Prabowo Resmikan Lima Bendungan Baru, Investasi Tembus Rp9,79 Triliun
Presiden Prabowo Subianto meresmikan lima bendungan baru secara serentak dari Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (13/6). Prosesi peresmian dilakukan melalui konferensi video yang menghubungkan empat ...
Presiden Prabowo Subianto meresmikan lima bendungan baru secara serentak dari Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (13/6). Prosesi peresmian dilakukan melalui konferensi video yang menghubungkan empat provinsi lokasi proyek strategis tersebut. Total investasi pembangunan kelima infrastruktur pengelolaan sumber daya air ini menembus angka Rp9,79 triliun, yang sepenuhnya dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dr. Ir. Arief Setiadi, dalam laporannya kepada Presiden menyatakan bahwa kelima bendungan tersebut adalah bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang sejak awal dicanangkan untuk memperkuat fondasi ketahanan air dan kedaulatan pangan. “Seluruh bendungan telah melalui tahap pengujian teknis dan memenuhi standar keamanan sesuai regulasi. Dampaknya tidak hanya pada peningkatan luas tanam, tetapi juga pengendalian banjir dan penyediaan air baku,” ujar Menteri Arief di hadapan Presiden dan sejumlah menteri Kabinet yang hadir secara fisik maupun daring.
Rincian Lima Bendungan dan Kapasitas Tampung
Berdasarkan data Kementerian PUPR, kelima bendungan tersebut tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera. Bendungan Cipanas di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, memiliki kapasitas tampung 250 juta meter kubik dan mampu mengairi lahan seluas 9.000 hektare. Nilai investasinya tercatat sebesar Rp2,8 triliun. Bendungan Keureuto di Aceh Utara dibangun dengan biaya Rp1,7 triliun, berkapasitas 216 juta meter kubik, serta melayani irigasi bagi 8.400 hektare sawah di wilayah pesisir timur Aceh.
Di Jawa Tengah, Bendungan Bener yang berlokasi di Kabupaten Purworejo menelan investasi Rp2,3 triliun. Dengan kapasitas 100 juta meter kubik, bendungan ini diproyeksikan mengairi 15.000 hektare lahan produktif dan menyediakan air baku untuk lima kecamatan. Sementara itu, Bendungan Way Sekampung di Lampung dibangun dengan dana Rp1,6 triliun. Berkapasitas 68 juta meter kubik, bendungan ini melayani 17.500 hektare areal persawahan di Kabupaten Pringsewu dan Pesawaran. Adapun Bendungan Leuwikeris di Tasikmalaya, Jawa Barat, menelan anggaran Rp1,39 triliun, dengan kapasitas 81 juta meter kubik dan jangkauan irigasi 10.000 hektare. Menteri Arief menegaskan, seluruh proyek telah diselesaikan tepat waktu sesuai kontrak yang disepakati dalam rapat-rapat koordinasi sebelumnya.
Arahan Presiden: Kedaulatan Air dan Integrasi Irigasi Modern
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menekankan bahwa bendungan bukan sekadar simbol pembangunan fisik, melainkan pilar utama kedaulatan pangan nasional. “Saya tegaskan kembali, bendungan-bendungan ini adalah fondasi kita dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan krisis pangan global. Air adalah kekuatan geopolitik. Siapa yang mengendalikan air, dia mengendalikan peradaban,” kata Presiden dengan nada tegas. Presiden menginstruksikan Kementerian PUPR, Kementerian Pertanian, dan pemerintah daerah untuk segera mengintegrasikan pengelolaan bendungan dengan sistem irigasi modern, termasuk penerapan teknologi hemat air dan penguatan kelembagaan petani melalui koperasi.
Presiden juga meminta agar studi kelayakan untuk bendungan-bendungan baru segera diselesaikan, khususnya di kawasan timur Indonesia yang masih defisit infrastruktur air. “Saya minta kepada Menteri Perencanaan dan Menteri Keuangan, prioritaskan alokasi untuk bendungan baru di Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Kita tidak boleh lagi ada daerah yang kekeringan saat musim kemarau dan kebanjiran saat musim hujan,” tambahnya. Pernyataan ini langsung direspons oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas yang hadir secara virtual, yang menyebutkan bahwa dokumen perencanaan tiga bendungan baru di NTT dan Maluku sudah masuk tahap finalisasi.
Dampak Terukur terhadap Ketahanan Pangan dan Energi
Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR, dalam rapat evaluasi beberapa hari sebelum peresmian, melaporkan bahwa kelima bendungan ini secara kumulatif akan menambah luas layanan irigasi teknis mencapai 60.000 hektare. Potensi peningkatan produksi padi diperkirakan mencapai 500.000 ton per tahun atau setara dengan penghematan devisa impor beras sekitar Rp1,2 triliun per tahun. Selain itu, empat dari lima bendungan dilengkapi dengan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berkapasitas total 12 megawatt yang akan memasok listrik untuk desa-desa sekitar.
Wakil Menteri Pertanian yang turut mendampingi Presiden di Istana menyatakan bahwa kementeriannya telah menyiapkan program pendampingan bagi petani di daerah irigasi (DI) yang mendapat suplai air dari bendungan baru. “Kami sudah mengalokasikan benih unggul, pupuk bersubsidi, dan alat mesin pertanian untuk 100.000 petani penerima manfaat. Target kami indeks pertanaman naik dari satu kali menjadi dua kali setahun di wilayah-wilayah tersebut,” ujarnya. Hal ini, menurutnya, sejalan dengan arahan Presiden untuk mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan.
Dukungan DPR dan Rencana Audit Tata Kelola
Peresmian lima bendungan ini mendapat apresiasi dari Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ketua Komisi V DPR yang diwawancarai seusai acara menyatakan dukungan penuh terhadap program percepatan infrastruktur air, namun menekankan pentingnya audit tata kelola secara berkala. “Kami mendukung penuh alokasi anggaran untuk proyek-proyek strategis seperti ini, asalkan transparan dan bebas dari kebocoran. Komisi V akan menindaklanjuti dengan panja pengawasan lapangan pada masa sidang mendatang,” ujarnya. Ia menambahkan, DPR telah menyetujui usulan tambahan anggaran senilai Rp4,5 triliun dalam APBN Perubahan untuk lima bendungan tahap berikutnya yang sedang dalam proses konstruksi.
Dengan diresmikannya lima bendungan ini, total bendungan besar yang beroperasi di Indonesia kini mencapai 243 unit. Presiden Prabowo dalam agenda kenegaraan selanjutnya dijadwalkan meninjau langsung Bendungan Cipanas dan Bendungan Leuwikeris pada bulan depan untuk memastikan integrasi irigasi berjalan sesuai rencana.
Baca juga:
Comments (0)