Saksi Ungkap Kronologi Penemuan Sutrimo di Klinik Mordent
Jakarta Selatan, Apaberita – Seorang pria paruh baya ditemukan meninggal dunia di depan Klinik Mordent, yang berlokasi di kawasan elite Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Sabtu dini hari, 27 Juli...
Jakarta Selatan, Apaberita – Seorang pria paruh baya ditemukan meninggal dunia di depan Klinik Mordent, yang berlokasi di kawasan elite Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Sabtu dini hari, 27 Juli 2026. Identitas korban kemudian diketahui bernama Sutrimo (52), seorang tunawisma yang kerap terlihat di sekitar Jalan Sisingamangaraja. Temuan ini sontak menggegerkan warga sekitar dan memicu perhatian aparat kepolisian.
Kronologi Penemuan Menurut Saksi
Kronologi awal peristiwa ini diungkapkan oleh Suryanto (45), petugas keamanan Klinik Mordent yang pertama kali melihat korban. Dalam keterangannya kepada Apaberita, Suryanto mengatakan, sekitar pukul 04.30 WIB, ia sedang melakukan patroli rutin di area parkir klinik ketika melihat sesosok tubuh terbujur di depan pintu utama.
“Awalnya saya kira orang mabuk karena sering ada yang tidur di trotoar. Tetapi ketika saya dekati, posisinya tidak wajar dan tidak bergerak sama sekali. Saya panggil namanya beberapa kali, tidak ada respons. Saya langsung melapor ke atasan dan menghubungi polisi,”
ujar Suryanto dengan raut wajah tegang.
Saksi lainnya, Agus Priyono (38), rekan sesama petugas keamanan, mengaku segera bergabung setelah mendengar teriakan Suryanto. “Saya lihat bapak itu pakai baju lusuh, celana pendek, tanpa alas kaki. Tidak ada tanda-tanda darah yang kelihatan. Tapi yang membuat kami curiga, bibirnya agak kebiruan,” kenang Agus.
Keduanya memastikan tidak ada identitas yang ditemukan pada tubuh korban saat itu. “Kami tidak berani memegang atau memindahkan, langsung menunggu petugas kepolisian datang,” tegas Agus.
Olah TKP oleh Tim Puslabfor
Tak lama setelah laporan diterima, tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Polres Metro Jakarta Selatan bersama Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Bareskrim Polri tiba di lokasi sekitar pukul 05.15 WIB. Mereka segera memasang garis polisi berwarna kuning dan memulai proses identifikasi.
Kepala Unit Puslabfor, Komisaris Besar Polisi Adi Wibowo, dalam konferensi pers singkat di lokasi, menyampaikan bahwa timnya menemukan beberapa temuan penting. “Kami mengumpulkan sampel sidik jari dari tubuh korban dan benda-benda di sekitarnya. Ada bercak cairan yang kami duga terkait dengan kejadian. Semua sampel akan dibawa ke laboratorium untuk diuji lebih lanjut,” ujarnya.
Komisaris Adi menambahkan bahwa tim juga memeriksa pakaian korban secara detail. “Tidak ada luka terbuka yang mencolok, namun kami menemukan bekas luka lama di bagian lutut. Untuk saat ini, kami belum bisa menyimpulkan apakah ini kematian alami, atau ada indikasi tindak pidana,” tegasnya.
Pihak Puslabfor juga mengamankan rekaman closed-circuit television (CCTV) dari tiga sudut di sekitar klinik. Menurut informasi awal, rekaman menunjukkan seorang pria berjalan pelan di trotoar sekitar pukul 02.00 WIB dan kemudian terkapar di depan klinik sekitar satu jam kemudian, tanpa ada intervensi pihak lain.
Identitas Korban dan Reaksi Warga
Kapolsek Kebayoran Baru, Komisaris Polisi Susanti Dewi, menjelaskan bahwa setelah dilakukan pencocokan sidik jari dan komunikasi dengan warga, identitas korban terungkap. “Korban adalah Sutrimo, usia 52 tahun. Berdasarkan keterangan warga, beliau adalah seorang tunawisma yang sering tidur di emperan sepanjang Jalan Sisingamangaraja. Kami masih mencari keluarganya,” tutur Kompol Susanti.
Beberapa warga yang dimintai keterangan mengaku mengenal korban. Munawar (56), penjual kopi keliling yang biasa mangkal di sekitar lokasi, mengatakan bahwa Sutrimo jarang berbicara namun tidak pernah mengganggu. “Beliau sering datang ke warung saya sekadar numpang minum air. Kadang saya kasih nasi bungkus kalau ada lebih. Kondisinya memang lemah belakangan ini, jalannya sudah sempoyongan,” kenang Munawar.
Munawar juga menyebut bahwa seminggu terakhir Sutrimo sering duduk termenung di depan klinik pada malam hari. “Mungkin karena di situ agak hangat dan ada atap yang menaungi. Saya tidak tahu persis apa penyakitnya,” imbuhnya.
Pernyataan Pihak Klinik Mordent
Sementara itu, manajemen Klinik Mordent melalui kuasa hukumnya, Hendra Setiawan, menyatakan bahwa kejadian ini di luar jam operasional klinik. “Klinik kami buka pukul 08.00 hingga 20.00 WIB. Jadi saat peristiwa itu, klinik dalam keadaan tutup dan tidak ada aktivitas. Kami sangat menyayangkan musibah ini dan sepenuhnya menyerahkan proses hukum kepada kepolisian,” ujar Hendra dalam pernyataan tertulisnya.
Ia juga membantah jika korban pernah menjadi pasien di klinik tersebut. “Berdasarkan pengecekan data rekam medis kami, tidak ada nama Sutrimo yang terdaftar sebagai pasien. Kami pastikan tidak ada hubungan antara klinik dengan korban,” tegasnya.
Langkah Penyelidikan Lanjutan
Kompol Susanti menegaskan bahwa pihaknya akan terus mendalami kasus ini. “Kami menunggu hasil visum dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Dalam waktu 2x24 jam, hasil tersebut diharapkan bisa mengungkap penyebab pasti kematian. Jika ditemukan unsur pidana, kami tidak segan-segan menaikkan status kasus ini ke tahap penyidikan,” tegasnya.
Jenazah Sutrimo saat ini telah dievakuasi ke Instalasi Kedokteran Forensik RSCM untuk dilakukan autopsi. Pihak kepolisian juga masih meminta keterangan dari sejumlah saksi tambahan, termasuk pemilik toko di sekitar TKP dan pengguna jalan yang melintas pada dini hari.
Kasus ini menambah daftar penemuan jenazah tanpa identitas di wilayah Jakarta Selatan sepanjang tahun 2026. Menurut data Polres Metro Jakarta Selatan, setidaknya sudah ada tujuh kasus serupa sejak Januari lalu, dengan empat di antaranya berhasil diidentifikasi. Kepolisian mengimbau masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga agar segera melapor.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di sekitar Klinik Mordent kembali normal. Namun, garis polisi masih terpasang di sekitar pintu utama, sementara petugas keamanan memperketat pengawasan.
Comments (0)