Psikolog: Modal Mental Lebih Menentukan Keharmonisan Pernikahan daripada Uang
Jakarta, 25 Mei 2026 - Kesiapan menikah tidak bisa hanya dinilai dari tabungan atau aset. Praktisi psikologi keluarga menekankan bahwa kematangan emosi dan mental justru menjadi fondasi utama dalam me...
Jakarta, 25 Mei 2026 - Kesiapan menikah tidak bisa hanya dinilai dari tabungan atau aset. Praktisi psikologi keluarga menekankan bahwa kematangan emosi dan mental justru menjadi fondasi utama dalam membangun rumah tangga yang langgeng. Fenomena perceraian di kalangan pasangan muda dengan ekonomi mapan menunjukkan bahwa uang bukan jaminan kebahagiaan pernikahan.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), angka perceraian di Indonesia dalam lima tahun terakhir terus meningkat. Penyebab utamanya bukanlah masalah ekonomi, melainkan perselisihan dan ketidakharmonisan yang berakar dari ketidaksiapan mental. "Banyak pasangan yang secara materi sudah siap, tapi begitu menghadapi perbedaan kecil, langsung terjadi ledakan emosi yang merusak hubungan," ujar Dian Puspita, psikolog klinis dari Universitas Indonesia, dalam wawancara dengan Apaberita, Senin (25/5).
Regulasi Emosi sebagai Bekal Utama
Kematangan mental dalam pernikahan berarti kemampuan untuk mengelola perasaan saat menghadapi tekanan. Pasangan yang siap secara psikologis tidak akan membiarkan kemarahan sesaat menghancurkan komunikasi. Mereka mampu menahan diri, berpikir jernih, dan memilih kata-kata yang tidak menyakiti. Sebaliknya, individu yang belum matang secara emosi cenderung reaktif—masalah kecil bisa membesar hanya karena ketidakmampuan mengendalikan amarah. "Regulasi emosi adalah keterampilan yang harus dilatih sebelum memutuskan menikah. Kalau tidak, hal sepele seperti piring kotor atau lupa membalas pesan bisa jadi pemicu pertengkaran berkepanjangan," tambah Dian.
Hal itu sejalan dengan penelitian dari Lembaga Demografi UI yang menyebutkan bahwa 60 persen konflik rumah tangga dipicu oleh komunikasi yang buruk, bukan oleh masalah keuangan. Pasangan yang terbiasa menyelesaikan perbedaan secara sehat—mendengarkan tanpa menyela, menyampaikan keluhan tanpa menyalahkan—memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan pernikahan.
Komunikasi: Jembatan Antara Dua Dunia
Pernikahan menyatukan dua individu dengan latar belakang, nilai, dan kebiasaan yang berbeda. Tanpa komunikasi yang efektif, perbedaan itu bisa menjadi sumber pertikaian. "Kunci dari komunikasi adalah mendengar dengan empati. Banyak orang hanya mendengar untuk membalas, bukan untuk memahami. Itu yang memicu salah paham," jelas Dian.
Pasangan yang matang secara mental tidak hanya berbicara tentang kebutuhan dan keinginan mereka, tetapi juga terbuka menerima kritik tanpa merasa diserang. Mereka mampu membangun dialog yang jujur dan saling menghargai. Dalam praktiknya, ini bisa dimulai dengan kebiasaan sederhana: berbicara setiap hari tentang perasaan masing-masing, menyediakan waktu khusus tanpa gangguan ponsel, dan tidak membiarkan masalah mengendap terlalu lama.
Menerima Ketidaksempurnaan
Salah satu ujian terbesar dalam pernikahan adalah menerima kekurangan pasangan. Ekspektasi tinggi seringkali dibangun selama masa pacaran, ketika kedua pihak masih menampilkan sisi terbaiknya. Setelah resmi tinggal serumah, kebiasaan-kebiasaan kecil yang semula dianggap lucu bisa berubah menjadi sumber kejengkelan. "Mental yang siap berarti menyadari bahwa pasangan kita tidak sempurna, dan kita juga tidak. Pernikahan bukan tentang menemukan orang yang sempurna, melainkan tentang dua orang yang saling melengkapi dan bertumbuh bersama," kata Dian.
Fleksibilitas dan kesediaan untuk beradaptasi menjadi tanda kedewasaan. Pasangan yang kaku dan selalu ingin menang sendiri akan kesulitan mempertahankan kebersamaan. Sebaliknya, mereka yang mau belajar dari kesalahan dan terus memperbaiki diri akan lebih mudah melewati berbagai fase kehidupan.
Bertahan Saat Badai Datang
Setiap rumah tangga akan menghadapi ujian, baik dari faktor internal seperti perbedaan prinsip, maupun eksternal seperti tekanan pekerjaan atau intervensi keluarga. Kesiapan mental berperan besar dalam menentukan apakah pasangan akan saling mendukung atau justru saling menyalahkan. "Dalam situasi sulit, pasangan yang sehat secara emosi akan menjadi tim. Mereka tidak mencari kambing hitam, tapi fokus mencari solusi bersama," ujar Dian.
Dukungan psikologis seperti saling menguatkan, mendengarkan curhat tanpa menghakimi, dan memberikan ruang bagi pasangan untuk menyendiri saat dibutuhkan, adalah bentuk-bentuk ketangguhan mental yang mempererat ikatan. Justru saat badai itulah ikatan pernikahan ditempa menjadi lebih kuat.
Kesimpulannya, menikah bukanlah sekadar proyek finansial yang bisa dihitung dengan angka. Modal mental—kemampuan mengelola emosi, berkomunikasi, menerima, dan bertahan—adalah investasi tak terlihat yang menentukan apakah sebuah pernikahan akan bertahan puluhan tahun atau kandas di tengah jalan. Maka sebelum mengucap janji suci, setiap calon pengantin perlu bertanya pada diri sendiri: sudah siapkah mental kita?
Baca juga:
Comments (0)