Liga Berkelanjutan Jadi Pilar Pembinaan Sepak Bola Putri Indonesia

Jakarta, Apaberita – Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menegaskan bahwa keberlangsungan kompetisi liga merupakan fondasi tak tergantikan dalam membangun ekosistem sepak bola putri nasion...

Jul 13, 2026 - 14:54
0 0

Jakarta, Apaberita – Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menegaskan bahwa keberlangsungan kompetisi liga merupakan fondasi tak tergantikan dalam membangun ekosistem sepak bola putri nasional. Penegasan itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengembangan Sepak Bola Putri yang digelar di Kantor PSSI, GBK Arena, Senin (15/9/2025).

Kepala Departemen Sepak Bola Putri PSSI, Dian Anggraini, menyatakan bahwa pembinaan atlet muda tidak dapat dilepaskan dari ketersediaan kompetisi reguler yang bergulir setiap tahun. "Tanpa liga yang berjalan konsisten, seluruh upaya pemanduan bakat dan pelatihan di level akar rumput akan kehilangan muara prestasi," ujarnya.

Kompetisi Berjenjang untuk Pembinaan Usia Dini

Dalam paparannya, Dian menjelaskan bahwa mulai tahun 2026 PSSI akan mewajibkan setiap klub peserta Liga 1 Putri memiliki tim kelompok umur U-14, U-16, dan U-19. Kebijakan ini menindaklanjuti evaluasi terhadap ajang Pertiwi Cup 2024 yang hanya diikuti 12 tim senior tanpa dukungan jenjang pembinaan yang memadai. Sebanyak 34 provinsi akan didorong untuk menggelar kompetisi regional sebagai jalur promosi ke liga nasional.

Skema itu diyakini akan menciptakan efek domino: semakin banyak pertandingan di level daerah, semakin besar pula kesempatan menjaring pemain berbakat sejak dini. Ketua Umum Asosiasi Sepak Bola Putri Indonesia (ASPI), Ratna Irsana, menyambut baik inisiatif tersebut. "Kami sudah merancang format kompetisi tiga tingkat—kabupaten/kota, provinsi, dan nasional—yang akan terintegrasi dengan kalender PSSI. Ini penting agar pemain tidak kehilangan jam terbang," katanya melalui sambungan telepon.

Target Menuju Level Asia dan Dunia

Direktur Teknik PSSI, Indra Sjafri, menekankan bahwa program ini sejalan dengan cetak biru pengembangan sepak bola putri jangka panjang yang ditetapkan sejak 2023. Ia merujuk pada keberhasilan Filipina dan Vietnam yang lebih dulu membangun liga putri berkelanjutan dan kini mampu bersaing di Piala Asia Wanita. "Kita ingin Timnas Putri Indonesia menembus putaran final Piala Asia Wanita 2029. Jalan menuju ke sana hanya bisa dilalui jika pondasi kompetisi di dalam negeri kokoh," ujar Indra di sela-sela rapat.

Untuk memperkuat kuantitas dan kualitas pemain, PSSI mencatat sekitar 4.800 pemain putri telah terdaftar dalam sistem registrasi nasional per Agustus 2025. Angka ini ditargetkan naik dua kali lipat pada 2027 seiring bergulirnya liga secara reguler. PSSI juga menggandeng FIFA melalui program Women's Football Development untuk menyediakan pelatihan bagi 200 pelatih dan wasit khusus sepak bola putri dalam dua tahun ke depan.

Dukungan Pemerintah dan Sektor Swasta

Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga, Raden Isnanta, yang hadir dalam rapat tersebut menegaskan komitmen pemerintah untuk mendukung pengembangan sepak bola putri melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Bidang Olahraga. "Mulai tahun anggaran 2026, pemerintah daerah dapat menggunakan DAK untuk membangun atau merenovasi lapangan sepak bola standar yang ramah bagi atlet putri, termasuk penyediaan ruang ganti yang memadai," jelasnya.

Dukungan juga mengalir dari sektor swasta. Perusahaan apparel olahraga nasional, League, mengumumkan kemitraan tiga tahun senilai Rp15 miliar untuk menjadi sponsor utama Liga 1 Putri musim 2026-2028. Direktur Pemasaran League, Andi Satria, mengatakan bahwa investasi tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam mendorong kesetaraan gender di olahraga. "Kami melihat potensi pasar sepak bola putri yang sangat besar dan belum tergarap optimal. Ini bukan sekadar tanggung jawab sosial, tetapi peluang bisnis yang menjanjikan," ucapnya.

Rapat koordinasi tersebut menyepakati pembentukan gugus tugas yang terdiri dari perwakilan PSSI, Kemenpora, ASPI, dan klub. Gugus tugas itu diberi tenggat waktu tiga bulan untuk merampungkan regulasi teknis liga, termasuk standar minimum kontrak pemain, aturan wajib pembinaan usia muda, serta sanksi bagi klub yang tidak memenuhi kewajiban tersebut. Keputusan ini dijadwalkan akan disahkan dalam Kongres Tahunan PSSI pada Januari 2026.

Dengan seluruh langkah itu, upaya membangun sepak bola putri dari level akar rumput tidak lagi berjalan sporadis, melainkan terstruktur dalam ekosistem yang berkelanjutan. "Kuncinya ada pada konsistensi. Begitu liga terhenti, rantai pembinaan langsung putus dan kita akan kembali ke titik nol," pungkas Dian Anggraini.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dimas-permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Comments (0)

User