Rutin Belajar 5,5 Jam dan Lari 150 Km, Jonathan Raih Nilai Tertinggi Akpol

Jakarta, Apaberita — Jonathan Putra Siregar, pemuda berusia 22 tahun asal Medan, Sumatera Utara, menorehkan prestasi gemilang dengan menempati peringkat tertinggi di antara 403 peserta dalam Seleksi...

Rutin Belajar 5,5 Jam dan Lari 150 Km, Jonathan Raih Nilai Tertinggi Akpol

Jakarta, Apaberita — Jonathan Putra Siregar, pemuda berusia 22 tahun asal Medan, Sumatera Utara, menorehkan prestasi gemilang dengan menempati peringkat tertinggi di antara 403 peserta dalam Seleksi Penerimaan Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Tahun Anggaran 2026. Capaian ini diumumkan oleh Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabarhakam) Polri merangkap Ketua Panitia Seleksi Tingkat Pusat, Komisaris Jenderal Polisi Drs. Teguh Purnomo, di Jakarta, Senin (28/7/2026). "Saudara Jonathan memperoleh nilai rata-rata akhir tertinggi dengan selisih yang cukup signifikan. Ini menunjukkan bahwa kerja keras, disiplin, dan strategi yang tepat mampu mengantarkan seseorang meraih prestasi terbaik," ujar Komjen Teguh.

Jadwal Belajar Ketat: 5,5 Jam Setiap Hari

Dalam wawancara khusus, Jonathan mengungkap bahwa kunci keberhasilannya terletak pada konsistensi mengelola waktu. Selama satu tahun terakhir, ia menerapkan pola belajar rata-rata 5,5 jam per hari yang dibagi ke dalam tiga sesi. Sesi pertama dimulai pukul 06.00 hingga 08.00 WIB dengan fokus pada materi matematika dan bahasa Inggris—dua bidang yang selama ini menjadi kelemahannya. Sesi kedua pada pukul 13.00-15.00 WIB ia gunakan untuk mendalami peraturan perundang-undangan, sejarah kepolisian, serta kewarganegaraan. Adapun sesi terakhir malam hari pukul 19.30-21.00 WIB dialokasikan khusus untuk latihan soal psikotes, wawancara, dan pemantapan wawasan kebangsaan. "Saya tidak belajar asal banyak, tapi tepat sasaran. Evaluasi tiap minggu penting agar tahu di mana letak kekurangan," jelasnya.

Untuk menunjang efektivitas, ia membuat catatan ringkas dan menggunakan aplikasi kuis daring. Dengan disiplin ini, pada tes akademik seleksi Akpol, ia berhasil memperoleh skor 98 dari 100 untuk mata uji matematika dan pengetahuan umum, serta nilai sempurna untuk wawasan kebangsaan.

Olahraga Ekstrem: Lari 150 Kilometer per Pekan

Tak hanya otak, fisik Jonathan pun ditempa melalui program latihan yang dirancang khusus oleh pelatih pribadinya, Sersan Dua (Purn.) Hendra Gunawan. Setiap pekan, ia menempuh jarak lari kumulatif mencapai 150 kilometer atau rata-rata 21,4 kilometer per hari. Lari ini dilakukan di rute perbukitan di sekitar Kecamatan Pancur Batu, Deli Serdang, yang memiliki elevasi cukup menantang. Latihan dibagi dalam dua sesi: pagi sejauh 12 kilometer dan sore 9 kilometer, dengan waktu tempuh rata-rata 55 menit untuk jarak 10 kilometer—jauh melampaui standar minimal kesamaptaan Akpol.

Selain lari, Jonathan juga menjalani latihan kekuatan dan ketahanan: 200 kali push-up, 200 kali sit-up, 50 kali pull-up, serta renang 1 kilometer setiap hari. Pelatih Hendra mengaku bangga dengan dedikasi anak didiknya. "Jonathan tidak pernah mengeluh. Bahkan saat hujan deras, ia tetap meminta latihan. Ini bukan sekadar fisik, tapi mental juara," ucap Hendra. Hasilnya, pada tes kesamaptaan jasmani, Jonathan mencatatkan waktu lari 12 menit untuk jarak 3.200 meter, melampaui batas nilai sempurna. Angka shuttle run-nya pun stabil pada level 12.5.

Pola Makan dan Istirahat Terukur

Kesuksesan Jonathan juga ditunjang oleh pengaturan asupan gizi yang ketat. Ibunya, Rosmawati Situmorang—seorang guru biologi—memastikan menu sehari-hari putranya mengandung karbohidrat kompleks, protein tanpa lemak, serta sayur dan buah segar. Sarapan biasanya terdiri dari oatmeal, telur rebus, dan pisang; makan siang nasi merah dengan dada ayam panggang dan brokoli; malam hari ikan tuna atau tahu tempe. Ia sama sekali menghindari makanan olahan, gorengan, dan minuman manis. "Alhamdulillah, dengan pola ini saya tidak mudah lelah dan berat badan tetap ideal di 67 kilogram dengan tinggi 175 cm," tutur Jonathan. Ia juga disiplin tidur minimal 7 jam setiap malam, tidak bergadang, dan menghindari gawai satu jam sebelum tidur.

Mental Baja dan Spiritualitas

Di luar fisik dan akademik, Jonathan percaya faktor mental dan spiritual memegang peranan penting. Setiap selesai salat Subuh, ia meluangkan waktu untuk meditasi dan visualisasi: membayangkan dirinya mengenakan seragam polisi dan berhasil melewati setiap tahapan. "Saya tanamkan dalam pikiran bahwa saya mampu. Ketika gagal di seleksi kedinasan dua tahun lalu, saya belajar bahwa otak kita adalah senjata terkuat. Saya perbaiki mindset," kenangnya. Kegagalan tersebut justru membuatnya semakin matang dan fokus. Selain itu, ia juga rajin mengikuti kajian dan berdiskusi dengan senior-senior Akpol untuk mendapatkan gambaran realistis.

Seleksi Akpol 2026: Ribuan Pendaftar, 403 Peserta Final

Proses seleksi Akpol 2026 dimulai dengan pendaftaran daring yang menjaring sekitar 15.000 pendaftar dari seluruh provinsi di Indonesia. Setelah melalui serangkaian penyaringan administrasi, pemeriksaan kesehatan tahap pertama, dan tes potensi akademik di tingkat daerah, tersisa 403 peserta yang berhak mengikuti seleksi tingkat pusat. Rangkaian tes pusat meliputi tes akademik berbasis komputer, psikotes, tes kesamaptaan jasmani, wawancara mendalam, serta pemeriksaan kesehatan akhir. Panitia menerapkan sistem penilaian terintegrasi dan pengawasan ketat untuk menjamin transparansi. Komjen Teguh menekankan bahwa hasil Jonathan murni berdasarkan kemampuan. "Kami tidak mentoleransi kecurangan. Setiap peserta diperlakukan sama. Ini bukti bahwa putra-putri terbaik bangsa bisa muncul dari mana saja," tegasnya.

Pesan untuk Generasi Muda Indonesia

Menutup perbincangan, Jonathan menyampaikan pesan bagi pemuda Indonesia yang bercita-cita menjadi perwira polisi. "Kuncinya adalah keseimbangan. Jangan hanya belajar tanpa olahraga, atau sebaliknya. Persiapan harus holistik. Mulailah dari sekarang, jangan menunggu pengumuman pendaftaran. Latihan kecil setiap hari jauh lebih baik daripada latihan keras mendadak. Dan yang paling penting, dekatkan diri kepada Tuhan dan minta restu orang tua," ungkapnya. Ia berharap perjalanannya menginspirasi banyak orang. "Saya hanyalah anak biasa dari Medan. Kalau saya bisa, teman-teman di seluruh Indonesia pasti bisa asalkan mau berusaha dan konsisten," pungkas Jonathan. Kini ia bersiap mengikuti pendidikan dasar di Kampus Akpol, Semarang, dengan tekad memberikan pengabdian terbaik bagi bangsa dan negara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User