Pulo Gadung: Jalan Kayu Mas Utara Amblas Empat Bulan Tanpa Perbaikan
JAKARTA TIMUR — Kerusakan parah di Jalan Kayu Mas Utara, yang akrab disebut warga sebagai Jalan Cinta, di RT 011/RW 03, Kelurahan Pulo Gadung, memasuki bul
JAKARTA TIMUR — Kerusakan parah di Jalan Kayu Mas Utara, yang akrab disebut warga sebagai Jalan Cinta, di RT 011/RW 03, Kelurahan Pulo Gadung, memasuki bulan keempat tanpa penanganan berarti. Kondisi jalan yang amblas pasca-Lebaran 2026 ini semakin mengkhawatirkan dan memicu keluhan warga setiap hari.
Kronologi Ambruknya Jalan Cinta
Berdasarkan penuturan warga setempat, kerusakan awalnya hanya berupa retakan kecil di permukaan aspal. Sebagian warga menduga itu hanyalah kerusakan biasa yang umum terjadi. Namun, kondisi berubah drastis beberapa hari setelah perayaan Idulfitri 2026, tepatnya sekitar pertengahan April 2026 di mana ruas jalan tiba-tiba ambles membentuk lubang besar yang memutus akses utama kendaraan roda empat.
Lubang tersebut kini memiliki diameter mencapai 2,5 meter dengan kedalaman diperkirakan 1,2 meter. Material tanah dasar terlihat tergerus air, memicu dugaan kebocoran pipa saluran air di bawah permukaan jalan.
Dampak Signifikan bagi Warga dan Pengguna Jalan
Jalan Kayu Mas Utara merupakan salah satu akses vital yang menghubungkan permukiman padat dengan Jalan Raya Pulo Gadung. Amblasnya jalan ini menimbulkan dampak langsung, antara lain:
- Kemacetan parah pada jam sibuk karena kendaraan terpaksa memutar arah.
- Sepuluh rumah di sekitar lokasi mengalami getaran keras setiap kali kendaraan berat melintas.
- Genangan air di lubang saat hujan meningkatkan risiko kecelakaan bagi pejalan kaki dan pengendara motor.
- Anak-anak yang bersekolah di wilayah sekitar terlambat akibat akses yang terganggu.
Salah satu warga, Heru Santoso (47), mengaku frustrasi dengan lambannya respons pemerintah. Ia menuturkan:
“Sudah empat bulan kami seperti tinggal di area konflik, pulang kerja harus mutar jauh. Pernah ada mobil hampir nyemplung malam-malam karena penerangan minim. Kami sudah lapor berkali-kali, tapi petugas hanya datang pasang garis batas lalu pergi lagi. Ini bukan sekadar polisi tidur, ini jalan yang hilang.”
Lambatnya Respons dan Status Penanganan
Hingga berita ini diturunkan, belum ada alat berat atau tim konstruksi yang terlihat di lokasi melakukan perbaikan permanen. Satu-satunya penanda hanyalah barikade seadanya yang dipasang oleh warga secara swadaya menggunakan bambu dan banner bekas. Situasi ini kontras dengan klaim Dinas Bina Marga DKI Jakarta yang sering menargetkan perbaikan jalan berlubang dalam hitungan jam.
Pihak Kelurahan Pulo Gadung saat dikonfirmasi menyatakan bahwa laporan kerusakan telah diteruskan ke Sudin Bina Marga Jakarta Timur sejak awal Mei 2026. Namun, kendala teknis berupa dugaan pipa air yang bocor mengharuskan koordinasi lintas instansi dengan PAM Jaya, yang memperlambat proses perbaikan. Dokumen surat menyurat antarinstansi ini belum membuahkan hasil konkret di lapangan.
Kondisi tanah dasar yang labil memerlukan penanganan menyeluruh, bukan sekadar tambal sulam aspal. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa selama 120 hari, warga hanya berharap pada janji tanpa realisasi.
Tuntutan Warga dan Potensi Risiko Memburuk
Warga mengancam akan melakukan aksi tutup jalan jika dalam dua pekan ke depan tidak ada tindakan perbaikan. Mereka menilai pemerintah kota tidak serius menjaga infrastruktur keselamatan warga. Dengan intensitas hujan yang masih tinggi di Jakarta, lubang tersebut berpotensi memperlebar galian dan menggerus fondasi rumah di sekitarnya. Potensi tanah longsor mikro di area pemukiman padat ini tidak bisa dianggap enteng.
Kejadian di Jalan Cinta ini menjadi potret nyata bahwa sinkronisasi birokrasi antarinstansi di Jakarta masih menjadi batu sandungan bagi pelayanan publik yang cepat dan tepat. Hingga saat ini, 4 bulan, 120 hari, atau 2.880 jam telah berlalu tanpa perbaikan yang berarti.
Comments (0)