PSEL Bali Diresmikan, Target Urai Masalah Sampah di 70 Kabupaten

Suara mesin pemilah sampah menderu di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Suwung, Bali, Selasa pagi (8/7). Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Ba

Jul 09, 2026 - 05:34
0 0

Suara mesin pemilah sampah menderu di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Suwung, Bali, Selasa pagi (8/7). Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) Moh Jumhur Hidayat meresmikan pembangunan Proyek Sampah Jadi Energi Listrik (PSEL), jawaban atas krisis sampah yang mencekik puluhan kabupaten di Indonesia.

Proyek yang digadang-gadang menjadi solusi strategis nasional ini tidak hanya akan mengubah 1.200 ton sampah per hari menjadi abu tak berbahaya, tetapi juga menghasilkan listrik berkapasitas 12 megawatt (MW)—cukup untuk menerangi sekitar 12.000 rumah tangga.

Mengurai Sampah dari Hulu ke Hilir

Kehadiran PSEL di Bali bukan sekadar proyek infrastruktur. Ini adalah tulang punggung rencana besar BPLH untuk menangani gunungan sampah di 70 kabupaten yang selama ini bergulat dengan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang kelebihan kapasitas. Dari pantai utara Jawa hingga pulau-pulau kecil di Nusa Tenggara, proyek serupa siap direplikasi dalam lima tahun ke depan.

“Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan pengangkutan dan penimbunan. PSEL adalah transformasi cara kita memandang sampah—bukan sebagai beban, tapi sebagai sumber daya. Model di Bali akan menjadi cetak biru bagi 70 kabupaten yang membutuhkan solusi serupa,” kata Jumhur di sela peresmian.

Dengan sistem pengolahan termal yang tertutup rapat, teknologi ini meminimalkan emisi dan menghilangkan bau busuk yang selama ini menjadi keluhan warga sekitar TPA. Lega rasanya, akhirnya ada harapan untuk lingkungan yang lebih bersih—begitu ungkapan warga yang hadir. Seorang ibu rumah tangga yang tinggal tak jauh dari lokasi, Ni Luh Putu, mengaku sudah lama mendambakan udara segar tanpa asap pembakaran sampah liar.

Teknologi Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan

PSEL Bali menggunakan teknologi insinerasi dengan standar emisi Eropa, memastikan bahwa gas buang yang dilepaskan telah melewati serangkaian filter canggih. Proses ini juga menghasilkan fly ash dan bottom ash yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan ringan.

Proyek ini merupakan kerja sama pemerintah dengan pihak swasta di bawah skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), menjamin investasi jangka panjang tanpa membebani APBN. Selain mengatasi masalah sampah, PSEL juga menyediakan lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal—mulai dari operator pabrik hingga tenaga kebersihan pemasok sampah.

Dengan listrik 12 MW yang dihasilkan, PLN akan membeli seluruh produksi energi bersih ini melalui skema feed-in tariff, sehingga proyek berjalan dengan keekonomian yang sehat. “Ini adalah bukti bahwa lingkungan dan ekonomi bisa berjalan beriringan,” ujar Direktur PT Energi Bersih Nusantara, mitra pelaksana proyek.

BPLH menargetkan paling tidak dua proyek PSEL lainnya mulai dibangun tahun depan di kawasan Jawa Barat dan Sulawesi Selatan, menjangkau kabupaten-kabupaten dengan darurat sampah tertinggi. Dengan tersebarnya teknologi ini, 70 kabupaten akan merasakan dampak langsung berupa berkurangnya volume sampah di TPA hingga 70%, penurunan pencemaran air tanah, dan peningkatan kualitas hidup warga.

Peresmian ini menandai langkah serius Indonesia menuju pengelolaan sampah modern. Sebuah babak baru yang tidak hanya menyelesaikan krisis lokal, tetapi juga memberi kontribusi nyata pada target net zero emission nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User