Presiden Prabowo Dorong Kampus Tingkatkan Riset Teknologi Kapal
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyampaikan arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta seluruh perguruan tinggi untuk memfokuskan riset pada sektor...
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyampaikan arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta seluruh perguruan tinggi untuk memfokuskan riset pada sektor industri perkapalan. Pernyataan itu disampaikan Brian pada Rapat Koordinasi Nasional Pendidikan Tinggi yang digelar di Auditorium Gedung D Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Jakarta, Kamis (10/7/2026). Forum tersebut dihadiri oleh para rektor, pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta, serta pemangku kepentingan sektor maritim. Brian menegaskan, instruksi tersebut merupakan bagian dari strategi besar pemerintahan Prabowo dalam memperkuat kedaulatan maritim nasional.
Arahan Khusus dari Kepala Negara
Brian mengungkap bahwa Presiden Prabowo memberikan perhatian serius terhadap ketertinggalan riset perkapalan dalam negeri. Dalam sebuah rapat terbatas, Presiden menyampaikan bahwa daya saing industri galangan kapal Indonesia masih memerlukan dukungan akademis yang lebih konkret. ³Sangat disayangkan apabila negara kepulauan terbesar di dunia justru bergantung pada impor teknologi kapal,´ ujar Brian mengutip pernyataan Presiden. Menurutnya, produksi kapal nasional saat ini berkisar 150 unit per tahun, sementara kebutuhan untuk kapal niaga dan pertahanan mencapai lebih dari 400 unit. Oleh karena itu, Presiden meminta seluruh kampus, khususnya yang memiliki program studi teknik perkapalan dan kelautan, untuk segera menyusun peta jalan riset yang aplikatif.
Kolaborasi Multipihak Digulirkan
Menindaklanjuti arahan tersebut, kementerian akan membentuk konsorsium riset nasional yang melibatkan sedikitnya 15 perguruan tinggi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta perusahaan galangan kapal strategis seperti PT PAL Indonesia dan PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari.
"Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Presiden menginginkan sinergi kampus, industri, dan pemerintah dalam satu ekosistem riset yang terpadu. Targetnya, dalam tiga tahun sudah ada purwarupa kapal riset hasil kolaborasi ini,"jelas Brian. Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof. Dr. Ir. Mochamad Ashari, M.Eng., menyatakan kesiapan institusinya menjadi salah satu simpul utama. ”ITS akan memperkuat Laboratorium Hidrodinamika dan membuka program riset magister terapan yang langsung dikaitkan dengan proyek industri,” katanya pada kesempatan yang sama. Selain ITS, Universitas Hasanuddin dan Universitas Diponegoro disebut ikut berperan dalam pengembangan kapal ramah lingkungan berbasis energi surya dan hidrogen.
Dukungan Anggaran dan Kebijakan Regulasi
Untuk mempercepat implementasi, pemerintah melalui Kementerian Keuangan telah menyetujui alokasi dana riset perkapalan sebesar Rp500 miliar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Dana tersebut akan dikelola melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Dana Abadi Perguruan Tinggi. Selain itu, revisi Peraturan Presiden tentang TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) akan mendorong industri perkapalan wajib menggunakan hasil riset kampus. Menteri Perindustrian akan menerbitkan standar baru yang mengukur adopsi riset universitas dalam sertifikasi produk kapal. ”Kebijakan ini memastikan riset tidak berhenti di jurnal ilmiah, melainkan menjadi komoditas industri yang bernilai tambah,” ucap Brian. Data Kementerian Perindustrian mencatat, saat ini terdapat 250 perusahaan galangan kapal, namun baru 30 persen komponen kapal yang diproduksi di dalam negeri. Dengan dorongan ini, pemerintah menargetkan peningkatan TKDN hingga 60 persen pada tahun 2030. Pada sektor pendidikan, kurikulum teknik perkapalan akan diperkaya dengan program dosen tamu dari praktisi industri serta pembukaan 500 beasiswa S2 dan S3 spesialis teknologi maritim. Para mahasiswa dan peneliti muda akan dikirim ke galangan kapal kelas dunia di Korea Selatan dan Jepang untuk transfer pengetahuan. Brian optimistis, transformasi ini akan menjadikan Indonesia sebagai pusat inovasi maritim di kawasan Asia-Pasifik.
Comments (0)