Siklon Bhola 1970, Bencana Tropis Paling Mematikan di Dunia
Jakarta, Apaberita.com – Siklon Bhola yang menghantam kawasan Teluk Benggala pada 12 November 1970 dinobatkan sebagai siklon tropis paling mematikan dalam sejarah peradaban modern. Berdasarkan arsip...
Jakarta, Apaberita.com – Siklon Bhola yang menghantam kawasan Teluk Benggala pada 12 November 1970 dinobatkan sebagai siklon tropis paling mematikan dalam sejarah peradaban modern. Berdasarkan arsip Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), bencana ini merenggut sedikitnya 500.000 jiwa dalam waktu kurang dari 24 jam. Hantaman siklon disertai gelombang badai setinggi 10 meter menyapu wilayah pesisir Pakistan Timur—kini Bangladesh—dan sebagian Benggala Barat, India.
Rekonstruksi kronologis yang dihimpun Apaberita dari berbagai lembaga meteorologi menunjukkan bahwa Siklon Bhola terbentuk dari pusat tekanan rendah di Teluk Benggala pada 8 November 1970. Dalam tempo tiga hari, sistem ini menguat menjadi siklon tropis Kategori 3 dengan kecepatan angin maksimum mencapai 185 kilometer per jam. Pusat badai mendarat di delta Sungai Gangga-Brahmaputra pada pukul 22.00 waktu setempat, bertepatan dengan pasang tertinggi bulan purnama. Kombinasi pasang naik dan gelombang badai menciptakan dinding air raksasa yang meluluhlantakkan puluhan pulau lepas pantai.
Gelombang Badai Penghancur dan Angka Korban Riil
Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dr. Rini Suprihatin, menjelaskan bahwa daya rusak Siklon Bhola bukan berasal dari kekuatan angin semata. "Gelombang badai atau storm surge menjadi faktor utama yang menyebabkan kematian massal. Air laut setinggi 10 meter masuk ke daratan hingga 20 kilometer dari garis pantai, menenggelamkan desa-desa padat penduduk di malam hari tanpa peringatan dini memadai," ujarnya di Jakarta, Senin (12/7). Korban terbanyak terkonsentrasi di pulau-pulau delta seperti Manpura, Bhola, Hatia, dan Sandwip yang seluruh permukaannya berada di bawah genangan air laut.
Data resmi Pemerintah Pakistan yang berkuasa kala itu menyebut angka 300.000 korban jiwa. Namun survei independen dari Palang Merah Internasional memperkirakan jumlah korban tewas mendekati 500.000 orang, belum termasuk korban hilang yang tak terdata. "Kesulitan identifikasi dan akses ke lokasi terisolasi membuat pencatatan tidak pernah final. Banyak jenazah hanyut ke laut atau terkubur lumpur," tambah Dr. Rini.
Dampak Politik: Siklon yang Mengubah Peta Negara
Selain bencana kemanusiaan, Siklon Bhola memicu gempa politik yang mengguncang Pakistan. Prof. Taufik Hidayat, Guru Besar Sejarah Politik Asia Selatan Universitas Indonesia, menyatakan bahwa lambannya respons pemerintah pusat di Islamabad terhadap penderitaan rakyat Pakistan Timur menjadi katalis gerakan kemerdekaan. "Presiden Yahya Khan baru mengunjungi lokasi bencana setelah lebih dari sepuluh hari berlalu, sementara bantuan logistik tersendat di Dhaka. Kemarahan publik elite dan rakyat Pakistan Timur meledak menjadi tuntutan pemisahan diri yang dipimpin Sheikh Mujibur Rahman," kata Prof. Taufik.
Ketegangan politik yang sebelumnya sudah mengemuka di ranah bahasa dan ekonomi serta-merta berubah menjadi konflik bersenjata. Pada Maret 1971, Pakistan Timur mendeklarasikan kemerdekaan sebagai Bangladesh. Perang pembebasan yang meletus kemudian berakhir dengan kemenangan gerakan kemerdekaan pada Desember 1971, didukung intervensi militer India. "Tanpa Siklon Bhola, mungkin perlawanan rakyat Benggala tidak menemukan momentum solidaritas dan kebencian terhadap Islamabad setajam itu," ujar Prof. Taufik.
Kesiapsiagaan dan Peringatan Dini Dua Dekade Kemudian
Lima dekade pasca-Siklon Bhola, kemajuan teknologi pemantauan dan sistem peringatan dini telah jauh mengurangi risiko kematian akibat siklon di Teluk Benggala. BMKG mencatat bahwa Bangladesh kini memiliki lebih dari 14.000 tempat perlindungan siklon dan jaringan peringatan berbasis komunitas yang menjangkau seluruh desa pesisir. Siklon Sidr (2007) dan Siklon Amphan (2020) yang memiliki intensitas setara Bhola hanya memakan korban di bawah 5.000 jiwa. "Investasi literasi kebencanaan dan pembangunan infrastruktur tangguh terbukti menyelamatkan nyawa. Catatan sejarah kelam Bhola menjadi pijakan untuk tidak mengulangi tragedi yang sama," tutup Dr. Rini.
Baca juga:
Comments (0)