Rupiah Merosot ke Rp18.109 per Dolar, Dipicu Eskalasi AS-Iran

Nilai tukar rupiah ditutup melemah tajam pada perdagangan Senin (13/7) di pasar spot. Mengakhiri sesi, rupiah terdepresiasi ke posisi Rp18.109 per dolar Amerika Serikat (AS), terpukul oleh meningkatny...

Jul 13, 2026 - 21:03
0 0

Nilai tukar rupiah ditutup melemah tajam pada perdagangan Senin (13/7) di pasar spot. Mengakhiri sesi, rupiah terdepresiasi ke posisi Rp18.109 per dolar Amerika Serikat (AS), terpukul oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Washington dan Teheran. Pelemahan ini merupakan koreksi harian terdalam dalam lebih dari dua pekan terakhir.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah kehilangan 152 poin atau melemah sekitar 0,85% dari penutupan akhir pekan sebelumnya di level Rp17.957 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat menyentuh level terendah harian di Rp18.175 sebelum sedikit memangkas kerugian di menit-menit akhir. Adapun Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia pada hari yang sama dipatok di level Rp18.090, menunjukkan tekanan yang konsisten di pasar valas domestik.

Eskalasi Konflik AS-Iran Guncang Pasar

Lonjakan sentimen risk-off dipicu oleh perkembangan terkini di Timur Tengah. Sebuah insiden di Selat Hormuz pada Minggu (12/7) malam, yang melibatkan dugaan serangan terhadap kapal komersial berbendera AS, mendorong Washington untuk mengeluarkan peringatan keras. Presiden AS secara langsung menyatakan bahwa semua opsi, termasuk tindakan militer, tersedia di atas meja. Retorika itu segera dibalas oleh otoritas Iran yang menegaskan akan melindungi kedaulatan teritorialnya tanpa kompromi.

Konflik yang kembali memanas ini mendorong investor global untuk keluar dari aset-aset berdenominasi pasar berkembang dan mengalihkan dananya ke instrumen safe haven, seperti obligasi pemerintah AS dan emas. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun merosot tajam, sementara indeks dolar AS menguat hingga 0,6% terhadap enam mata uang utama. Dalam negeri, gelombang aksi jual juga terlihat di pasar surat berharga negara (SBN). Imbal hasil SBN seri benchmark 10 tahun terpantau naik 9 basis poin menjadi 7,18%, menandakan peningkatan premi risiko yang diminta investor.

Respons Bank Indonesia dan Pelaku Pasar

Menanggapi volatilitas tersebut, Bank Indonesia (BI) langsung bergerak untuk menstabilkan rupiah. Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono, dalam keterangan tertulisnya menyatakan bahwa bank sentral telah melakukan intervensi di tiga front: pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian SBN di pasar sekunder.

"Kami terus berada di pasar untuk menjaga keseimbangan supply dan demand. Intervensi triple ini merupakan upaya antisipasi untuk memastikan pergerakan rupiah tetap terkendali sesuai fundamentalnya, terutama di tengah sentimen geopolitik yang mengganggu persepsi investor,"

ujar Erwin.

Langkah BI tersebut diapresiasi, namun sejumlah analis menilai bahwa risiko jangka pendek masih cukup signifikan. Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, menyebut bahwa selama ketidakpastian di Selat Hormuz belum mereda, rupiah akan terus berada di bawah tekanan.

"Pasar sangat sensitif terhadap ancaman penutupan jalur logistik energi. Jika ketegangan ini berlanjut dan harga minyak mentah global terus melonjak, cost-push inflation di dalam negeri bisa meningkat, sehingga membuat rupiah kehilangan daya tariknya,"

terang Josua.

Prospek dan Risiko ke Depan

Pelemahan rupiah yang menjauhi level fundamental Rp17.500-an ini menghadirkan dilema tersendiri bagi otoritas moneter. Di satu sisi, intervensi harus tetap agresif untuk mencegah overshooting. Di sisi lain, cadangan devisa negara yang pada akhir Juni 2026 tercatat sebesar 139,4 miliar dolar AS juga perlu dijaga agar tidak tergerus terlalu dalam.

Pelaku pasar kini menanti perkembangan diplomasi antara Dewan Keamanan PBB dan kedua negara yang berseteru. Jika resolusi damai atau gencatan senjata diplomatik dapat segera dicapai, rupiah berpotensi melakukan pemulihan teknikal. Namun, jika konflik fisik pecah secara terbuka, level psikologis baru di atas Rp18.200 per dolar AS sangat mungkin menjadi kenyataan. Untuk Selasa (14/7), analis memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dalam rentang lebar, dengan kecenderungan masih melanjutkan pelemahan di kisaran Rp18.080 hingga Rp18.230 per dolar AS.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User