Survei: Mayoritas Mahasiswa Pilih Ponsel Bekas Ketimbang Kredit Baru
Fenomena pergeseran preferensi konsumsi di kalangan mahasiswa tanah air kian nyata. Berdasarkan Survei Perilaku Konsumsi Mahasiswa 2025 yang dirilis Lembaga Riset Ekonomi Digital (LRED), sebanyak 63,8...
Fenomena pergeseran preferensi konsumsi di kalangan mahasiswa tanah air kian nyata. Berdasarkan Survei Perilaku Konsumsi Mahasiswa 2025 yang dirilis Lembaga Riset Ekonomi Digital (LRED), sebanyak 63,8 persen responden dari 15 universitas di Pulau Jawa menyatakan lebih memilih membeli telepon seluler pintar bekas daripada melakukan pembiayaan kredit untuk perangkat baru. Temuan ini disampaikan dalam paparan hasil survei di Jakarta, Kamis (23/10/2025).
"Angka ini meningkat hampir dua kali lipat dibanding posisi serupa pada 2022 yang hanya 34,2 persen," ujar Kepala Peneliti LRED, Prof. Dr. Bambang Sutrisno, M.Si., melalui keterangan resmi. "Mahasiswa kini jauh lebih rasional dalam mengelola keuangan terbatas, sekaligus semakin sadar bahwa spesifikasi ponsel dua hingga tiga tahun lalu masih sangat memadai untuk kebutuhan akademik dan hiburan dasar," tegasnya.
Pendorong Utama: Alasan Finansial dan Fungsional
Pengakuan senada disampaikan sejumlah mahasiswa. Rizky Maulana, mahasiswa semester lima Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menuturkan bahwa ia sengaja membeli unit bekas iPhone 13 dengan kondisi baterai 92 persen melalui platform daring. Menurutnya, dana yang dimiliki jauh lebih terukur tanpa terbebani bunga cicilan yang bisa mencapai dua digit per tahun.
"Setelah lulus nanti baru saya pertimbangkan membeli ponsel flagship baru jika memang diperlukan dan tabungan mencukupi," kata Rizky saat dihubungi Apaberita, Jumat (24/10/2025).
Dr. Retno Wulandari, pengamat perilaku konsumen dari Universitas Gadjah Mada, menegaskan bahwa pola konsumsi ini mencerminkan apa yang disebut sebagai frugal tech. "Ini bukan sekadar sikap hemat, melainkan kesadaran baru bahwa siklus penggantian gadget yang cepat semakin tidak relevan ketika spesifikasi esensial sudah stabil," ujarnya dalam diskusi terbatas di Yogyakarta, Rabu (22/10/2025).
Ekosistem Transaksi: Dari Marketplace hingga Grup Kampus
Berdasarkan penelusuran Apaberita, setidaknya 12 grup Telegram dan WhatsApp resmi universitas di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta secara aktif memfasilitasi transaksi gadget bekas antar-mahasiswa. Dalam ekosistem ini, perangkat berpindah tangan dari senior ke junior, menciptakan rantai pasok mandiri yang harga transaksinya rata-rata 40 hingga 60 persen lebih rendah dari harga baru.
"Karena penjualnya sesama mahasiswa, risiko penipuan lebih bisa diminimalkan dengan sistem verifikasi berbasis Kartu Tanda Mahasiswa dan pertemuan tatap muka," jelas Admin Grup Jual Beli Mahasiswa UI, Andi Setiawan, kepada Apaberita, Kamis (23/10/2025).
Meskipun demikian, sejumlah praktisi keamanan digital mengingatkan agar para pembeli tetap melakukan pengecekan menyeluruh, seperti verifikasi IMEI melalui laman resmi Kementerian Perindustrian dan meminta video kondisi langsung sebelum transaksi.
Respon Regulator dan Pelaku Industri
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menindaklanjuti tren ini dengan menyatakan tengah menyusun pedoman literasi keuangan khusus segmen mahasiswa terkait kredit konsumtif. Hal itu disampaikan Kepala Departemen Perlindungan Konsumen OJK, Sinta Dewi, dalam Rapat Koordinasi Nasional Edukasi Keuangan, Senin (20/10/2025).
"Kami menindaklanjuti masukan dari berbagai pihak untuk memastikan mahasiswa tidak terjebak dalam jeratan utang yang tidak produktif. Pedoman ini akan disahkan melalui Peraturan OJK pada triwulan I 2026," ujarnya.
Sementara itu, Asosiasi Penjual Ponsel Indonesia (AP2I) mengakui adanya penurunan penjualan ponsel baru segmen menengah. Ketua Umum AP2I, Hendra Gunawan, menyatakan bahwa fenomena ini mendorong pelaku industri untuk meninjau ulang skema kredit dan meningkatkan nilai tambah perangkat baru agar tetap kompetitif.
"Kami akan menyesuaikan strategi pemasaran tanpa mengabaikan perlindungan konsumen," ujar Hendra.
Dengan data yang mengemuka, pergeseran preferensi ini diprediksi akan terus berlanjut seiring meningkatnya literasi keuangan generasi muda. Bagi kalangan kampus, pilihan pada ponsel bekas bukan lagi sekadar alternatif, melainkan keputusan rasional yang menyeimbangkan kebutuhan teknologi dengan stabilitas keuangan pribadi.
Baca juga:
Comments (0)