Petani Tasikmalaya Diminta Buat Biopori Antisipasi Kekeringan
Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya mengeluarkan instruksi resmi kepada seluruh petani di wilayah itu agar segera membuat lubang resapan biopori untuk menangkal ancaman kekeringan saat puncak musim ...
Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya mengeluarkan instruksi resmi kepada seluruh petani di wilayah itu agar segera membuat lubang resapan biopori untuk menangkal ancaman kekeringan saat puncak musim kemarau. Seruan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Antisipasi Kekeringan yang digelar di Ruang Pertemuan Dinas Pertanian, Rabu (12/6/2024), dan langsung direspons oleh perwakilan gabungan kelompok tani dari 39 kecamatan.
Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang hingga akhir Oktober, dengan potensi penurunan curah hujan mencapai 40 persen dibandingkan normal. Kondisi itu dikhawatirkan memicu kekeringan pada sedikitnya 2.800 hektare lahan pertanian padi dan palawija di Tasikmalaya bagian selatan dan timur.
Ancaman Gagal Panen di Ribuan Hektare
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya, H. Dedi Supriadi, menegaskan bahwa data historis menunjukkan kemarau panjang selalu diikuti lonjakan lahan kering dan gagal panen. "Tahun 2023 lalu, dari 3.200 hektare sawah tadah hujan, hampir 40 persen gagal tanam atau puso karena sumber air menyusut. Kami tidak ingin itu terulang," ujarnya.
Dedi menjelaskan, berdasarkan identifikasi sementara, terdapat tujuh kecamatan yang masuk zona merah kekeringan: Cikatomas, Karangnunggal, Cibalong, Pancatengah, Sodonghilir, Taraju, dan Salawu. Di wilayah-wilayah tersebut, sumur dalam dan irigasi desa mulai mengering sejak awal Juni.
Rapat koordinasi itu juga dihadiri oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tasikmalaya, Irwan Hermawan, yang memastikan pihaknya sudah menyiagakan 15 tangki air bersih dan 20 pompa air untuk distribusi darurat apabila kondisi memburuk.
Biopori: Lubang Kecil, Manfaat Besar
Teknologi biopori menjadi tumpuan utama mitigasi karena dinilai murah dan cepat diterapkan. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Cikatomas, Enung Siti Romlah, memaparkan bahwa satu lubang biopori berdiameter 10–30 sentimeter dengan kedalaman 80–100 sentimeter mampu meningkatkan kapasitas resapan air hingga 40 liter per menit saat hujan turun. Lubang itu diisi sampah organik seperti sisa dedaunan atau jerami, yang seiring waktu terurai menjadi kompos sekaligus menjaga rongga resapan tetap terbuka.
"Petani cukup membuat empat hingga lima lubang biopori di setiap petak sawah atau di sekitar saluran irigasi tersier. Dengan begitu, air hujan yang biasanya terbuang cepat sebagai limpasan permukaan bisa langsung tersimpan di dalam tanah dan menjaga kelembaban hingga kemarau berakhir," jelas Enung dalam sesi teknis rapat.
Dinas Pertanian menargetkan pembuatan minimal 12.000 lubang biopori di tujuh kecamatan prioritas sebelum akhir Juni 2024. Target itu akan dikerjakan secara bergotong royong oleh anggota Kelompok Tani (Poktan) yang dibina PPL setempat.
Dukungan Alat dan Kompensasi Pupuk
Untuk mempercepat realisasi, Dinas Pertanian menyiapkan 1.000 unit bor biopori manual yang akan didistribusikan secara gratis ke 200 kelompok tani penerima manfaat. Selain itu, setiap petani yang bersedia membuat minimal lima lubang biopori akan mendapat kompensasi berupa pupuk organik subsidi sebanyak 50 kilogram per hektare.
Kebijakan itu disambut antusias oleh Ketua Gapoktan Mekar Jaya Kecamatan Pancatengah, Ujang Rustandi. "Ini langkah konkret. Selama ini kami hanya pasrah menunggu hujan. Dengan biopori, kami bisa menyimpan air lebih lama. Apalagi ada bantuan bor, pekerjaan jadi lebih ringan," ujarnya.
Pemerintah kabupaten juga menggandeng akademisi dari Universitas Siliwangi untuk melakukan pendampingan dan monitoring efektivitas resapan biopori. Dosen Fakultas Pertanian, Dr. Ir. Yanti Sumarni, menambahkan bahwa metode ini akan dikombinasikan dengan pembuatan rorak di lahan miring guna menangkap aliran air sekaligus mencegah erosi.
Imbauan Tak Hanya Biopori
Selain biopori, Dinas Pertanian menginstruksikan petani menunda tanam padi di sawah tadah hujan hingga pertengahan Juli dan beralih ke palawija seperti jagung atau kedelai yang lebih tahan kekeringan. Bantuan benih palawija sebanyak 15 ton sudah disalurkan ke kantor-kantor Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di setiap kecamatan.
Kepala BPBD Irwan Hermawan mengingatkan agar masyarakat tidak membakar lahan atau jerami sisa panen di tengah kemarau karena berpotensi memicu kebakaran lahan yang sulit dikendalikan. "Kami akan mengerahkan satgas desa untuk patroli titik rawan. Pembakaran lahan sekecil apa pun akan ditindak tegas sesuai Perda Nomor 4 Tahun 2019 tentang Pengendalian Kebakaran Lahan," tegasnya.
Dengan strategi kombinatif—biopori, diversifikasi tanaman, dan distribusi air darurat—Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya berharap luas lahan gagal panen akibat kemarau tahun ini dapat ditekan di bawah 500 hektare, atau turun drastis dari tahun sebelumnya. Rapat koordinasi selanjutnya dijadwalkan pada 5 Juli 2024 untuk mengevaluasi progres di lapangan.
Baca juga:
Comments (0)