Sosok Rugaiya Usman, Istri Wiranto yang Meninggal Dunia
Kepergian seorang istri pendamping tokoh nasional selalu meninggalkan duka mendalam. Keluarga besar Jenderal TNI (Purn) Wiranto saat ini tengah berduka atas wafatnya Rugaiya Usman, istri tercinta yang...
Kepergian seorang istri pendamping tokoh nasional selalu meninggalkan duka mendalam. Keluarga besar Jenderal TNI (Purn) Wiranto saat ini tengah berduka atas wafatnya Rugaiya Usman, istri tercinta yang telah mendampingi mantan Panglima TNI dan Menko Polhukam itu selama puluhan tahun. Rugaiya mengembuskan napas terakhir di Jakarta pada usia lanjut, meninggalkan jejak sebagai ibu rumah tangga yang setia dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial.
Kabar duka ini dikonfirmasi oleh pihak keluarga melalui pesan singkat. “Telah berpulang ke rahmatullah istri kami, ibu kami, Hj. Rugaiya Usman, pada hari ini di Jakarta. Kami sekeluarga memohon maaf atas segala kesalahan almarhumah dan memohon doa agar beliau ditempatkan di sisi terbaik Allah SWT,” demikian pernyataan resmi keluarga besar Wiranto yang diterima redaksi.
Pernikahan Kokoh Selama Setengah Abad
Rugaiya Usman dan Wiranto membangun rumah tangga sejak tahun 1975. Pernikahan yang berlangsung lebih dari 48 tahun ini telah melewati berbagai fase perjalanan karier militer dan politik sang suami. Dari perwira pertama hingga jenderal bintang empat, dari Panglima TNI hingga Menteri Koordinator, Rugaiya selalu hadir sebagai penyeimbang yang memberikan ketenangan di balik layar kekuasaan. Pasangan ini dikaruniai tiga orang anak, yakni Mayor Inf Wisnu Wardhana, dr. Wira Yudha, dan Widy Haryanti, yang semuanya telah berkeluarga dan memberikan cucu bagi pasangan tersebut.
Mereka yang mengenal keluarga Wiranto menggambarkan Rugaiya sebagai sosok yang rendah hati, jauh dari sorotan media, namun memiliki peran sentral dalam menjaga keharmonisan keluarga di tengah kesibukan suami yang luar biasa. “Ibu adalah fondasi keluarga kami. Beliau yang memastikan semuanya berjalan, sementara ayah bertugas ke mana pun negara memanggil,” ujar salah seorang anak dalam kesempatan terpisah.
Setia Mendampingi di Setiap Langkah Karier
Rugaiya bukan sekadar istri pejabat. Ia turut dirundung kecemasan ketika Wiranto menjalani operasi militer di Timor Timur dan Aceh. Ia pun berdiri tegar ketika suaminya menjadi ketua umum Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dan menghadapi pusaran politik nasional. Bahkan saat Wiranto menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan di era Presiden Joko Widodo, Rugaiya tetap memilih untuk tidak banyak tampil, lebih memilih beraktivitas di lingkungan keluarga dan organisasi sosial.
Pengamat militer dan pertahanan, Kusnanto Anggoro, menyebut istri seorang jenderal seperti Rugaiya memiliki peran strategis yang sering luput dari perhatian publik. “Mereka adalah penjaga moral dan psikologi para pemimpin TNI. Tanpa kehadiran istri yang kuat, perjalanan karier seorang perwira tinggi bisa terpengaruh,” ujarnya.
Dedikasi Sosial dan Keagamaan
Di luar urusan domestik, Rugaiya dikenal aktif di Persatuan Istri Tentara (Persit) dan berbagai organisasi keagamaan. Ia kerap memimpin pengajian dan menjadi penasihat di majelis taklim di lingkungan tempat tinggalnya di Jakarta. Pada masa Wiranto menjabat Panglima TNI (1998-1999), Rugaiya juga turut menginisiasi program pemberdayaan ekonomi bagi istri prajurit, berupa pelatihan keterampilan dan pendirian koperasi kecil di berbagai asrama militer.
Salah seorang kerabat, Ny. Siti Hartati, menuturkan bahwa almarhumah adalah pribadi yang penyabar dan penuh perhatian. “Beliau tidak pernah mengeluh, meski sangat jarang bertemu suami yang selalu bertugas. Beliau adalah contoh istri pendamping prajurit sejati,” tuturnya.
Ucapan Duka dari Berbagai Kalangan
Kepergian Rugaiya Usman memantik ucapan belasungkawa dari sejumlah tokoh nasional. Menteri Pertahanan era Kabinet Kerja, Ryamizard Ryacudu, menyampaikan duka cita mendalam. “Saya sangat kehilangan. Ibu Rugaiya adalah sosok yang santun dan menjadi mitra yang baik bagi Wiranto,” katanya melalui sambungan telepon. Ketua Umum Partai Hanura, Oesman Sapta Odang, juga mengirimkan karangan bunga dan menyampaikan doa agar keluarga diberi ketabahan.
Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana turut mengirimkan ucapan duka melalui Kepala Sekretariat Presiden. “Semoga almarhumah husnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran,” demikian bunyi pesan singkat dari Istana. Sejumlah perwira tinggi TNI aktif dan purnawirawan juga melayat ke rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir.
Wasiat dan Pemakaman
Berdasarkan informasi keluarga, almarhumah sempat menyampaikan keinginannya untuk dimakamkan secara sederhana di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan, di mana sanak keluarga Wiranto banyak yang beristirahat. Prosesi pemakaman dijadwalkan pada hari ini setelah salat Asar, dengan hanya dihadiri keluarga inti dan kerabat terdekat mengingat situasi pandemi yang belum sepenuhnya usai.
Wiranto sendiri terlihat tegar namun matanya berkaca-kaca saat menerima ucapan belasungkawa di rumah duka. Mantan Menko Polhukam itu meminta doa untuk sang istri dan menyampaikan terima kasih atas kehadiran para pelayat. “Saya ikhlas melepas dia. Dia sudah mendahului saya ke tempat yang lebih baik,” ujarnya lirih.
Kepergian Rugaiya Usman menjadi penutup babak panjang perjalanan cinta dan pengabdian mendampingi salah satu tokoh militer dan politik paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia modern. Publik dan komunitas politik pun merasa kehilangan atas figur yang dikenal akan kesederhanaan dan dedikasinya pada keluarga besar TNI serta bangsa.
Comments (0)