Putri Marino Taklukkan Menyanyi dan Berkuda di Empat Musim Pertiwi
JAKARTA — Aktris Putri Marino mengungkapkan bahwa proses pendalaman karakter Pertiwi dalam film Empat Musim Pertiwi menghadirkan dua tantangan teknis yang belum pernah ia jalani sebelumnya, yakni ke...
JAKARTA — Aktris Putri Marino mengungkapkan bahwa proses pendalaman karakter Pertiwi dalam film Empat Musim Pertiwi menghadirkan dua tantangan teknis yang belum pernah ia jalani sebelumnya, yakni kemampuan menyanyi dan menunggang kuda. Kedua keterampilan tersebut dituntut oleh naskah garapan sutradara Kamila Andini itu sehingga menuntut persiapan intensif di luar kebiasaan akting yang ia geluti selama ini.
Hal tersebut disampaikan Putri kepada awak media dalam sesi jumpa pers bertajuk press junket di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, bersama aktor Arya Saloka yang memerankan tokoh Bisma. Menurut Putri, ia sempat meremehkan tuntutan vokalnya sebelum menjalani lokakarya resmi. "Awalnya saya merasa kemampuan suara saya sudah cukup, jadi saya pikir semuanya aman. Namun ketika lokakarya dimulai dan pengambilan gambar pertama dilakukan, suara saya langsung habis," ujarnya menegaskan.
Pengalaman tersebut, lanjut Putri, membuatnya menyadari bahwa menyanyi bukan sekadar pelengkap adegan, melainkan elemen naratif yang menuntut ketahanan fisik dan teknik pernapasan khusus. Ia menyebut latihan vokal berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang sebelum proses produksi dimulai, sehingga ia dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan karakter Pertiwi.
Karakter Suara Pertiwi Dinilai Memiliki Kekhasan
Arya Saloka menambahkan bahwa karakter Pertiwi memiliki kualitas vokal yang tergolong unik dan berbeda dari karakter lain dalam film tersebut. Menurut Arya, resonansi suara yang dimiliki Pertiwi berada pada tingkat yang tinggi sehingga membutuhkan penanganan tersendiri saat proses rekaman. "Suara Pertiwi memiliki gaung yang sangat tinggi, itu yang membuatnya khas," tuturnya, yang langsung disambut tawa Putri Marino di hadapan para wartawan.
Selain persoalan vokal, Putri juga dituntut menguasai teknik menunggang kuda. Ia mengakui belum pernah menaiki kuda sebelumnya sehingga muncul kekhawatiran tersendiri terhadap keselamatan dirinya di atas tunggangan. "Saya belum pernah naik kuda sebelumnya, dan itu hewan hidup. Saya takut ditendang, takut jatuh," ujarnya menyatakan.
Meski demikian, Putri tetap menjalani seluruh rangkaian latihan berkuda yang disiapkan tim produksi. Menurutnya, latihan tersebut dilakukan secara bertahap, mulai dari pengenalan karakter hewan hingga penguasaan posisi tubuh yang benar saat berkuda. Ia menilai proses itu menjadi bagian penting agar penampilan Pertiwi di layar tetap meyakinkan.
Arya Saloka Apresiasi Profesionalisme Lawan Main
Arya Saloka memberikan apresiasi terhadap kemampuan Putri Marino menyembunyikan ketegangan saat berada di atas kuda di hadapan kamera. Menurut Arya, meskipun secara pribadi Putri sempat merasa gugup, ia mampu menampilkan Pertiwi dengan gestur yang tenang dan penuh kendali. "Meskipun dia deg-degan saat naik kuda, Pertiwi bisa menutupi ketegangan itu ketika berada di atas kuda," ujar Arya menegaskan.
Bagi Arya, peran Bisma sendiri memberikan ruang eksplorasi yang luas karena karakternya memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan Pertiwi. Ia menyatakan bahwa kedekatan antartokoh dalam naskah menuntut kerja sama intens selama proses pembacaan skenario dan latihan bersama. Hal itu, menurutnya, membantu kedua pemain membangun chemistry yang dibutuhkan kamera.
Film Empat Musim Pertiwi merupakan karya terbaru Kamila Andini yang menyoroti perjalanan seorang perempuan dalam menghadapi perubahan hidup. Produksi ini menghimpun sejumlah nama besar perfilman nasional dan dijadwalkan tayang di jaringan bioskop Indonesia. Berdasarkan keterangan tim produksi, proses pengambilan gambar dilakukan di sejumlah lokasi dengan pendekatan sinematografi yang menekankan sisi visual dan musik.
Persiapan Matang demi Kualitas Akting
Pengalaman Putri Marino menunjukkan bahwa tuntutan industri film nasional semakin menekankan pentingnya persiapan fisik dan keterampilan teknis bagi para pemain. Selain bernyanyi dan berkuda, sejumlah pemain lain dalam film tersebut juga menjalani pelatihan khusus sesuai kebutuhan karakter masing-masing. Langkah itu ditempuh agar hasil akhir tidak hanya bergantung pada kemampuan akting, tetapi juga pada kredibilitas gerak dan vokal di layar.
Putri menyatakan bahwa seluruh proses tersebut menjadi pengalaman berharga bagi perkembangan kariernya sebagai aktris. Ia menegaskan tidak menyesali waktu yang dihabiskan untuk berlatih, termasuk ketika suaranya sempat habis pada awal lokakarya. "Semua itu bagian dari proses, dan saya bersyukur bisa melewatinya," ujarnya mengakhiri.
Comments (0)