Ratusan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi melakukan unjuk rasa dengan berjalan kaki menuju gedung DPR RI di Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026). Aksi yang digelar sejak pagi hari itu dimaksudkan untuk menyampaikan serangkaian aspirasi terkait kebijakan pendidikan serta tata kelola anggaran negara. Perjalanan massa yang menempuh trayek utama ibu kota itu berlangsung tertib pada awalnya, sebelum sempat diwarnai ketegangan antara massa dan petugas pengamanan di sekitar pintu gerbang kompleks parlemen.
Rute Panjang dan Pengamanan Berlapis
Berdasarkan pemantauan di lokasi, peserta aksi didominasi mahasiswa yang mengenakan atribut almamater masing-masing. Mereka membawa spanduk dan poster berisi tuntutan, sementara orasi dipimpin dari atas kendaraan terbuka yang bergerak lambat mengikuti barisan massa. Jalur yang ditempuh mencapai beberapa kilometer sehingga sebagian peserta tampak kelelahan di tengah perjalanan.
Untuk mengamankan jalannya aksi, Polda Metro Jaya menutup sejumlah ruas jalan dan menyiapkan personel pengamanan di beberapa titik strategis. Pengaturan lalu lintas ditetapkan sejak dini hari agar dampak terhadap aktivitas ibu kota dapat ditekan seminimal mungkin. Rambu dan barikade dipasang di sejumlah persimpangan yang berbatasan dengan kawasan parlemen.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Kombes Pol Doni Prasetyo, menegaskan bahwa pihaknya memberikan ruang sesuai ketentuan yang berlaku. “Kami menghormati kemerdekaan menyampaikan pendapat sepanjang berdasarkan UU. Yang kami jaga adalah keamanan dan ketertiban umum, termasuk keselamatan para mahasiswa itu sendiri,” ujarnya di lokasi aksi.
Berdasarkan UU No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum, setiap warga negara berhak menyampaikan pendapat secara bebas tanpa tekanan dari pihak mana pun. Kepolisian menyatakan tidak akan membubarkan aksi selama massa tidak melanggar batas wilayah yang telah disepakati dalam koordinasi sebelumnya dengan panitia.
Saling Dorong di Titik Gerbang Parlemen
Ketegangan terjadi ketika barisan depan massa berupaya mendekati pagar pembatas di salah satu pintu gerbang kompleks parlemen. Petugas berupaya membentuk barisan untuk menahan laju massa sehingga terjadi dorong-mendorong selama beberapa menit. Tidak ada laporan korban jiwa dalam kejadian tersebut, meskipun seorang peserta sempat pingsan dan langsung diberikan pertolongan pertama oleh tim medis panitia.
Koordinator aksi dari aliansi mahasiswa Jabodetabek, Rangga Aditya, menyatakan penyesalannya atas terjadinya ketegangan. “Kami datang dengan damai untuk menyampaikan aspirasi. Yang kami butuhkan hanyalah ruang yang layak agar suara mahasiswa dapat didengar oleh wakil rakyat,” katanya dalam orasi di depan gerbang.
Setelah perundingan singkat antara koordinator lapangan dan perwira penghubung kepolisian, massa akhirnya diizinkan berorasi di wilayah yang telah ditetapkan. Suasana perlahan kembali kondusif dan rangkaian orasi berlanjut hingga siang hari tanpa insiden berarti.
Serangkaian Tuntutan kepada DPR
Dalam orasinya, massa membacakan sejumlah tuntutan, antara lain peningkatan anggaran pendidikan, perluasan jangkauan beasiswa bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu, serta transparansi pengelolaan anggaran lembaga negara. Massa juga meminta DPR RI lebih responsif dalam menindaklanjuti aspirasi publik yang disampaikan secara resmi, termasuk aspirasi legislasi yang diharapkan dapat disahkan melalui mekanisme yang berlaku.
Rangga menegaskan bahwa tuntutan tersebut bukan sekadar tuntutan musiman. “Kami ingin ada keputusan yang tegas, bukan sekadar janji. Setiap tuntutan yang kami sampaikan hari ini harus ada tindak lanjut yang terukur dan dapat kami awasi bersama,” ujarnya.
DPR: Aspirasi Akan Ditindaklanjuti
Pihak DPR RI melalui salah satu Wakil Ketua DPR, Ahmad Fauzan, menyatakan menerima aspirasi mahasiswa dan akan meneruskannya ke meja kerja terkait. “Aspirasi mahasiswa kami catat dan akan kami sampaikan dalam Rapat Koordinasi pimpinan. Selanjutnya, setiap Fraksi dapat menindaklanjuti sesuai mekanisme yang berlaku di parlemen,” katanya setelah menerima perwakilan massa.
Ahmad menambahkan bahwa isu anggaran pendidikan akan dibahas lebih lanjut dalam rapat kerja bersama pemerintah, termasuk kemungkinan penguatan alokasi pada tahun anggaran berikutnya. Ia menyatakan parlemen terbuka menerima masukan dari siapa pun, termasuk kalangan mahasiswa, sepanjang disampaikan melalui jalur yang sah dan tidak mengganggu kepentingan umum.
Sejumlah anggota dari beberapa Fraksi juga turun mendengar langsung orasi massa di wilayah yang ditetapkan. Salah seorang anggota Komisi X menyatakan aspirasi tersebut akan dimasukkan sebagai bahan pertimbangan sebelum ditetapkan dalam Rapat Pleno pembahasan prioritas legislasi dan anggaran.
Aksi yang berlangsung sekitar lima jam itu akhirnya bubar dengan tertib pada pukul 14.00 WIB. Kepolisian menyatakan tidak ada penangkapan maupun kerusakan fasilitas umum dalam peristiwa tersebut. Pihak kepolisian dan panitia aksi sepakat meningkatkan komunikasi agar unjuk rasa berikutnya dapat berlangsung lebih kondusif.
Comments (0)