Pendinginan TPA Jatiwaringin Berlanjut Pascapemadaman oleh BPBD Tangerang
Proses pendinginan di area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin masih terus berlangsung. Langkah ini diambil sebagai prosedur lanjutan pasca-pemadaman kebakaran yang melanda fasilitas pengelolaa...
Proses pendinginan di area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin masih terus berlangsung. Langkah ini diambil sebagai prosedur lanjutan pasca-pemadaman kebakaran yang melanda fasilitas pengelolaan sampah tersebut.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Banten, mengerahkan personel serta armada tangki air untuk menyisir titik-titik yang berpotensi menyimpan bara api. Operasi pendinginan ini diprioritaskan pada tumpukan sampah dengan kedalaman signifikan, karena material organik yang terpendam kerap menyulut api kembali meskipun permukaan telah terlihat padam.
"Kami tidak ingin kecolongan. Pengalaman sebelumnya, api bisa muncul lagi dari dalam timbunan yang belum benar-benar dingin," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tangerang dalam keterangan resminya.
Strategi Penyisiran Bara Tersembunyi
Tim di lapangan menerapkan metode penyemprotan air bertekanan ke dalam celah-celah timbunan. Teknik ini dinilai lebih efektif menjangkau sumber panas di kedalaman 3 hingga 5 meter. Setidaknya lima unit mobil tangki dikerahkan secara bergantian, menyuplai ribuan liter air ke zona-zona yang terindikasi masih mengeluarkan asap tipis.
Selain penyemprotan, petugas juga melakukan pembongkaran terbatas pada bagian timbunan tertentu. Material sampah yang telah dingin dipisahkan, sementara yang masih hangat segera didinginkan sebelum ditumpuk kembali. Langkah ini memakan waktu karena mengandalkan alat berat yang bergerak di medan tidak stabil pascakebakaran.
"Kondisi eksisting cukup menantang. Tanah di beberapa titik menjadi labil akibat proses pembakaran di bawah permukaan. Kami harus memastikan keamanan operator alat berat sebelum melanjutkan pembongkaran," jelas Komandan Regu Lapangan BPBD.
Evaluasi Dampak dan Langkah Antisipasi
Berdasarkan data sementara, area yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai dua hektar dari total luas TPA. Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Tangerang mencatat, peristiwa ini merupakan kebakaran ketiga di lokasi serupa dalam kurun dua tahun. Faktor cuaca kemarau serta akumulasi gas metana dari tumpukan sampah organik menjadi pemicu dominan.
Sebagai antisipasi jangka pendek, BPBD berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan untuk memasang pipa ventilasi gas di beberapa titik baru. Pipa-pipa ini berfungsi mengalirkan gas metana yang terperangkap agar tidak terakumulasi dan memicu kebakaran spontan.
"Kami juga mengusulkan penambahan sistem deteksi dini berupa sensor suhu di zona-zona rawan," tambah Kepala Pelaksana BPBD.
Imbauan bagi Masyarakat Sekitar
Meskipun api telah padam, dampak asap masih dirasakan warga di permukiman sekitar TPA. BPBD mengimbau masyarakat, terutama kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak, untuk membatasi aktivitas luar ruangan saat konsentrasi asap meningkat. Puskesmas terdekat telah disiagakan guna mengantisipasi keluhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
"Kami bagikan masker secara gratis di posko kesehatan sementara. Masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan agar segera memeriksakan diri," tegas juru bicara BPBD.
Proses pendinginan diperkirakan berlangsung hingga beberapa hari ke depan. Status siaga darurat masih dipertahankan, dan evaluasi berkala akan dilakukan setiap enam jam sekali untuk menentukan kapan lokasi dinyatakan benar-benar aman. Kejadian ini kembali mendorong perlunya audit sistem pengelolaan gas di seluruh TPA di Provinsi Banten.
Baca juga:
Comments (0)