Studi Baru: Jalan Cepat Cegah Penurunan Kognitif

Jakarta – Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology and Aging pada 23 April 2025 mengungkapkan bahwa individu yang membiasakan diri berjalan dengan langkah cepat berisiko lebih ren...

Jul 13, 2026 - 18:22
0 0

Jakarta – Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology and Aging pada 23 April 2025 mengungkapkan bahwa individu yang membiasakan diri berjalan dengan langkah cepat berisiko lebih rendah mengalami gangguan kognitif dibanding mereka yang berjalan lambat. Studi ini melibatkan 3.400 partisipan berusia di atas 55 tahun yang diamati selama enam tahun oleh tim dari Universitas Gadjah Mada dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa partisipan dengan kecepatan berjalan di atas 4,8 kilometer per jam memiliki risiko penurunan fungsi kognitif 27 persen lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang rata-rata berjalan di bawah 3,5 kilometer per jam. Penurunan risiko ini tetap signifikan setelah memperhitungkan faktor-faktor lain seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan kondisi kesehatan kardiovaskular.

Desain Penelitian dan Profil Partisipan

Studi kohort prospektif ini merekrut warga dari lima kota besar di Indonesia—Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, dan Bandung—dengan rentang usia 55 hingga 80 tahun. Seluruh partisipan bebas dari demensia pada awal pengamatan. Pengukuran kecepatan berjalan dilakukan menggunakan uji jalan enam meter di lintasan datar, sementara fungsi kognitif dievaluasi setiap tahun melalui serangkaian tes neuropsikologis standar, termasuk Mini-Mental State Examination (MMSE) dan tes memori verbal.

Kepala tim peneliti, Prof. Dr. Irwan Setyawan, M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa pemantauan jangka panjang memungkinkan identifikasi pola penurunan yang lebih akurat. “Kami menemukan bahwa penurunan kecepatan berjalan lebih dari 0,1 meter per detik per tahun sudah menjadi indikator awal yang dapat memprediksi penurunan kognitif hingga dua tahun sebelum gejala klinis muncul,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (30/4/2025).

Mekanisme Biologis di Balik Hubungan Tersebut

Para peneliti menduga adanya beberapa mekanisme yang menghubungkan kecepatan berjalan dengan kesehatan otak. Aktivitas berjalan cepat meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh, termasuk ke jaringan otak, yang membantu menjaga integritas substansia alba dan memperlambat atrofi otak. Selain itu, aktivitas aerobik sedang seperti jalan cepat memicu pelepasan brain-derived neurotrophic factor (BDNF), protein yang berperan penting dalam pertumbuhan dan pemeliharaan sel-sel saraf.

Prof. Dr. Retno Lestari, Sp.S(K), spesialis neurologi dari Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo yang tidak terlibat dalam penelitian, memberikan pandangan tambahan. “Jalan cepat juga membantu mengendalikan faktor risiko vaskular seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas yang kita tahu berkontribusi pada demensia vaskular,” katanya. “Temuan ini konsisten dengan studi global yang menunjukkan bahwa latihan fisik adalah salah satu intervensi non-farmakologis paling efektif untuk mencegah penurunan kognitif.”

Implikasi bagi Kebijakan Kesehatan Masyarakat

Temuan ini mendorong perlunya program intervensi berbasis komunitas yang mempromosikan aktivitas berjalan cepat sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Dr. Rina Wulandari, M.Kes., Kepala Bidang Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, menyatakan bahwa pihaknya sedang mengkaji integrasi rekomendasi jalan cepat ke dalam panduan resmi pencegahan demensia nasional.

“Kami melihat potensi besar dari aktivitas sederhana ini. Tidak membutuhkan peralatan khusus, bisa dilakukan siapa saja, dan dampaknya luas—tidak hanya untuk otak, tetapi juga kesehatan jantung dan metabolisme,” jelas Dr. Rina di kantornya, Kamis (1/5/2025). Ia menambahkan bahwa target minimal 150 menit aktivitas aerobik sedang per minggu, termasuk jalan cepat, akan semakin ditekankan dalam kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).

Rekomendasi Praktis untuk Individu

Para ahli menyarankan agar individu dewasa, terutama yang memasuki usia paruh baya, memasukkan jalan cepat ke dalam rutinitas harian. Kecepatan yang disarankan adalah sekitar 100 langkah per menit atau cukup membuat denyut jantung meningkat dan sedikit berkeringat, namun masih mampu berbicara. Durasi ideal adalah 30 hingga 45 menit per sesi, lima kali seminggu.

Prof. Irwan menekankan bahwa konsistensi lebih penting daripada intensitas sesaat. “Yang terpenting adalah menjadikan jalan cepat sebagai kebiasaan, bukan sekadar aktivitas sporadis. Efek perlindungan terhadap otak bersifat kumulatif,” pungkasnya.

Studi ini diharapkan menjadi dasar pengembangan alat skrining sederhana berbasis kecepatan berjalan yang dapat digunakan di layanan kesehatan primer untuk deteksi dini risiko penurunan kognitif. Peneliti juga sedang melanjutkan analisis untuk mengeksplorasi apakah peningkatan kecepatan berjalan melalui pelatihan dapat membalikkan atau memperlambat penurunan fungsi kognitif pada kelompok berisiko tinggi.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User