Ritual Usaba Sri di Karangasem Jadi Simbol Syukur Petani Bali
KARANGASEM — Ratusan warga desa adat di Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, menggelar ritual Usaba Sri pada Senin, 10 Agustus 2026, sebagai perwujudan rasa syukur para petani atas limpahan hasil pa...
KARANGASEM — Ratusan warga desa adat di Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, menggelar ritual Usaba Sri pada Senin, 10 Agustus 2026, sebagai perwujudan rasa syukur para petani atas limpahan hasil panen musim tanam tahun ini. Upacara warisan leluhur Hindu Bali tersebut berlangsung khidmat dengan puncak acara berupa arak-arakan persembahan sesajen menuju pura setempat, yang dibawa para wanita berbusana adat dengan cara dijunjung di atas kepala.
Usaba Sri di Karangasem lazim digelar usai masa panen raya. Dalam kalender tradisional Bali, penentuan hari baik upacara mengacu pada perhitungan wariga yang disepakati para pemangku adat. Tahun ini, upacara diikuti seluruh krama desa dari berbagai banjar dan berlangsung sejak pagi hingga sore hari.
Prosesi Arak-arakan Sesajen Menuju Pura
Berdasarkan pantauan di lokasi, rangkaian upacara diawali dengan berkumpulnya warga di balai banjar. Berbalut kebaya, kamen, dan selendang, barisan perempuan desa berjalan beriringan dalam formasi panjang dengan banten terjunjung di kepala. Persembahan berisi hasil bumi berupa padi, kelapa, buah-buahan, serta jajan tradisional itu disusun dalam tampah dan dulang untuk kemudian diarak menuju pura.
Sebagian warga juga tampak membawa gebogan, yakni susunan buah dan jajan yang ditata menjulang menyerupai gunung, sebagai simbol kemakmuran yang dikembalikan kepada Sang Pencipta. Anak-anak muda turut serta menggotong sarana upacara berukuran besar, sementara para perempuan lanjut usia menuntun barisan dengan langkah tertib.
Di halaman pura, pemangku memercikkan tirta dan memimpin persembahyangan bersama. Umat tampak khusyuk mengikuti puja astawa yang diiringi tetabuhan gamelan dari sekaa gong desa. Suasana sakral menyelimuti seluruh rangkaian ritual hingga prosesi dinyatakan selesai.
"Usaba Sri adalah wujud bakti kami kepada Ida Bhatari Sri yang telah memberikan kesuburan pada lahan sawah. Melalui upacara ini, krama desa berdoa agar musim tanam berikutnya tetap diberkati hasil yang melimpah," ujar seorang bendesa adat seusai memimpin prosesi.
Makna Ritual bagi Kehidupan Petani
Dalam tradisi Hindu Bali, Dewi Sri diyakini sebagai manifestasi kekuatan Tuhan yang menguasai kesuburan, kemakmuran, dan kehidupan. Oleh karena itu, Usaba Sri selalu berkaitan erat dengan siklus pertanian, mulai dari masa tanam hingga panen. Bagi masyarakat Karangasem yang sebagian besar menggantungkan hidup dari sektor pertanian, ritual ini menjadi penanda penting dalam kalender adat tahunan.
Tradisi tersebut juga tidak dapat dilepaskan dari keberadaan subak, organisasi pengairan tradisional Bali yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Sistem subak menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, sebagaimana termuat dalam filosofi Tri Hita Karana, yang tercermin dalam setiap tahapan Usaba Sri.
Seorang petani setempat menyatakan ritual ini memperkuat solidaritas warga. Menurutnya, seluruh prosesi dikerjakan secara gotong royong, mulai dari menyiapkan sarana upacara hingga mengantar persembahan ke pura.
"Semua warga terlibat, dari yang muda sampai yang tua. Ini bukan sekadar upacara, tetapi juga perekat kebersamaan kami sebagai satu desa adat," katanya.
Pelestarian Tradisi Jadi Perhatian Bersama
Pemerintah daerah setempat menegaskan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan tradisi Usaba Sri. Upacara adat semacam ini dinilai bukan hanya bernilai religius, melainkan juga menjadi aset kebudayaan yang memperkaya khazanah pariwisata budaya Bali, khususnya di kawasan timur Pulau Dewata.
"Tradisi seperti Usaba Sri adalah identitas masyarakat Karangasem. Pemerintah daerah berkomitmen menindaklanjuti pelestariannya melalui pembinaan desa adat dan dukungan terhadap kegiatan kebudayaan," kata seorang pejabat Dinas Kebudayaan setempat.
Sejumlah kalangan juga mendorong agar generasi muda dilibatkan lebih aktif dalam setiap tahapan ritual, mulai dari pembuatan banten hingga pelaksanaan persembahyangan. Pelibatan generasi penerus dipandang penting agar makna filosofis upacara tidak tergerus arus modernisasi.
Hingga rangkaian upacara berakhir, prosesi dilaporkan berjalan tertib dan lancar. Warga kemudian kembali ke rumah masing-masing dengan membawa berkah berupa banten yang telah dipersembahkan, sebagai penanda berakhirnya puncak ritual Usaba Sri tahun ini.
Comments (0)