Raja Yordania Abdullah II Mulai Kunjungan Kenegaraan di Jakarta Hari Ini
Raja Yordania Abdullah II Bin Al-Hussein dijadwalkan memulai kunjungan kenegaraan selama tiga hari di Indonesia pada Jumat. Kedatangan pemimpin monarki Timur Tengah itu menandai babak baru penguatan k...
Raja Yordania Abdullah II Bin Al-Hussein dijadwalkan memulai kunjungan kenegaraan selama tiga hari di Indonesia pada Jumat. Kedatangan pemimpin monarki Timur Tengah itu menandai babak baru penguatan kerja sama bilateral, terutama di sektor perdagangan, pertahanan, dan diplomasi antaragama. Istana Kepresidenan mengonfirmasi bahwa serangkaian pertemuan tingkat tinggi telah disiapkan, termasuk pembicaraan langsung dengan Presiden Indonesia dan penandatanganan nota kesepahaman strategis.
"Kami menyambut hangat kunjungan Yang Mulia Raja Abdullah II. Kunjungan ini mencerminkan kedekatan historis dan komitmen bersama untuk memperluas kemitraan," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri dalam keterangan tertulis, Rabu (14/5). Rombongan kerajaan dijadwalkan mendarat di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma menggunakan pesawat khusus Kerajaan Yordania, sebelum disambut dengan upacara kenegaraan di Istana Merdeka.
Agenda Diplomatik dan Kerja Sama Strategis
Kunjungan ini tidak sekadar seremonial. Agenda utama meliputi pertemuan bilateral antara Raja Abdullah II dan Presiden Indonesia di Istana Bogor pada Jumat sore. Kedua pemimpin akan membahas peningkatan volume perdagangan yang pada 2025 tercatat sebesar 1,2 miliar dolar AS, naik 18 persen dibanding tahun sebelumnya. Komoditas unggulan seperti minyak zaitun, fosfat, dan produk tekstil menjadi fokus negosiasi akses pasar yang lebih luas.
Selain itu, isu geopolitik regional—termasuk situasi di Palestina dan stabilitas Timur Tengah—akan menempati porsi diskusi utama. Yordania memegang peran kunci sebagai penjaga situs suci di Yerusalem (Hashemite Custodianship), sementara Indonesia konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. "Indonesia dan Yordania memiliki pandangan serupa soal solusi dua negara. Kunjungan ini momentum tepat untuk menyelaraskan langkah diplomasi di forum internasional," kata Direktur Timur Tengah Kemlu.
Bidang pertahanan juga menjadi sorotan. Sejak ditandatanganinya perjanjian kerja sama pertahanan pada 2023, kedua negara rutin menggelar latihan bersama kontraterorisme dan pertukaran perwira. Dalam kunjungan ini, Raja Abdullah II dijadwalkan meninjau special forces Indonesia dan membahas potensi alih teknologi industri pertahanan ringan.
Profil Singkat Pemimpin Kerajaan Hasyimiah
Raja Abdullah II lahir di Amman pada 30 Januari 1962, putra sulung Raja Hussein dari pernikahan dengan Putri Muna yang berasal dari Inggris. Pria bernama lengkap Abdullah bin Al-Hussein bin Talal bin Abdullah ini menempuh pendidikan militer di Akademi Militer Kerajaan Sandhurst, Inggris, kemudian melanjutkan studi hubungan internasional di Universitas Oxford dan Georgetown. Karier militernya dimulai di Angkatan Bersenjata Yordania dan mencapai pangkat mayor jenderal sebelum naik takhta pada 7 Februari 1999 pascawafatnya sang ayah.
Sejak awal pemerintahannya, ia dikenal sebagai reformis moderat. Di dalam negeri, Raja Abdullah II mendorong modernisasi ekonomi, memperluas akses pendidikan, serta menerapkan liberalisasi politik terbatas. Di kancah global, ia memosisikan Yordania sebagai penengah konflik, terutama dalam proses perdamaian Israel-Palestina dan penanganan krisis pengungsi Suriah. Yordania saat ini menampung lebih dari 1,3 juta pengungsi Suriah, beban yang kerap ia suarakan di forum internasional.
Ratu Rania, permaisuri yang mendampingi lawatan ini, juga dikenal sebagai figur berpengaruh di bidang pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Pasangan ini menikah pada 1993 dan dikaruniai empat anak, dengan Putra Mahkota Hussein dipersiapkan sebagai penerus takhta.
Raja Abdullah II bukan orang asing di Indonesia. Ia pertama kali berkunjung pada Oktober 2014 dalam agenda serupa, serta hadir pada Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika di Jakarta pada 2015. Dalam setiap kesempatan, ia memuji pluralisme Indonesia sebagai model negara mayoritas Muslim yang toleran.
Hubungan Bilateral yang Menuju Kemitraan Komprehensif
Hubungan diplomatik Indonesia-Yordania resmi dibuka pada 1950, menjadikannya salah satu mitra awal Indonesia di Timur Tengah. Selama lebih dari tujuh dekade, kerja sama terus berkembang meski belum optimal di sektor ekonomi. Kunjungan kenegaraan kali ini diharapkan menghasilkan kesepakatan menuju Kemitraan Komprehensif (Comprehensive Partnership) yang mencakup 12 bidang prioritas: perdagangan, pariwisata, energi terbarukan, farmasi, teknologi informasi, dan pertukaran pemuda.
Investasi Yordania di Indonesia masih terbatas, terutama di sektor perhotelan dan restoran Timur Tengah. Sementara investasi Indonesia di Yordania bahkan lebih kecil. Kedua pihak melihat potensi besar yang belum tergarap, termasuk proyek energi surya di padang pasir Yordania yang bisa digarap BUMN Indonesia, serta ekspansi produk halal Indonesia ke pasar Levant.
Pada sektor pendidikan, lebih dari 4.000 mahasiswa Indonesia kini terdaftar di berbagai universitas di Yordania, sebagian besar mengambil studi Islam dan bahasa Arab. Dalam agenda kunjungan, Raja Abdullah II dijadwalkan bertemu dengan komunitas mahasiswa Indonesia di Universitas Yordania—yang akan hadir secara virtual dari Amman—sebagai simbol kedekatan antarwarga. "Ini adalah jembatan manusia yang nilainya tak terhitung," ujar seorang diplomat senior.
Menjelang penutupan kunjungan pada Minggu, kedua delegasi akan menandatangani sedikitnya enam nota kesepahaman, mencakup kerja sama bea cukai, pengembangan usaha mikro kecil menengah, dan perlindungan investasi. Dokumen-dokumen itu disiapkan sebagai peta jalan menuju peningkatan hubungan bilateral ke tingkat yang lebih tinggi. Setelah Jakarta, Raja Abdullah II direncanakan melanjutkan kunjungan pribadi ke Yogyakarta untuk meninjau situs budaya dan bertemu tokoh Muslim setempat.
Comments (0)