Prananda dan Kader PDIP Pakai Atribut 'Pro Mega' di Peringatan Kudatuli
Senin, 27 Juli 2026, halaman Kantor DPP PDI Perjuangan di Menteng, Jakarta Pusat, dipadati kader yang mengenakan ikat kepala dan kemeja bertuliskan "Pro Mega". Di antara mereka, Ketua DPP PDIP Bidang ...
Senin, 27 Juli 2026, halaman Kantor DPP PDI Perjuangan di Menteng, Jakarta Pusat, dipadati kader yang mengenakan ikat kepala dan kemeja bertuliskan "Pro Mega". Di antara mereka, Ketua DPP PDIP Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif, dan Ekonomi Digital sekaligus Kepala Pusat Analisa dan Pengendali Situasi PDIP, Muhammad Prananda Prabowo, tampak hadir dengan kemeja serupa. Peringatan 30 tahun Tragedi Kudatuli pada 27 Juli 1996 itu menjadi momen tampilnya simbol politik lama yang kembali dihadirkan oleh keluarga besar PDIP.
Pantauan di lokasi, atribut "Pro Mega" mewarnai jalannya acara. Fungsionaris DPP dan kader akar rumput kompak menggunakan ikat kepala merah bertuliskan "Pro Mega", menggemakan kembali semangat era 1990-an. Kehadiran simbol ini bukan sekadar busana partai, melainkan pesan politik yang merujuk pada basis massa militan pendukung Megawati Soekarnoputri di masa Orde Baru.
Bukan Simbol Baru, Melainkan Penghormatan Sejarah
Ketua DPP PDIP Bidang Keanggotaan dan Organisasi, Andreas Hugo Pareira, menjelaskan bahwa penggunaan atribut "Pro Mega" tidak merepresentasikan gerakan atau faksi baru di internal partai. "PDI Pro Mega adalah kelompok massa militan yang lahir dari bawah, yakni para pendukung Megawati Soekarnoputri setelah Kongres Luar Biasa PDI di Surabaya pada 1993. Mereka bergerak secara spontan dari akar rumput masyarakat pada pertengahan 1990-an," ujarnya, mengonfirmasi makna historis di balik simbol itu.
Menurut Andreas, kelompok ini terbentuk sebagai respons terhadap rekayasa politik yang ingin menyingkirkan Megawati dari kepemimpinan PDI pasca-KLB. Mereka menjadi benteng pertahanan yang mempertahankan legitimasi Megawati di tengah tekanan rezim Orde Baru.
Kudatuli: Puncak Represi dan Bukti Ketahanan
Tragedi 27 Juli 1996, yang diperingati setiap tahun oleh PDIP, dinilai Andreas sebagai puncak kezaliman penguasa Orde Baru terhadap gerakan Pro Mega. Pada hari itu, massa pendukung pemerintah dan aparat keamanan menyerbu Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta, yang masih dikuasai kubu Megawati. Serangan brutal tersebut menewaskan sejumlah kader dan meninggalkan luka mendalam.
"Basis akar rumput pendukung Megawati yang tergabung dalam Pro Mega dengan gagah berani dan pantang menyerah melawan rezim zalim Orde Baru Soeharto. Peristiwa Kudatuli justru memperlihatkan daya tahan luar biasa mereka," kata Andreas, menegaskan bahwa insiden itu tidak melemahkan, melainkan mengokohkan solidaritas dan militansi kelompok Pro Mega yang kemudian menjadi modal penting bagi lahirnya gerakan reformasi.
Cikal Bakal PDI Perjuangan dan Kemenangan 1999
Andreas lebih lanjut mengungkapkan bahwa semangat dan basis massa Pro Mega inilah yang menjadi fondasi berdirinya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) setelah reformasi. "Peristiwa Kudatuli pada 1996 menjadi titik puncak kesewenang-wenangan Orde Baru. Namun, pada saat yang sama, tragedi itu membuktikan ketangguhan basis Pro Mega dalam menghadapi represi dan menjadi katalis bagi gelombang reformasi yang akhirnya menjatuhkan Soeharto pada 1998," tegasnya.
PDIP kemudian tampil sebagai pemenang Pemilu 1999, pemilu demokratis pertama pasca-Orde Baru, dengan Megawati Soekarnoputri sebagai ikon perlawanan. Jati diri partai yang lahir dari kelompok Pro Mega terus dirawat melalui peringatan-peringatan seperti Kudatuli.
Simbolisme di Era Kini
Pengenaan kemeja dan ikat kepala "Pro Mega" oleh Prananda Prabowo—yang juga merupakan putra Megawati—serta kader lainnya di peringatan kali ini dapat dimaknai sebagai upaya merawat ingatan kolektif tentang perjuangan masa lalu. Di tengah dinamika politik nasional yang kian kompleks, simbol "Pro Mega" seakan menjadi penegasan bahwa PDIP tidak melupakan akar historisnya sebagai partai yang lahir dari perlawanan rakyat kecil.
Prananda, dalam kapasitasnya sebagai Kepala Pusat Analisa dan Pengendali Situasi PDIP, tidak memberikan pernyataan resmi mengenai makna atribut tersebut. Namun, langkahnya bersama jajaran DPP memakai simbol "Pro Mega" secara terbuka memberikan sinyal kuat bahwa spirit militan era 1990-an masih relevan sebagai pijakan ideologis partai berlambang banteng moncong putih itu.
Acara peringatan 30 tahun Kudatuli ini juga dihadiri oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang meresmikan monumen peringatan di kantor DPP. Monumen tersebut diharapkan menjadi pengingat abadi bagi generasi penerus tentang nilai-nilai keberanian dan konsistensi politik yang diwariskan oleh para pendahulu.
Dengan hadirnya simbol "Pro Mega" dalam perhelatan akbar partai, PDIP sekaligus menunjukkan bahwa ingatan sejarah bukan sekadar ritual tahunan, tetapi bagian dari strategi pembinaan kader dan konsolidasi internal menjelang berbagai agenda politik mendatang.
Comments (0)