Rupiah Terperosok ke Rp16.480 Akibat Konflik AS-Iran Memanas

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Rabu (8/7). Berdasarkan data transaksi antarbank, r

Jul 08, 2026 - 16:31
0 0
Rupiah Terperosok ke Rp16.480 Akibat Konflik AS-Iran Memanas

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Rabu (8/7). Berdasarkan data transaksi antarbank, rupiah spot ditutup melemah 0,8% ke level Rp16.480 per dolar AS, melanjutkan tren negatif sejak sesi sebelumnya. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap gangguan suplai energi global dan arus modal keluar dari aset berdenominasi rupiah.

Volume perdagangan tercatat meningkat 12% di atas rata-rata harian, menandakan aksi jual yang cukup agresif oleh investor asing. Kurs jual bank umum nasional bahkan sempat menyentuh Rp16.560 pada sesi siang sebelum Bank Indonesia melakukan intervensi terukur melalui pasar valuta asing domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut terkoreksi 1,2% ke level 7.045, dengan sektor perbankan dan energi menjadi penekan utama.

Pemicu Geopolitik dan Sentimen Pasar

Eskalasi konflik AS-Iran meningkat setelah insiden serangan drone terhadap kapal tanker minyak di dekat Selat Hormuz pada Senin malam waktu setempat. Pentagon mengerahkan dua kapal perang tambahan ke kawasan, sementara Teheran menyatakan akan menutup selat strategis tersebut jika kepentingannya terancam. Selat Hormuz merupakan jalur bagi sekitar 21% konsumsi minyak dunia, sehingga ancaman gangguan pasokan langsung mengerek harga minyak mentah Brent sebesar 3,4% menjadi $93,5 per barel.

Bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak, kenaikan harga minyak ini berdampak ganda: memperburuk defisit neraca perdagangan dan mendorong inflasi dari sisi biaya. Data Kementerian Keuangan menunjukkan setiap kenaikan harga minyak sebesar $1 per barel dapat membebani subsidi energi negara hingga Rp4 triliun dalam setahun. Kondisi ini melemahkan fundamental makroekonomi yang menjadi basis kepercayaan investor terhadap rupiah.

Perbandingan Kinerja Mata Uang Regional

Mata UangPerubahan Harian (%)Kurs terhadap USDPerubahan Year-to-Date (%)
Rupiah (IDR)-0,816.480-6,5
Ringgit (MYR)-0,44,79-3,8
Baht (THB)-0,536,80-4,2
Peso (PHP)-0,358,65-2,9
Rupee (INR)-0,686,12-4,1
Yuan (CNY)-0,27,31-1,5

Rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia pada sesi ini, mengindikasikan kerentanan Indonesia terhadap guncangan eksternal. Seluruh mata uang emerging market Asia bergerak negatif akibat penguatan indeks dolar sebesar 0,45% ke level 105,6, sejalan dengan preferensi investor global terhadap aset safe haven seperti emas yang naik ke level tertinggi dalam tiga bulan.

Respons Kebijakan dan Proyeksi

"Meskipun eskalasi di Selat Hormuz ini bersifat temporer, dalam jangka pendek tekanan terhadap rupiah tetap tinggi. BI perlu terus memperkuat intervensi forex dan mendorong kebijakan DHE yang lebih ketat untuk menahan outflow," ujar Andry Satrio, ekonom senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI. Ia menambahkan bahwa cadangan devisa Indonesia yang sebesar $142 miliar pada akhir Juni 2026 masih cukup untuk meredam volatilitas berlebihan.

Sementara itu, rilis data inflasi Indonesia untuk bulan Juni 2026 yang menunjukkan angka 3,2% secara tahunan, memberikan sedikit ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga acuan di 6,25%. Namun, jika tren pelemahan berlanjut melampaui level psikologis Rp16.800, pasar mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga darurat di luar jadwal RDG.

Investor asing mencatatkan net sell di pasar obligasi pemerintah sebesar Rp2,3 triliun pada sesi ini, memperpanjang tren outflow bulanan menjadi Rp8,7 triliun sejak awal Juli. Yield SUN 10 tahun naik 5 basis poin ke 6,82%, mencerminkan peningkatan risiko yang diminta oleh pemodal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User