Raja Abdullah II Tiba di Jakarta, Perkuat Kemitraan Strategis
Jakarta — Raja Abdullah II bin Al-Hussein dari Kerajaan Yordania Hasyimiah dijadwalkan tiba di Jakarta pada Jumat (14/6) dalam rangkaian kunjungan kenegaraan yang akan berlangsung hingga Ahad (16/6)...
Jakarta — Raja Abdullah II bin Al-Hussein dari Kerajaan Yordania Hasyimiah dijadwalkan tiba di Jakarta pada Jumat (14/6) dalam rangkaian kunjungan kenegaraan yang akan berlangsung hingga Ahad (16/6). Kedatangan pemimpin monarki Timur Tengah itu menandai babak baru penguatan hubungan bilateral kedua negara yang telah terjalin lebih dari tujuh dekade.
Kepala Negara Yordania tersebut akan diterima secara resmi oleh Presiden di Istana Merdeka pada Sabtu pagi, dilanjutkan dengan pertemuan tatap muka dan pertemuan bilateral yang membahas kerja sama di bidang perdagangan, pendidikan, pertahanan, dan penanggulangan terorisme. Kunjungan ini merupakan kunjungan kenegaraan pertama Raja Abdullah II ke Indonesia sejak ia naik takhta pada 1999.
Kementerian Luar Negeri menyatakan bahwa lawatan ini menjadi momentum strategis untuk memperdalam kemitraan di tengah dinamika geopolitik kawasan. “Kedatangan Yang Mulia Raja Abdullah II adalah wujud pengakuan atas posisi Indonesia sebagai mitra utama di Asia Tenggara dan dunia Islam,” ujar Juru Bicara Kemlu dalam keterangan pers, Kamis (13/6).
Profil Singkat Raja Abdullah II
Lahir di Amman pada 30 Januari 1962, Abdullah bin Al-Hussein merupakan putra sulung mendiang Raja Hussein dan Putri Muna al-Hussein. Ia menempuh pendidikan militer di Royal Military Academy Sandhurst, Inggris, dan kemudian melanjutkan studi di Universitas Oxford serta Georgetown University di Amerika Serikat. Sebelum menjadi raja, ia mengabdi sebagai perwira tinggi di Angkatan Bersenjata Yordania dan memimpin Pasukan Khusus.
Abdullah II naik takhta pada 7 Februari 1999 setelah wafatnya Raja Hussein. Sejak awal pemerintahannya, ia menekankan pentingnya reformasi politik dan ekonomi, serta menempatkan Yordania sebagai mediator dalam berbagai konflik regional, termasuk isu Palestina. Di bawah kepemimpinannya, Yordania tetap menjadi salah satu sekutu utama negara-negara Barat di Timur Tengah sekaligus penjaga stabilitas di kawasan.
Agenda Kunjungan dan Kerja Sama yang Diperdalam
Selain pertemuan dengan Presiden, Raja Abdullah II diagendakan mengunjungi Kompleks Parlemen untuk bertukar pandangan dengan pimpinan DPR dan DPD mengenai kerja sama antariksa legislatif. Ia juga akan menghadiri forum bisnis yang mempertemukan pengusaha kedua negara, dengan target peningkatan nilai perdagangan yang pada tahun lalu tercatat mencapai USD 1,2 miliar.
Nota kesepahaman (MoU) di bidang pendidikan tinggi dan riset akan disepakati dalam kunjungan ini. “Kami melihat potensi besar dalam pertukaran mahasiswa dan dosen, terutama dalam studi Islam moderat, sains, dan teknologi,” kata Duta Besar Yordania untuk Indonesia, Mohammad al-Qaisi, dalam wawancara terpisah.
Isu keamanan dan kontraterorisme juga menjadi agenda prioritas. Kedua negara akan membahas peningkatan kerja sama intelijen dan penanggulangan radikalisme, mengingat pengalaman Yordania dalam menangani sel-sel ekstremis dan peran Indonesia dalam mempromosikan Islam wasathiyah.
Makna Strategis bagi Indonesia
Bagi Indonesia, lawatan ini menjadi kesempatan untuk mempertegas posisi diplomatik di Timur Tengah. Yordania adalah mitra kunci dalam menjembatani kepentingan Indonesia dengan negara-negara Teluk dan Liga Arab. Sebagai sesama negara berpenduduk mayoritas Muslim, keduanya memiliki kedekatan kultural yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong isu-isu seperti kemerdekaan Palestina dan perdamaian global.
Pengamat hubungan internasional dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Ali Mustofa, menilai bahwa kunjungan Raja Abdullah II merupakan sinyal positif bagi diplomasi Indonesia. “Yordania memandang Indonesia tidak hanya sebagai pasar, tetapi juga mitra strategis yang dapat menyeimbangkan dinamika di dunia Islam,” tuturnya.
Kunjungan kenegaraan ini juga menjadi yang pertama sejak Menteri Luar Negeri kedua negara bertemu di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB tahun lalu, di mana pembahasan kerja sama bilateral mulai diintensifkan. Kerajaan Yordania sendiri memiliki hubungan historis dengan Indonesia, yang ditandai dengan pembukaan kedutaan besar di Jakarta pada 1950-an.
Dengan rampungnya serangkaian agenda, diharapkan hubungan Indonesia-Yordania tidak hanya semakin erat di level pemerintah, tetapi juga membawa manfaat konkret bagi masyarakat kedua bangsa. Pemerintah Indonesia menyatakan kesiapan menyambut Raja Abdullah II dengan protokol kenegaraan tertinggi sebagai bentuk penghormatan atas mitra penting di kawasan Timur Tengah.
Seluruh rangkaian kunjungan akan berlangsung dengan pengamanan ketat dan protokol kesehatan yang disesuaikan. Publik dapat menyaksikan upacara penyambutan melalui siaran resmi Sekretariat Presiden.
Comments (0)