Pramono Targetkan Tumpukan Sampah Rusun Waduk Pluit Bersih dalam 10 Hari
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menetapkan target penyelesaian pengangkutan sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Rusun Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, dalam kurun waktu 8 hi...
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menetapkan target penyelesaian pengangkutan sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Rusun Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, dalam kurun waktu 8 hingga 10 hari ke depan. Penumpukan sampah yang mencapai ketinggian lebih dari tiga meter itu sempat menjadi sorotan warganet setelah sebuah video pendek memperlihatkan gunungan limbah rumah tangga menggunung tepat di samping hunian vertikal tersebut.
Respons Cepat Gubernur
Begitu rekaman itu viral, Pramono langsung menginstruksikan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan jajaran Pemerintah Kota Jakarta Utara untuk mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia. Dalam keterangan tertulis yang diterima awak media pada Selasa (14/7/2026), Pramono menyatakan bahwa persoalan sampah di rusun tersebut bukan hanya masalah kebersihan, melainkan juga menyangkut martabat warga yang tinggal di sana. Ia bahkan menekankan bahwa tidak boleh ada alasan teknis yang menghalangi percepatan pembersihan.
"Kami sudah hitung volume dan kapasitas armada. Kalau semua bekerja optimal, delapan sampai sepuluh hari cukup untuk mengembalikan TPS ini ke kondisi normal," ujar Pramono saat meninjau langsung lokasi pada Senin (13/7/2026). Gubernur juga memerintahkan agar DLH menambah jumlah truk pengangkut, menyewa alat berat tambahan, serta memperpanjang jam operasional Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang untuk menampung kiriman dari Jakarta Utara.
Penyebab Penumpukan
Berdasarkan penelusuran di lapangan, penumpukan sampah di TPS Rusun Waduk Pluit dipicu oleh tiga faktor utama. Pertama, keterbatasan armada pengangkut lantaran sebagian truk mengalami kerusakan dan menunggu perbaikan. Kedua, volume sampah harian dari 2.100 unit hunian di rusun tersebut meningkat signifikan selama bulan Juni–Juli 2026 akibat masa libur sekolah dan kegiatan rumah tangga yang lebih tinggi. Ketiga, akses menuju TPS sempat terhambat oleh proyek perbaikan jalan di sekitar kawasan Waduk Pluit, sehingga truk-truk besar kesulitan masuk.
Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara, Dedy Supriyadi, mengakui bahwa pihaknya selama ini mengandalkan jadwal pengangkutan reguler yang ternyata tidak mampu menyerap lonjakan mendadak. "Kami biasanya mengirim empat truk per hari. Sekarang kami naikkan menjadi sepuluh truk per hari untuk mengejar target," terang Dedy. Ia juga menyebut bahwa koordinasi dengan TPST Bantargebang akan diperkuat agar tidak terjadi penolakan kiriman pada jam-jam tertentu.
Langkah Penanganan Darurat
Selain mobilisasi armada, Pemprov DKI menerapkan sejumlah langkah darurat. Alat berat jenis excavator dikerahkan untuk merapikan tumpukan dan memindahkan sampah ke bak-bak truk dengan lebih cepat. Pekerja harian lepas ditambah hingga 30 orang untuk membantu pemilahan sampah organik dan anorganik di lokasi. Sampah yang sudah dipilah akan diangkut tidak hanya ke Bantargebang, tetapi juga ke fasilitas pengolahan lain seperti TPST Bantar Gebang dan beberapa bank sampah di wilayah Jakarta Utara yang bersedia menampung.
Pramono juga memerintahkan agar sistem pelaporan harian diterapkan. Setiap sore, lurah dan camat setempat wajib melaporkan volume sampah yang berhasil diangkut serta kendala lapangan. Langkah ini bertujuan agar realisasi lapangan sesuai dengan target yang telah dipatok.
Harapan Warga dan Solusi Jangka Panjang
Warga Rusun Waduk Pluit menyambut baik meskipun masih menyisakan kekhawatiran. Sri Wahyuni (38), salah satu penghuni, mengatakan bahwa bau menyengat dan lalat sudah mengganggu aktivitas sehari-hari selama hampir dua pekan. "Anak-anak sering batuk. Semoga setelah ini ada perbaikan permanen, bukan hanya angkut lalu nanti menumpuk lagi," katanya di depan TPS.
Menjawab aspirasi itu, Pramono berjanji akan membenahi tata kelola sampah di rusun secara menyeluruh. Ia merancang pembangunan satu unit incinerator skala kecil yang akan ditempatkan tidak jauh dari rusun, sehingga volume sampah yang harus diangkut ke TPST bisa dikurangi. Selain itu, DLH akan memperbanyak pojok pilah sampah di setiap lantai rusun dan melatih warga tentang pengomposan mandiri. Untuk jangka pendek, Pemprov akan menambah frekuensi pengangkutan dari empat kali menjadi enam kali seminggu.
Gubernur juga mengisyaratkan perlunya evaluasi kontrak dengan pihak ketiga yang menangani kebersihan di kawasan tersebut. "Kami tidak akan segan memutus kerja sama jika memang kinerjanya tidak sesuai," tegasnya. Dengan langkah-langkah itu, Pramono berharap insiden serupa tidak terulang dan Jakarta Utara dapat menjadi percontohan pengelolaan sampah di permukiman padat.
Hingga siang ini, proses pengangkutan masih berlangsung di bawah pengawasan langsung petugas. Diperkirakan, dalam tiga hari pertama, lebih dari sepertiga gunungan sampah sudah berhasil dipindahkan. Pemprov menargetkan pada hari ke-10, TPS Rusun Waduk Pluit dapat kembali berfungsi normal tanpa meninggalkan sisa bau maupun genangan air lindi.
Comments (0)