Siswi SD di Minahasa Tenggara Viral Menangis Usai Diejek Miskin

Rekaman seorang anak perempuan yang meneteskan air mata akibat lontaran kata-kata perundungan menyebar cepat di platform media sosial pada Selasa (28/7/2026). Sosok itu diketahui bernama Anisa Azahra ...

Siswi SD di Minahasa Tenggara Viral Menangis Usai Diejek Miskin

Rekaman seorang anak perempuan yang meneteskan air mata akibat lontaran kata-kata perundungan menyebar cepat di platform media sosial pada Selasa (28/7/2026). Sosok itu diketahui bernama Anisa Azahra Munaimbala, murid kelas empat Sekolah Dasar Negeri 2 Ratahan, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Berdasarkan penelusuran, insiden tersebut terjadi sehari sebelumnya, yakni pada Senin (27/7), di lingkungan permukiman tempat tinggal Anisa di Kecamatan Tombatu. Dalam video amatir berdurasi kurang dari dua menit itu, tampak sejumlah anak seusia Anisa melontarkan ungkapan yang merendahkan kondisi ekonomi keluarga korban. Mereka menyebut figur ayah Anisa sebagai orang tidak berada dan menilai hunian tempat ia tinggal jauh dari kata pantas.

Penyebaran rekaman ini memicu keprihatinan mendalam dari beragam kalangan. Pasalnya, kasus perundungan yang menyasar latar belakang ekonomi seperti ini dinilai dapat menorehkan trauma berkepanjangan pada anak. Anisa, yang kala itu pulang dari sekolah dan bermain di sekitar rumah, tak kuasa menahan tangis setelah berulang kali mendapat cemoohan dari teman-teman sebayanya. Sang ibu, Siti Munaimbala, mengaku syok sekaligus pilu melihat putrinya diperlakukan demikian. “Saya mengunggah video itu bukan untuk mempermalukan siapa pun, melainkan agar semua pihak sadar bahwa kata-kata menyakitkan seperti itu tidak boleh dianggap sepele, terutama bila keluar dari mulut anak-anak,” ujar Siti saat ditemui di kediamannya, Rabu (29/7).

Kronologi dan Pemicu Kejadian

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, peristiwa itu bermula dari obrolan ringan sekelompok anak yang tengah bermain di salah satu lorong permukiman. Percakapan bergeser ke arah saling mengejek, hingga akhirnya seorang anak menyinggung soal pekerjaan Ayah Anisa yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. Ejekan pun berlanjut dengan menilai buruk kondisi rumah semi-permanen milik keluarga Munaimbala yang terletak tak jauh dari lokasi bermain. “Anak saya pulang dalam keadaan menangis sesenggukan. Dia berkata, ‘Mama, kenapa rumah kita dibilang jelek dan Papa disebut miskin?’ Itu langsung menohok hati saya,” kisah Siti menirukan ucapan putrinya.

Video itu sendiri direkam oleh salah satu anak yang berada di lokasi menggunakan telepon seluler, lalu dikirimkan ke grup percakapan orang tua murid. Dari sana, rekaman menyebar cepat dan diunggah ulang oleh sejumlah akun komunitas hingga akhirnya menjadi perbincangan di berbagai platform. Nama Anisa serta identitas sekolahnya kemudian terungkap, membuat Dinas Pendidikan Kabupaten Minahasa Tenggara segera bergerak meminta klarifikasi dari pihak sekolah.

Respons Sekolah dan Aparat Pemerintah

Kepala SDN 2 Ratahan, Maria Rantung, menyatakan telah mengundang seluruh pihak yang terlibat untuk menjalani mediasi pada Kamis (30/7). “Kami sudah memanggil anak-anak yang terlibat berikut orang tua mereka. Tidak ada niat untuk menjatuhkan sanksi yang memberatkan, namun peristiwa ini menjadi momentum bagi sekolah untuk memperkuat pendidikan karakter anti-perundungan,” tegas Maria. Ia menuturkan bahwa sekolah berkomitmen menerapkan program pengawasan lebih ketat terhadap interaksi antarsiswa, baik di dalam jam belajar maupun di luar lingkungan sekolah.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) menerjunkan tim pendampingan psikososial bagi Anisa. Kepala DP3A, Debby Sumual, menegaskan langkah tersebut diambil agar korban tidak menyimpan trauma dan bisa kembali bersekolah dengan rasa percaya diri. “Kami sudah berkoordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA). Pendampingan psikolog akan berjalan selama satu bulan ke depan, dan akan dievaluasi secara berkala,” ungkap Debby.

Dampak Psikologis yang Mengintai

Pakar psikologi anak dari Universitas Negeri Manado, Dr. Irene Lengkong, M.Psi., menilai perundungan berbasis kondisi sosial ekonomi merupakan bentuk kekerasan verbal yang sering diabaikan dampaknya. Menurutnya, anak-anak korban ejekan miskin dan tempat tinggal tidak layak rentan mengalami penurunan harga diri, gangguan kecemasan, bahkan kemungkinan besar menarik diri dari lingkungan sosial. “Ejekan semacam ini bisa merusak pembentukan konsep diri anak secara fundamental. Jika tidak segera diintervensi, korban berpotensi tumbuh dengan keyakinan bahwa kemiskinan adalah aib yang pantas dicemoohkan,” papar Irene.

Senada dengan hal itu, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Daerah Sulawesi Utara, Johnly Mantik, mendorong agar kasus ini tidak hanya selesai di ranah mediasi. Ia meminta pihak kepolisian turut memberikan edukasi agar timbul efek jera sekaligus pemahaman bahwa perundungan adalah tindakan melawan hukum. “Anak-anak tetap mendapat pendekatan diversi, tetapi orang dewasa di sekitar mereka harus diedukasi tentang batasan hukum dan dampak sosial dari perundungan,” ucapnya.

Insiden ini menyadarkan kembali bahwa masalah perundungan di Indonesia masih memerlukan perhatian bersama. Dukungan terhadap keluarga Anisa juga terus mengalir, baik dari tokoh masyarakat, sesama orang tua murid, hingga warganet yang membanjiri unggahan dengan pesan empati. Banyak pihak berharap, peristiwa ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen pendidikan agar aspek empati dan penghormatan terhadap keberagaman kondisi ekonomi ditanamkan sejak bangku sekolah dasar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User