Gempa Magnitudo 4,7 Guncang Polewali Mandar Kamis Pagi
Polewali Mandar, Sulawesi Barat – Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 4,7 mengguncang wilayah Polewali Mandar dan sekitarnya pada Kamis pagi (9/7/202
Polewali Mandar, Sulawesi Barat – Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 4,7 mengguncang wilayah Polewali Mandar dan sekitarnya pada Kamis pagi (9/7/2026) pukul 08.09.36 WIB. Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episenter gempa terletak pada koordinat 3,40 LS dan 119,31 BT, atau tepatnya di darat pada jarak sekitar 15 kilometer barat laut Kota Polewali dengan kedalaman 10 kilometer. Guncangan yang berlangsung selama 3–5 detik ini dirasakan cukup kuat dan menyebabkan kepanikan warga, meskipun tidak dilaporkan adanya kerusakan bangunan yang berarti.
Kronologi Gempa
Rangkaian peristiwa gempa Polewali Mandar pagi ini terekam sebagai berikut:
- Pukul 08.09.36 WIB – Alat sensor seismik BMKG di wilayah Sulawesi Barat merekam getaran pertama gempa bumi dangkal dengan kekuatan M 4,7.
- Pukul 08.11 WIB – BMKG melalui akun resmi media sosial merilis parameter sementara gempa, meliputi magnitudo, lokasi, dan kedalaman, sekaligus mengonfirmasi bahwa gempa tidak berpotensi tsunami karena pusat gempa berada di darat dengan kedalaman dangkal.
- Pukul 08.15 WIB – Laporan pertama dari warga Polewali Mandar mulai masuk ke pusat informasi kebencanaan. Sejumlah warga mengaku merasakan getaran horizontal yang singkat namun cukup kuat, disertai suara gemuruh rendah dari bawah tanah.
- Pukul 08.20 WIB – Tim reaksi cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Polewali Mandar dikerahkan ke beberapa titik padat penduduk untuk memantau dampak langsung di lapangan. Hasil pemantauan awal tidak menemukan kerusakan struktural yang signifikan.
- Pukul 09.10 WIB – BMKG merilis pemutakhiran data bahwa gempa utama (mainshock) M 4,7 tidak diikuti oleh aktivitas gempa susulan yang signifikan hingga satu jam pascagempa, namun warga tetap diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan.
- Pukul 10.00 WIB – Situasi di pusat kota Polewali Mandar berangsur normal. Aktivitas perkantoran, sekolah, dan pasar tradisional kembali beroperasi seperti biasa setelah dipastikan tidak ada bahaya lanjutan.
Dampak dan Reaksi Warga
Gempa yang terjadi pada jam sibuk pagi hari saat warga tengah beraktivitas ini memicu kepanikan masal di sejumlah lokasi. Di area pertokoan Jalan Jenderal Sudirman, pengunjung dan pedagang berhamburan keluar bangunan begitu getaran terasa. "Saya sedang menggelar dagangan tiba-tiba lantai seperti diayun-ayun. Semua orang langsung lari keluar," ujar Andi (44), pedagang di Pasar Sentral Polewali. Kepanikan serupa juga terjadi di beberapa gedung sekolah dasar di Kecamatan Polewali, di mana guru segera mengarahkan siswa untuk melakukan prosedur evakuasi "lindungi kepala dan keluar menuju lapangan terbuka".
Berdasarkan data sementara BPBD setempat, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Kerusakan fisik juga tergolong ringan, berupa retakan kecil pada dinding dua rumah warga di Desa Paku, Kecamatan Binuang, serta beberapa bagian plafon yang lepas di gedung serbaguna Kecamatan Polewali. Tidak ada fasilitas umum vital, seperti jaringan listrik, air bersih, atau telekomunikasi, yang mengalami gangguan akibat gempa.
Kepala Pelaksana BPBD Polewali Mandar menyatakan bahwa timnya terus berkoordinasi dengan para camat dan kepala desa untuk melakukan pendataan kerusakan secara menyeluruh. "Kami sudah menginstruksikan seluruh perangkat desa untuk memantau kondisi lingkungan masing-masing. Jika ditemukan kerusakan yang membutuhkan penanganan khusus, segera laporkan ke posko induk," jelasnya. Pihaknya juga mengapresiasi respons cepat warga yang dinilai sudah cukup sigap dalam melakukan evakuasi mandiri.
Analisis dan Imbauan BMKG
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Gowa, Sulawesi Selatan, dalam keterangan tertulisnya menyebutkan bahwa gempa M 4,7 ini merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar lokal di jalur sesar Palu–Koro segmen utara. Mekanisme sumber menunjukkan pergerakan geser (strike-slip) yang lazim terjadi di zona tektonik kompleks Sulawesi Barat. "Karena pusat gempa berada di darat dengan kedalaman kurang dari 15 kilometer, maka energi getaran yang sampai ke permukaan terasa lebih keras, terutama di radius 20–30 kilometer dari episenter. Namun, magnitudonya belum cukup besar untuk menimbulkan kerusakan struktural skala luas," kata beliau.
BMKG mencatat bahwa kawasan Polewali Mandar dan sekitarnya merupakan wilayah dengan tingkat kerentanan seismik menengah yang kerap diguncang gempa-gempa kecil hingga sedang. Dalam satu tahun terakhir, setidaknya sudah terjadi enam kali gempa signifikan di atas M 4,0 di zona yang sama. Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa sistem peringatan dini tsunami tidak diaktifkan karena gempa tidak memenuhi kriteria pemicu tsunami, yaitu magnitudo minimal 7,0 dan pusat gempa di laut dangkal dengan mekanisme thrust.
Menyikapi situasi ini, BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpancing informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. "Gempa susulan dengan magnitudo lebih kecil mungkin saja terjadi, tetapi umumnya tidak berbahaya. Yang terpenting, pastikan bangunan tempat tinggal sudah memenuhi standar konstruksi tahan gempa dan selalu siapkan jalur evakuasi di setiap lokasi aktivitas," tutup pernyataan resmi tersebut.
Comments (0)