NasDem Belum Putuskan Dukungan untuk Edy atau Bobby di Sumut
JAKARTA — Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai NasDem, Prananda Surya Paloh, menyatakan partainya belum memastikan arah dukungan pada pemilihan gubernur Sumatera Utara, baik kepada mantan ...
JAKARTA — Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai NasDem, Prananda Surya Paloh, menyatakan partainya belum memastikan arah dukungan pada pemilihan gubernur Sumatera Utara, baik kepada mantan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi maupun Wali Kota Medan Bobby Nasution.
Pernyataan itu disampaikan Prananda kepada wartawan di Jakarta belum lama ini. Ia menegaskan bahwa seluruh nama yang beredar di ruang publik masih berada dalam tahap penjajakan dan belum ada satu pun yang memperoleh rekomendasi resmi dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai NasDem.
Sikap NasDem di Pilkada Sumatera Utara
"Partai NasDem belum mengambil keputusan final terkait dukungan pada Pilkada Sumatera Utara. Semua kemungkinan masih kami pelajari, termasuk terhadap dua nama yang selama ini paling santer dibicarakan," ujar Prananda kepada Apaberita.
Prananda menjelaskan bahwa pertimbangan partainya tidak hanya bertumpu pada elektabilitas semata, tetapi juga pada sejumlah aspek lain, seperti rekam jejak kandidat, kapasitas kepemimpinan, serta potensi terbentuknya koalisi yang solid di tingkat provinsi. Menurut dia, keputusan dukungan akan diambil setelah seluruh tahapan penjaringan dan kajian internal tuntas dilakukan.
Ia menambahkan bahwa Bappilu telah membentuk tim kecil untuk memetakan peta politik Sumatera Utara, termasuk menelusuri kekuatan masing-masing bakal calon di tingkat kabupaten dan kota. Hasil pemetaan itu, lanjutnya, akan menjadi salah satu bahan rekomendasi yang diajukan kepada DPP sebelum keputusan final ditetapkan.
Dinamika Kontestasi di Sumatera Utara
Kontestasi Pilkada Sumatera Utara menjadi salah satu ajang yang paling dinanti pada penyelenggaraan pemilihan kepala daerah serentak 27 November 2024. Dua nama yang hingga kini paling kuat beredar adalah Edy Rahmayadi, yang pernah memimpin provinsi itu selama satu periode, serta Bobby Nasution, yang tengah menjabat sebagai Wali Kota Medan.
Kedua figur tersebut dinilai memiliki basis pendukung yang berbeda. Edy Rahmayadi dikenal memiliki kedekatan dengan kelompok masyarakat di luar Kota Medan, sementara Bobby Nasution dianggap kuat di wilayah perkotaan, khususnya di ibu kota provinsi. Perbedaan peta dukungan itu membuat partai politik cenderung berhati-hati dalam menentukan sikap.
Selain dua nama tersebut, sejumlah figur lain juga disebut-sebut masuk dalam radar penjaringan, meskipun belum ada konfirmasi resmi dari partai mana pun. Peluang munculnya poros koalisi baru dinilai tetap terbuka selama tahap pendaftaran pasangan calon belum dibuka oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Mekanisme Internal dan Rapat Koordinasi
Dalam proses penentuan sikap, Partai NasDem memiliki mekanisme berjenjang yang dimulai dari Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), kemudian dibahas dalam Rapat Koordinasi, hingga akhirnya diputuskan dalam rapat pleno DPP. Keputusan tersebut, menurut Prananda, tidak dapat dipaksakan oleh tekanan eksternal karena partainya berpegang pada prinsip musyawarah.
"Kami tidak ingin tergesa-gesa. Kesalahan dalam menentukan dukungan akan berdampak panjang bagi kader dan konstituen kami di Sumatera Utara," tutur Prananda.
Proses internal itu juga menindaklanjuti arahan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh agar seluruh keputusan strategis partai dilandasi kajian yang mendalam. Dengan demikian, pernyataan Bappilu tersebut dinilai sebagai bagian dari konsolidasi internal menjelang penetapan sikap resmi.
Prospek Koalisi dan Respons Para Kandidat
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari tim Edy Rahmayadi maupun Bobby Nasution mengenai peluang meraih dukungan NasDem. Namun, sejumlah elite partai di daerah mengakui bahwa NasDem merupakan salah satu kekuatan politik yang diperebutkan karena memiliki struktur kepengurusan hingga tingkat kecamatan.
Di sisi lain, dinamika koalisi di Sumatera Utara juga ditentukan oleh sikap partai-partai besar lain yang telah lebih dulu bergerak. Jika NasDem akhirnya memilih bergabung dengan salah satu poros yang sudah terbentuk, komposisi kekuatan dalam kontestasi itu dipastikan mengalami perubahan signifikan.
Pengamat politik yang dihubungi Apaberita menilai sikap menunggu yang diambil NasDem merupakan strategi yang wajar, mengingat masih ada waktu untuk memantau perkembangan elektabilitas para bakal calon. Keputusan yang diambil pada saat yang tepat, menurut pengamat itu, akan memberikan posisi tawar yang lebih kuat bagi partai.
Terlepas dari berbagai spekulasi yang berkembang, publik Sumatera Utara masih menantikan sikap resmi NasDem. Penetapan dukungan dari partai berlambang angka dua itu dipastikan menjadi salah satu faktor penentu arah kontestasi Pilkada Sumatera Utara seiring semakin dekatnya tahap pendaftaran calon.
Comments (0)