Suweg, Tanaman Mirip Bunga Bangkai, Tumbuh di Bekasi
Bekasi — Warga Kelurahan Kranji, Kecamatan Bekasi Barat, dihebohkan oleh kemunculan tanaman berukuran besar dengan struktur menyerupai bunga bangkai di pekarangan rumah salah satu warga pada Jumat, ...
Bekasi — Warga Kelurahan Kranji, Kecamatan Bekasi Barat, dihebohkan oleh kemunculan tanaman berukuran besar dengan struktur menyerupai bunga bangkai di pekarangan rumah salah satu warga pada Jumat, 18 Juli 2026. Tanaman yang sempat dikira sebagai Rafflesia arnoldii itu belakangan dipastikan sebagai Suweg (Amorphophallus paeoniifolius), spesies umbi-umbian yang secara ilmiah masih satu genus dengan bunga bangkai raksasa tetapi aman dikonsumsi setelah melalui proses pengolahan yang tepat.
Sutarno, 54 tahun, pemilik pekarangan, menemukan tanaman tersebut tumbuh secara spontan di sudut lahannya. “Awalnya saya kira bangkai tikus, karena baunya tidak sedap. Begitu dicek, ternyata ada tanaman tinggi dengan bunga besar mirip gambar bunga bangkai yang sering saya lihat di televisi,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Tim dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Bekasi yang tiba di lokasi pada siang harinya segera melakukan identifikasi. Kepala Bidang Hortikultura, Dra. Nurhasanah Lubis, menyatakan bahwa tanaman tersebut adalah Suweg, bukan Rafflesia. “Rafflesia tidak memiliki batang dan daun seperti ini. Struktur daun dan batang semu yang tinggi itu ciri khas Amorphophallus. Bau busuknya berasal dari bunga yang sedang mekar untuk menarik lalat penyerbuk,” jelasnya.
Kemiripan dan Perbedaan dengan Bunga Bangkai
Suweg dan bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum) memang berasal dari genus yang sama, sehingga memiliki kemiripan morfologis, terutama pada fase generatif ketika bunga atau spadiksnya mengeluarkan aroma busuk menyengat. Namun, ukuran Suweg relatif lebih kecil—tinggi tanaman yang ditemukan mencapai sekitar 1,2 meter dengan diameter spadiks 30 sentimeter. Sementara bunga bangkai asli dapat menjulang hingga 3 meter. Selain itu, Suweg membentuk umbi yang membesar di dalam tanah dan dapat dikonsumsi, sedangkan umbi bunga bangkai raksasa tidak lazim dimakan karena kandungan kalsium oksalat yang lebih tinggi dan pengelolaannya jauh lebih rumit.
Prof. Dr. Ir. Bambang Hero Saharjo, pakar botani dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor, menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir selama mampu membedakan kedua tanaman. “Suweg adalah tanaman pangan lokal yang telah lama dimanfaatkan di berbagai daerah. Di Jawa Barat dikenal sebagai iles-iles, di Jawa Tengah sebagai coblok. Yang penting umbinya diolah dengan benar untuk menghilangkan kristal oksalat yang bisa menimbulkan gatal,” kata Bambang dalam keterangan tertulis, Sabtu (19/7).
Kandungan Nutrisi dan Cara Konsumsi
Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional tahun 2025, umbi Suweg mentah per 100 gram mengandung karbohidrat sekitar 18,4 gram, protein 2,1 gram, serat pangan 4,2 gram, serta sejumlah mineral seperti kalsium (47 mg) dan fosfor (68 mg). Kadar glucomannan yang tinggi menjadikan Suweg potensial sebagai bahan pangan fungsional untuk mendukung program diversifikasi pangan nasional. Kandungan kalorinya rendah, sekitar 83 kkal per 100 gram, sehingga cocok sebagai sumber energi alternatif.
Proses pengolahan harus melewati tahap perebusan atau pengukusan dengan penambahan garam atau kapur sirih untuk menetralkan kadar kalsium oksalat. Setelah direbus, umbi bisa diiris tipis, direndam air garam, lalu digoreng menjadi keripik atau dijadikan campuran sayur lodeh. Beberapa industri rumah tangga di Jawa Tengah dan Jawa Timur telah memproduksi tepung Suweg tinggi serat untuk bahan baku kue kering. Dinas Kesehatan Kota Bekasi melalui Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan, dr. Ratih Puspitasari, mengingatkan agar warga tidak mengonsumsi tanaman liar tanpa melakukan identifikasi pasti. “Jangan hanya karena mirip, lantas dikonsumsi. Jika ragu, laporkan ke kami atau ke penyuluh pertanian setempat. Tanaman liar bisa saja mengandung racun yang mematikan,” imbaunya.
Respons Pemerintah dan Edukasi Publik
Menindaklanjuti temuan ini, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Bekasi menggelar Rapat Koordinasi Teknis pada Senin, 21 Juli 2026, dengan melibatkan penyuluh lapangan dan kader PKK dari 12 kecamatan. Pertemuan ini membahas strategi penyebaran informasi identifikasi tanaman pangan liar potensial di wilayah perkotaan. “Kami akan memasukkan Suweg ke dalam katalog tanaman pangan alternatif Bekasi dan mencetak poster edukasi yang disebar melalui posyandu serta balai warga,” ujar Kepala Dinas, Ir. Slamet Riyadi, M.M.
Lurah Kranji, H. Abdul Kodir, menyambut positif langkah tersebut dan berencana menjadikan tanaman Suweg sebagai percontohan pemanfaatan lahan pekarangan produktif di RW 08. “Ini bisa menjadi jawaban atas tekanan inflasi pangan. Jika bisa diolah dengan higienis, bisa menambah pendapatan warga,” katanya.
Pengembangan Suweg secara terencana dinilai selaras dengan Peraturan Wali Kota Bekasi Nomor 35 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal. Dengan sosialisasi yang gencar, potensi tanaman yang kerap disalahartikan ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan keluarga di tengah keterbatasan lahan.
Comments (0)