Yuzarsif Bongkar Identitas, Bawa Tahanan Tinggalkan Berhala
KAIRO — Episode terbaru serial religius Jejak Para Nabi kembali menyuguhkan kisah penuh keteguhan iman. Tokoh utama, Yuzarsif, secara mengejutkan membuka jati dirinya sebagai utusan Tuhan di hadapan...
KAIRO — Episode terbaru serial religius Jejak Para Nabi kembali menyuguhkan kisah penuh keteguhan iman. Tokoh utama, Yuzarsif, secara mengejutkan membuka jati dirinya sebagai utusan Tuhan di hadapan sesama tahanan di penjara bawah tanah Kerajaan Mesir, sekaligus mengurai nasib dua rekannya melalui tafsir mimpi yang akurat.
Peristiwa itu digambarkan berlangsung pada masa pemerintahan Fir’aun Amenhotep III, sekitar abad ke-14 sebelum Masehi. Yuzarsif, yang sebelumnya dikenal sebagai bendahara istana yang difitnah, mendekam di sel sempit bersama Apopis, mantan juru minuman raja, dan Inarus, bekas kepala juru roti kerajaan.
Pengakuan di Tengah Keputusasaan
Dalam suasana redup dan pengap, Yuzarsif menanggapi kebingungan dua tahanan yang baru saja terbangun dari mimpi yang meresahkan. “Aku bukan sekadar tawanan biasa. Aku adalah rasul yang diutus untuk menyeru manusia kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa,” demikian dialog Yuzarsif yang memecah keheningan sel, terekam dalam potongan adegan yang dirilis secara resmi oleh rumah produksi, Kamis (13/6).
Pernyataan itu sontak mengubah dinamika di dalam sel. Apopis dan Inarus, yang semula meragukan sosok pendatang muda itu, berangsur menunjukkan ketertarikan, terutama setelah Yuzarsif menawarkan diri untuk menakwilkan mimpi mereka sebagai bukti kenabiannya.
Menurut pengamat sinema Islam, Dr. Hadi Mulyono, adegan tersebut dikemas dengan pendekatan dramaturgi yang kuat. “Momen pengakuan di tengah keterbatasan ini menjadi titik balik naratif. Penonton diajak menyelami dimensi spiritual yang jarang disentuh secara gamblang,” ujarnya saat dihubungi di Jakarta.
Tafsir Dua Mimpi: Kematian dan Penghormatan
Apopis menceritakan bahwa dalam mimpinya ia sedang memeras buah anggur langsung ke dalam cawan raja. Sementara Inarus bermimpi menjunjung tiga keranjang berisi roti di atas kepalanya, namun burung-burung mematuk sajian di keranjang paling atas.
Dengan tenang, Yuzarsif mengartikan bahwa Apopis akan dipulihkan jabatannya dan kembali bertugas sebagai juru minuman istana. Sebaliknya, nasib tragis menanti Inarus: ia akan dihukum mati dengan cara disalib, lalu mayatnya dijadikan santapan unggas. “Pengetahuan ini datang langsung dari wahyu Ilahi, bukan dari ramalan bintang-bintang,” tegas karakter yang diperankan oleh aktor pendatang baru, Ahmad Zaki.
“Pengetahuan ini datang langsung dari wahyu Ilahi, bukan dari ramalan bintang-bintang.”
Dialog tersebut menegaskan distingsi antara kenabian monoteistik dan praktik perdukunan yang marak di Mesir kala itu. Tim penulis naskah, menurut keterangan tertulis, sengaja menonjolkan kontras tersebut untuk menyasar isu aktual maraknya praktik mistik di masyarakat modern.
Adegan puncak tafsir mimpi ini ditayangkan dalam episode ke-17 serial Jejak Para Nabi yang disiarkan secara nasional oleh TVRI pada Sabtu (15/6) pukul 20.00 WIB. Berdasarkan data Nielsen, episode tersebut mencatat rating 13,7 persen dan share 34,8 persen, menjadikannya tayangan prime-time dengan jumlah penonton kedua tertinggi di hari yang sama.
Meninggalkan Berhala, Menemukan Tauhid
Setelah menyampaikan tafsir, Yuzarsif tidak berhenti di situ. Ia justru menjadikan momen itu sebagai pintu masuk untuk mengajak kedua tawanan meninggalkan penyembahan berhala yang sudah mengakar di penjara. Patung-patung kecil seperti Dewa Sobek dan Dewa Anubis yang diletakkan para sipir di sudut sel menjadi sasaran dakwahnya.
“Mengapa kalian menyembah patung ciptaan tangan manusia? Tuhan yang menciptakan langit, bumi, dan segala isinya tidak dapat diserupakan dengan batu,” ujar Yuzarsif dalam monolog yang dikutip dari naskah siaran resmi.
Ajakan ini sempat menuai penolakan dari kalangan tahanan senior, terutama Potifar, mantan panglima yang dihukum akibat intrik politik. Namun, keteguhan Yuzarsif perlahan meluluhkan hati sejumlah narapidana. Dalam tiga adegan berikutnya, digambarkan sejumlah tahanan diam-diam menyingkirkan patung-patung sesembahan mereka.
“Pesan ini relevan dengan kondisi kekinian. Ketika manusia terpenjara oleh berbagai bentuk ‘berhala modern’ — harta, jabatan, popularitas — kisah Yuzarsif mengingatkan bahwa kebebasan sejati hanya didapat dengan kembali kepada Yang Maha Kuasa,” jelas Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bidang isi siaran, Aliyah Rahmani, yang turut mengapresiasi muatan dakwah tanpa kesan menggurui.
Rumah produksi Mega Kreasi Film mengonfirmasi bahwa episode ini merupakan hasil riset dua tahun yang melibatkan sejarawan dari Universitas Al-Azhar, Mesir, dan sejumlah konsultan teologi. “Kami berkomitmen menyajikan drama sejarah yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menambah wawasan keislaman secara akurat dan bertanggung jawab,” ujar Produser Eksekutif, Hendra Gunawan, melalui siaran pers.
Sementara itu, menjelang akhir episode, Yuzarsif dikisahkan mulai bersiap menghadapi panggilan istana, setelah takwil mimpinya terbukti benar. Ketegangan baru mulai terbangun tatkala ia menolak keluar dari penjara sebelum namanya dibersihkan sepenuhnya, sebuah sikap yang menegaskan integritas kenabiannya di tengah sistem hukum yang korup.
Episode ke-18 dijadwalkan tayang Sabtu pekan depan, menghadirkan konfrontasi Yuzarsif dengan para pembesar istana dan awal babak baru yang akan mengubah peta kekuasaan Mesir kuno.
Baca juga:
Comments (0)