Prabowo: Bendungan dan B50 Bukti Kerja Nyata Menuju Indonesia Makmur
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa pembangunan lima bendungan strategis serta keberhasilan penerapan program biodiesel B50 menjadi bukti konkret komitmen pemerintah dalam mewujudkan Indonesi...
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa pembangunan lima bendungan strategis serta keberhasilan penerapan program biodiesel B50 menjadi bukti konkret komitmen pemerintah dalam mewujudkan Indonesia yang makmur dan berdaulat. Pernyataan itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional di Istana Negara, Jakarta, Selasa (17/3/2026).
Dalam forum yang dihadiri jajaran menteri kabinet, kepala daerah, dan pimpinan lembaga, Presiden menegaskan bahwa infrastruktur sumber daya air dan transformasi energi hijau adalah dua fondasi vital yang tengah dipercepat. “Ini bukan sekadar proyek, melainkan jawaban nyata atas kebutuhan rakyat di lapangan. Bendungan dan B50 adalah bukti bahwa kita bekerja,” ujar Presiden dengan nada tegas.
Lima Bendungan Strategis Tuntas
Lima bendungan yang dimaksud adalah Bendungan Meninting di Nusa Tenggara Barat, Bendungan Tiga Dihaji di Sumatra Selatan, Bendungan Bener di Jawa Tengah, Bendungan Bulango Ulu di Gorontalo, dan Bendungan Riam Kiwa di Kalimantan Selatan. Seluruhnya telah rampung 100 persen dan mulai direservoir pada triwulan pertama 2026.
Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menunjukkan total kapasitas tampung kelima bendungan mencapai 1,27 miliar meter kubik. Bendungan Meninting, misalnya, mampu mengairi 1.850 hektare lahan irigasi baru di Lombok Barat serta menyediakan air baku bagi 450 ribu jiwa. Adapun Bendungan Bener di Wonosobo memiliki tinggi 175 meter, menjadikannya salah satu bendungan terbesar di Asia Tenggara dengan fungsi pengendalian banjir dan pembangkit listrik tenaga mikrohidro sebesar 10 megawatt.
Proyek-proyek ini menelan total anggaran Rp18,4 triliun dari APBN dan APBD. Presiden Prabowo menekankan bahwa tidak ada satu pun bendungan yang mangkrak atau melampaui batas waktu yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2023. “Kami buktikan bahwa Negara hadir, dari Sabang hingga Merauke, memastikan air sampai ke sawah dan rumah-rumah penduduk,” tegasnya.
B50: Lompatan Energi Hijau Indonesia
Selain bendungan, capaian implementasi B50—biosolar dengan campuran 50 persen bahan bakar nabati dari kelapa sawit—mendapat sorotan khusus. Mulai 1 Januari 2026, seluruh bahan bakar diesel yang beredar di Indonesia wajib menggunakan standar B50. Ini merupakan peningkatan drastis dari B35 yang berlaku sebelumnya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Baharuddin Lopa, yang turut hadir dalam rapat, melaporkan bahwa produksi biodiesel nasional pada kuartal I 2026 mencapai 14,2 juta kiloliter, meningkat 28 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Program ini menyerap 7,8 juta ton minyak sawit mentah dari petani dan koperasi. “Kita tidak hanya menekan impor solar hingga Rp82 triliun per tahun, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi lebih dari 2,1 juta keluarga petani sawit,” papar Lopa.
Langkah B50 juga selaras dengan komitmen penurunan emisi gas rumah kaca yang tertuang dalam Nationally Determined Contribution (NDC). Berdasarkan hitungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, transisi ini berkontribusi memangkas 40,6 juta ton CO2 ekuivalen pada 2026, setara dengan 22 persen dari target sektor energi.
Sinergi dan Arahan Presiden
Presiden Prabowo mengingatkan agar keberhasilan bendungan dan B50 tidak membuat pemerintah berpuas diri. Ia memerintahkan percepatan lima bendungan tambahan yang ditargetkan selesai 2027, termasuk Bendungan Jragung di Jawa Tengah dan Bendungan Lau Simeme di Sumatra Utara. Selain itu, roadmap B60 sudah disiapkan untuk diuji coba pada 2028.
“Kedaulatan pangan dan energi adalah harga mati. Kita sudah menunjukkan, ketika seluruh komponen bangsa bersatu, target sebesar apa pun bisa tercapai,” kata Presiden menutup rapat. Ia juga meminta kementerian terkait menyelesaikan sertifikasi lahan irigasi seluas 150 ribu hektare yang akan terlayani oleh bendungan-bendungan baru agar petani segera merasakan manfaat langsung.
Para kepala daerah yang hadir menyambut positif arahan tersebut. Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Gita Ariadi, mengonfirmasi bahwa Bendungan Meninting telah mengubah pola tanam di wilayahnya dari satu kali menjadi tiga kali setahun. “Ini bukti nyata kerja bersama, dan kami siap menjaga aset ini,” ujarnya.
Dengan penuntasan proyek-proyek vital ini, pemerintah menegaskan bahwa pembangunan bukan sekadar retorika. Bendungan dan B50 menjadi tonggak penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional. Rapat koordinasi berikutnya dijadwalkan pada Juni 2026 untuk mengevaluasi serapan manfaat dan memastikan tidak ada penyimpangan di lapangan.
Baca juga:
Comments (0)