim, laga persahabatan ini diprediksi tetap berlangsung sengit. Swiss membawa misi menghapus kutukan 58 tahun, sementara Argentina datang untuk menegaskan status sebagai juara dunia. Bagaimanapun hasilnya, pertemuan kali ini akan menjadi salah satu babak menarik dalam sejarah panjang rivalitas Argentina versus Swiss.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User