Pendinginan TPA Jatiwaringin Diperpanjang Pascapemadaman Total
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, memperpanjang operasi pendinginan di area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin menyusul keberhasilan pemadaman to...
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, memperpanjang operasi pendinginan di area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin menyusul keberhasilan pemadaman total kebakaran yang melanda fasilitas pengelolaan sampah tersebut. Keputusan ini diambil dalam Rapat Koordinasi lintas sektor yang digelar pada Senin, 14 April 2025, di Posko Utama BPBD Kabupaten Tangerang. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tangerang menegaskan bahwa meskipun titik api telah dinyatakan padam sepenuhnya pada Minggu petang, potensi kemunculan kembali bara di tumpukan sampah yang menggunung masih tergolong tinggi karena reaksi dekomposisi material organik yang terus menghasilkan gas metana.
"Kami tidak ingin mengambil risiko. Secara visual api memang sudah tidak terlihat, namun suhu di beberapa titik kedalaman masih terpantau di atas 80 derajat Celsius. Proses pendinginan akan diperpanjang hingga kondisi benar-benar aman dan stabil," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tangerang, Ujat Sudrajat, dalam konferensi pers di lokasi kejadian.
Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, kebakaran di TPA Jatiwaringin pertama kali dilaporkan oleh petugas jaga pada Sabtu, 12 April 2025, sekitar pukul 21.30 WIB. Api diduga berasal dari akumulasi gas metana yang tersulut oleh suhu tinggi di permukaan tumpukan sampah. Dalam kurun waktu kurang dari dua jam, kobaran api dengan cepat merambat ke zona penimbunan aktif seluas kurang lebih 1,2 hektare. BPBD Kabupaten Tangerang langsung mengerahkan lima unit armada pemadam kebakaran yang diperkuat oleh bantuan dari Dinas Pemadam Kebakaran Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan.
Tahapan Pemadaman dan Strategi Sektoral
Operasi pemadaman berlangsung dalam tiga tahap utama yang ditetapkan berdasarkan hasil Rapat Koordinasi antara BPBD, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang, serta perangkat kecamatan dan desa setempat. Tahap pertama difokuskan pada lokalisasi area terdampak dengan membuat sekat bakar dan kanal pemutus di sekeliling zona yang terbakar. Langkah ini berhasil menahan perluasan api agar tidak merembet ke area pemukiman warga yang berjarak sekitar 400 meter dari batas TPA.
Tahap kedua yang dijalankan pada Minggu dini hari mengandalkan metode water bombing menggunakan armada pemadam berkapasitas total 15.000 liter air per siklus penyemprotan. Pengisian ulang tangki air dilakukan secara bergilir di sumber air terdekat yang berjarak tiga kilometer dari lokasi. Sementara itu, tahap ketiga yang dimulai pada Minggu siang menerapkan teknik penyuntikan air bertekanan tinggi langsung ke dalam lapisan sampah terdalam guna mematikan bara yang tersembunyi di bawah permukaan.
"Kami menggunakan pola sektoral. Zona terdampak kami bagi menjadi delapan sektor penanganan. Setiap sektor ditangani oleh satu regu dengan satu armada dan satu komandan lapangan. Ini memudahkan koordinasi dan memastikan tidak ada area yang terlewat," jelas Ujat Sudrajat menindaklanjuti pertanyaan awak media terkait strategi operasional yang diterapkan.
Pengerahan Personel dan Peralatan Pendukung
Secara keseluruhan, operasi gabungan ini melibatkan 87 personel dari berbagai unsur. Rinciannya mencakup 42 personel BPBD Kabupaten Tangerang, 18 personel Damkar Kota Tangerang, 12 personel Damkar Kota Tangerang Selatan, 10 personel TNI dan Polri, serta 5 relawan kebencanaan dari organisasi masyarakat setempat. Dukungan logistik selama operasi disalurkan oleh Dinas Sosial Kabupaten Tangerang yang mendirikan dapur umum dan pos kesehatan di perimeter lokasi.
Selain armada pemadam, BPBD juga mengerahkan dua unit alat berat berupa ekskavator untuk membongkar dan memisahkan tumpukan sampah yang masih menyimpan bara. Proses pembongkaran ini menjadi kunci dalam memastikan bahwa pendinginan dapat menjangkau lapisan sampah terdalam yang memiliki ketebalan mencapai 15 hingga 20 meter di zona penimbunan aktif. Alat pemantau suhu inframerah juga digunakan secara berkala setiap dua jam untuk memetakan titik-titik yang masih menyimpan energi panas signifikan.
Dampak Lingkungan dan Respons Kesehatan Masyarakat
Asap tebal yang sempat menyelimuti kawasan sekitar TPA Jatiwaringin selama dua hari berturut-turut memicu kekhawatiran warga di Desa Jatiwaringin dan Desa Bojong Renged. Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang melalui Puskesmas setempat mencatat 34 warga mengalami keluhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) ringan. Pemerintah desa telah membagikan 2.500 masker N95 kepada warga yang bermukim di radius satu kilometer dari TPA sebagai langkah preventif.
"Kualitas udara di tiga titik pemantauan menunjukkan peningkatan signifikan dalam 24 jam terakhir. Indeks Standar Pencemar Udara sudah kembali ke level sedang. Namun kami tetap mengimbau warga, khususnya kelompok rentan seperti lansia dan balita, untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan hingga proses pendinginan dinyatakan selesai," terang Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dalam keterangan tertulis yang diterima pada Senin siang.
Evaluasi dan Langkah Antisipasi Jangka Panjang
Peristiwa kebakaran TPA Jatiwaringin ini menjadi yang ketiga kalinya dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Menindaklanjuti hal tersebut, Bupati Tangerang telah memerintahkan Dinas Lingkungan Hidup untuk melakukan audit teknis terhadap sistem pengelolaan gas metana di seluruh TPA yang berada di wilayah Kabupaten Tangerang. Hasil audit tersebut dijadwalkan akan disampaikan dalam Rapat Pleno evaluasi kebencanaan yang akan digelar pada akhir April 2025.
"Kami akan memasang pipa ventilasi gas tambahan di zona penimbunan aktif. Selain itu, sistem pemantauan suhu berbasis sensor akan dipasang secara permanen di tiga titik strategis sebagai bagian dari sistem peringatan dini. Ini adalah keputusan yang sudah disahkan dalam rapat koordinasi hari ini," tegas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik.
Sementara itu, operasi pendinginan di TPA Jatiwaringin diperkirakan akan berlangsung hingga Rabu, 16 April 2025. Seluruh armada pemadam masih disiagakan di lokasi dengan sistem rotasi tiga sif untuk memastikan penyemprotan berjalan tanpa jeda. BPBD Kabupaten Tangerang juga menyatakan bahwa status tanggap darurat belum akan dicabut sebelum hasil pemantauan suhu menunjukkan seluruh titik berada di bawah ambang batas aman, yakni 40 derajat Celsius.
Baca juga:
Comments (0)