Sebelum Tewas, KD Sempat Kirim Uang Sekolah Anak Rp 2,7 Juta

Seorang pria berinisial KD (38), yang dilaporkan hilang oleh keluarganya di Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa pada Kamis (24/7). Sebelum...

Sebelum Tewas, KD Sempat Kirim Uang Sekolah Anak Rp 2,7 Juta

Seorang pria berinisial KD (38), yang dilaporkan hilang oleh keluarganya di Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa pada Kamis (24/7). Sebelum menghilang dan meninggal dunia, KD ternyata sempat mengirimkan sejumlah uang untuk biaya pendidikan anaknya yang tengah menunggak kewajiban di sekolah.

Hilang Tiga Hari Tanpa Kabar

Aparat Kepolisian Sektor Banjar menerima laporan kehilangan yang disampaikan oleh NS (35), istri sah KD, pada Rabu (23/7). Berdasarkan keterangan pelapor, KD terakhir kali terlihat meninggalkan kediamannya pada Senin (21/7) sekitar pukul 22.00 WITA. Ia tidak membawa kendaraan pribadi dan hanya mengenakan pakaian sederhana. Selama dua hari berikutnya, keluarga berusaha menghubungi melalui telepon seluler namun tidak mendapatkan respons.

"Kami sudah mencari ke tempat teman-temannya, tetapi tidak ada yang tahu keberadaannya. Ini tidak seperti biasanya karena dia selalu pulang meskipun kadang larut malam," ujar NS saat melapor ke Mapolsek Banjar. Setelah menerima laporan, petugas langsung memasukkan identitas KD ke dalam daftar orang hilang dan mulai melakukan penyisiran di beberapa titik di sekitar desa.

Transfer Biaya Pembangunan Sekolah

Unit Reserse Kriminal Polsek Banjar menemukan fakta baru setelah memeriksa rekening koran milik keluarga. Tercatat sebuah transaksi transfer keluar pada Selasa (22/7) siang, sehari setelah KD meninggalkan rumah. Dana sebesar Rp 2,7 juta dikirimkan oleh KD ke rekening salah satu sekolah dasar negeri di wilayah Kecamatan Banjar, tempat anak pertama pasangan KD dan NS menempuh pendidikan.

NS membenarkan bahwa suaminya belum melunasi iuran pembangunan gedung sekolah untuk putra mereka yang kini duduk di kelas IV. "Pihak sekolah sudah memberikan surat pemberitahuan bahwa uang gedung harus segera dibayarkan. Suami saya sempat bingung mencari uang, lalu pada Selasa siang dia kirim pesan singkat yang mengatakan bahwa uang sudah ditransfer," kata NS sambil terisak. Uang tersebut rencananya akan digunakan oleh sekolah untuk merampungkan pembangunan ruang kelas baru yang sudah mencapai tahap penyelesaian atap.

Riwayat transaksi ini menjadi petunjuk penting bagi penyidik karena menunjukkan bahwa KD masih hidup dan memiliki akses terhadap layanan perbankan satu hari sebelum ditemukan meninggal dunia. Polisi kini tengah menelusuri lokasi mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) atau agen bank yang digunakan KD untuk mengirim dana tersebut guna memperkirakan pergerakan korban pascatransfer.

Temuan Mayat di Perbukitan Gitgit

Penemuan jasad KD berawal dari laporan seorang pemuda pencari pakan ternak di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, sekitar 10 kilometer dari Desa Sidatapa. Saksi mata menemukan sesosok tubuh terbaring di semak belukar dekat jurang pada Kamis (24/7) pagi. Setelah melapor ke perangkat desa, petugas kepolisian dan tim medis dari Puskesmas Sukasada II langsung menuju lokasi.

Kasat Reskrim Polres Buleleng, AKP I Putu Dody, mengonfirmasi bahwa jenazah yang ditemukan adalah KD. "Kami melakukan identifikasi berdasarkan kartu identitas yang masih tersimpan di saku celana korban serta pengenalan dari pihak keluarga," ujarnya dalam konferensi pers di Mapolres Buleleng, Jumat (25/7). Pemeriksaan luar menunjukkan adanya luka memar di wajah, lengan, dan punggung yang diduga akibat pukulan benda tumpul. Kepolisian menduga korban menjadi sasaran kekerasan massal sebelum akhirnya meninggal di tempat.

Penyelidikan dan Dugaan Motif

Dari keterangan beberapa saksi yang dihimpun di lapangan, KD diduga kuat terlibat dalam dua kali aksi pencurian ternak ayam di wilayah Desa Gitgit dan sekitarnya pada malam Selasa (22/7). Modus yang dilakukan adalah mengambil ayam dari kandang belakang rumah warga pada dini hari. "Kami sudah memeriksa empat orang saksi yang melihat seorang pria dengan ciri-ciri sesuai korban berada di sekitar kandang ayam milik warga pada malam kejadian," jelas AKP I Putu Dody.

Penyidik belum menetapkan tersangka dalam kasus dugaan penganiayaan yang menyebabkan kematian KD. Namun, sejumlah warga Desa Gitgit disebut telah dimintai klarifikasi terkait dugaan tindakan main hakim sendiri. "Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan penghakiman di luar jalur hukum. Jika ada dugaan tindak pidana, laporkan segera kepada aparat," tegas AKP I Putu Dody.

Harapan dan Duka Keluarga

NS mengaku tidak menyangka bahwa suaminya akan pergi dengan cara yang tragis. "Dia selalu berusaha mencari nafkah untuk anak-anak. Saya tidak pernah membayangkan dia terlibat perbuatan melanggar hukum," tuturnya. Saat ini, jenazah KD telah dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng untuk dilakukan autopsi. Rencananya, setelah semua prosedur hukum selesai, pihak keluarga akan memakamkan KD di pemakaman umum Desa Sidatapa.

Kepala Desa Sidatapa, Made Suartika, turut menyampaikan belasungkawa dan berharap peristiwa ini menjadi pelajaran bagi warganya agar tidak mudah terpancing emosi. "Kami akan mengadakan rapat bersama tokoh adat untuk mengingatkan kembali pentingnya penyelesaian masalah secara hukum, bukan dengan kekerasan," kata Made Suartika. Kasus ini menyisakan duka mendalam bagi istri dan dua orang anak KD yang kini harus kehilangan tulang punggung keluarga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User