Pengukuhan Sesepuh Pondok Buntet Diharapkan Perkuat Keberlanjutan Dakwah dan Pendidikan
Cirebon, Apaberita – Prosesi pengukuhan sesepuh Pondok Buntet Pesantren yang berlangsung pada Sabtu (12/4) di kompleks pesantren di Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, mendapat sambutan luas ...
Cirebon, Apaberita – Prosesi pengukuhan sesepuh Pondok Buntet Pesantren yang berlangsung pada Sabtu (12/4) di kompleks pesantren di Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, mendapat sambutan luas dari berbagai kalangan. Momentum sakral tersebut dinilai tidak sekadar seremonial, melainkan menjadi titik tolak baru untuk menjamin kelangsungan misi dakwah, pengembangan pendidikan, serta upaya mewujudkan kemaslahatan bagi masyarakat luas.
Ketua Umum Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Pondok Buntet, KH. M. Hasanuddin, secara resmi memimpin prosesi pengukuhan terhadap KH. Ahmad Syahid sebagai sesepuh pesantren. Dalam sambutannya, KH. Hasanuddin menegaskan bahwa pengukuhan ini merupakan bagian dari kaderisasi kepemimpinan yang telah diamanatkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga YLPI sejak tahun 1978.
“Pengukuhan ini merupakan peneguhan komitmen untuk meneruskan perjuangan para muassis. Sesepuh yang baru dikukuhkan mengemban tugas berat menjaga marwah pesantren sebagai benteng akidah dan pusat peradaban Islam,”
ungkap KH. Hasanuddin.
Hadir dalam kesempatan tersebut sejumlah tokoh agama, akademisi, perwakilan pemerintah daerah, serta ribuan santri dan alumni. Tampak pula perwakilan dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
Simbol Keberlanjutan Kepemimpinan
Pengukuhan sesepuh di lingkungan Pondok Buntet Pesantren memiliki makna strategis dalam konteks keberlangsungan lembaga. Pondok Buntet yang didirikan oleh KH. Muhammad Abbas pada tahun 1750 merupakan salah satu pesantren tertua di Indonesia yang hingga kini tetap konsisten dalam mencetak kader ulama dan pemimpin umat.
Sesepuh yang baru dikukuhkan, KH. Ahmad Syahid, adalah figur yang telah mengabdi di lingkungan pesantren selama lebih dari empat dekade. Beliau sebelumnya menjabat sebagai Rais Syuriah dan dikenal memiliki kedalaman ilmu agama serta wawasan kebangsaan yang luas. Dalam pidato perdananya, KH. Ahmad Syahid menyampaikan harapan agar pesantren terus menjadi rujukan utama dalam pembinaan moral dan intelektual umat.
“Saya tidak memandang ini sebagai jabatan, melainkan tanggung jawab spiritual. Setiap langkah harus didasari niat untuk menjaga api dakwah tetap menyala,”
tegasnya.
Dakwah dan Pendidikan sebagai Pilar Utama
Keberlanjutan misi dakwah menjadi salah satu fokus utama yang mengemuka dalam prosesi pengukuhan. Pondok Buntet Pesantren selama ini dikenal memiliki jaringan dakwah yang luas, mulai dari pengajian rutin, majelis taklim, hingga program siaran radio dan media sosial yang menjangkau masyarakat urban dan pedesaan. Dengan adanya kepemimpinan sesepuh yang definitif, diharapkan seluruh program dakwah dapat berjalan lebih terstruktur dan responsif terhadap tantangan zaman.
Di bidang pendidikan, Pondok Buntet mengelola puluhan unit pendidikan mulai dari Raudhatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, hingga Sekolah Tinggi Agama Islam. Kepala Bidang Pendidikan YLPI, Drs. H. Abdul Ghofur, menyampaikan bahwa pengukuhan ini memberikan kepastian arah kebijakan pendidikan di pesantren.
“Kami berharap sesepuh dapat memberikan arahan strategis agar kurikulum pesantren tetap relevan, tanpa meninggalkan nilai-nilai salaf. Integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum harus terus diperkuat,”
ujar Abdul Ghofur.
Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah santri aktif di Pondok Buntet Pesantren mencapai lebih dari 11.000 orang yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia dan beberapa negara tetangga. Angka ini menunjukkan betapa besarnya peran pesantren dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kemaslahatan Umat sebagai Tujuan Akhir
Selain dakwah dan pendidikan, kemaslahatan umat menjadi cita-cita luhur yang selalu disandingkan dengan visi pesantren. Pondok Buntet Pesantren memiliki sejumlah unit usaha ekonomi produktif, mulai dari koperasi, pertanian, hingga lembaga keuangan mikro syariah yang dikelola secara profesional. Keberadaan sesepuh diharapkan mampu memperkuat koordinasi antara kegiatan keagamaan dan pemberdayaan ekonomi umat.
Anggota Dewan Pembina YLPI, Prof. Dr. H. Jajat Burhanuddin, yang juga Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, menyoroti pentingnya peran sesepuh dalam menjembatani tradisi pesantren dengan dinamika global.
“Ini bukan perkara mempertahankan yang lama, tetapi bagaimana menghadirkan solusi Islami untuk persoalan kontemporer. Pengukuhan ini harus menjadi momentum transformasi yang membawa maslahat lebih luas,”katanya.
Rangkaian acara pengukuhan ditutup dengan pembacaan doa dan ijazah amalan oleh para kiai sepuh. Suasana khidmat menyelimuti Masjid Agung Pondok Buntet yang menjadi saksi sejarah perjalanan panjang pesantren dalam membina umat.
Dengan dikukuhkannya KH. Ahmad Syahid sebagai sesepuh, seluruh sivitas Pondok Buntet Pesantren optimistis bahwa estafet kepemimpinan akan terus terjaga, sehingga misi dakwah, pendidikan, dan kemaslahatan bersama dapat bergulir tanpa henti untuk generasi mendatang.
Comments (0)