JAKARTA — Seorang pengemudi ojek online perempuan yang dikenal dengan nama Ester menyatakan bahwa dirinya harus memperpanjang jam operasional harian guna mengejar tingkat pendapatan yang dinilai memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya beban biaya operasional dan persaingan antar pengemudi di sektor transportasi berbasis aplikasi yang kian ketat.
Ester, yang sehari-hari mengoperasikan sepeda motor untuk melayani penumpang dan pengantaran barang, mengungkapkan bahwa pendapatan bersih yang diterimanya saat ini tidak lagi sebanding dengan durasi kerja yang dijalankan. Kondisi itu memaksanya mengambil order tambahan pada jam-jam yang sebelumnya tidak ia kerjakan, termasuk pada malam hari dan akhir pekan.
"Saya harus bekerja lebih lama untuk mengejar pendapatan yang dianggap cukup," ujar Ester menegaskan.
Pengakuan tersebut menggambarkan beban ganda yang ditanggung pengemudi ojek online perempuan. Selain menghadapi tekanan ekonomi, mereka juga berhadapan dengan persoalan keamanan, kesehatan, serta tanggung jawab domestik yang menuntut pembagian waktu tersendiri.
Beban Biaya Operasional dan Potongan Aplikasi
Dalam sejumlah kesempatan, kalangan pengemudi ojek online menyoroti besaran potongan yang dikenakan platform terhadap setiap transaksi. Potongan tersebut, ditambah biaya bahan bakar, perawatan kendaraan, serta cicilan sepeda motor, membuat pendapatan bruto yang tampak besar menyusut signifikan ketika dihitung sebagai penghasilan bersih.
Ester menuturkan bahwa dirinya perlu memastikan setiap hari ada order yang masuk dalam jumlah tertentu agar target pendapatan tercapai. Apabila jumlah order di bawah perkiraan, ia terpaksa menambah jam kerja pada hari berikutnya untuk menutup kekurangan.
Praktik memperpanjang jam kerja itu, menurutnya, bukan pilihan yang menyenangkan, melainkan konsekuensi dari struktur pendapatan yang menuntut volume order tinggi agar hasilnya layak.
Dimensi Gender dalam Kerja Platform
Persoalan yang dihadapi Ester tidak berdiri sendiri. Pengamat ketenagakerjaan menilai pekerja perempuan di sektor ekonomi platform menghadapi tantangan spesifik, mulai dari risiko pelecehan, keterbatasan akses fasilitas istirahat, hingga beban kerja perawatan rumah tangga yang tetap melekat.
Kondisi itu membuat pengemudi perempuan cenderung lebih rentan terhadap kelelahan dan gangguan kesehatan akibat durasi kerja yang panjang. Padahal, keselamatan berkendara sangat bergantung pada kondisi fisik dan konsentrasi pengemudi.
Ester menyatakan bahwa ia berupaya mengatur waktu istirahat di sela-sela order. Namun, ketika target pendapatan belum tercapai, istirahat kerap menjadi hal pertama yang dikorbankan.
Harapan Perlindungan dan Kebijakan yang Berpihak
Sejumlah organisasi pengemudi mendorong adanya kebijakan yang lebih berpihak kepada pekerja platform, termasuk kejelasan skema pendapatan, mekanisme keluhan yang transparan, serta jaminan sosial yang menjangkau seluruh pengemudi aktif.
Ester berharap pembenahan tersebut segera terwujud agar pengemudi perempuan tidak lagi harus memilih antara keselamatan dan pemenuhan kebutuhan ekonomi. Menurutnya, kerja yang layak seharusnya memungkinkan seseorang memperoleh penghasilan cukup tanpa mengorbankan kesehatan dan waktu istirahat.
Sementara itu, pemerintah melalui kementerian terkait terus mengkaji aturan mengenai hubungan kerja di sektor transportasi daring. Rancangan regulasi itu diarahkan untuk menata keseimbangan kepentingan antara pengemudi, pengguna jasa, dan penyedia aplikasi.
Hingga kini, Ester tetap menjalankan aktivitasnya sebagai pengemudi ojek online. Ia menegaskan bahwa perjuangan mengejar pendapatan layak akan terus dilakukan, sembari berharap ada perbaikan struktural yang membuat profesinya tidak lagi menuntut pengorbanan berlebihan.
Comments (0)