Pemkot Semarang Ungkap Penyebab Kematian Harimau Putih Anggun
Pemerintah Kota Semarang melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Handi Priyanto secara resmi mengungkap penyebab matinya harimau putih bernama Anggun yang menjadi salah satu koleksi satwa unggulan di Semara...
Pemerintah Kota Semarang melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Handi Priyanto secara resmi mengungkap penyebab matinya harimau putih bernama Anggun yang menjadi salah satu koleksi satwa unggulan di Semarang Zoo. Satwa langka dengan bulu putih eksotis tersebut ditemukan tidak bernyawa oleh petugas kebun binatang pada Kamis dinihari, 24 Juli 2026. Kematian Anggun sontak menyita perhatian publik lantaran harimau putih merupakan spesies yang sangat jarang ditemukan di alam liar dan menjadi ikon konservasi di lembaga itu.
Handi Priyanto dalam keterangan persnya di Balai Kota Semarang, Jumat (25/7/2026), menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan tim medis veteriner untuk melakukan nekropsi guna memastikan penyebab kematian secara ilmiah. "Kami ingin transparan kepada masyarakat. Ini adalah bagian dari akuntabilitas pengelolaan satwa di bawah naungan pemerintah daerah," tegasnya.
Kronologi Kematian Harimau Putih Anggun
Menurut laporan dari pengelola Semarang Zoo, harimau betina berusia 15 tahun 8 bulan itu terpantau mengalami penurunan nafsu makan dalam tiga hari terakhir menjelang kematiannya. Petugas kandang (keeper) pada Rabu (23/7/2026) sore mendapati Anggun lesu dan menolak daging segar yang biasa menjadi pakan hariannya. Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Semarang Zoo, Mulyono, menginstruksikan observasi intensif dan segera menghubungi dokter hewan jaga. Namun, pada pukul 02.15 WIB Kamis dinihari, saat dilakukan pengecekan rutin, harimau tersebut sudah dalam kondisi kaku dan tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Kematian Anggun menimbulkan duka mendalam bagi para perawat satwa yang telah merawatnya sejak pertama kali didatangkan ke Semarang Zoo pada tahun 2017 dari sebuah lembaga konservasi di Jawa Timur. Selama sembilan tahun dirawat, harimau itu dikenal memiliki temperamen tenang dan kerap menjadi objek edukasi bagi pengunjung anak-anak.
Hasil Nekropsi dan Penyebab Kematian
Handi Priyanto memaparkan bahwa tim medis yang terdiri dari dokter hewan Dinas Pertanian Kota Semarang, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, dan dokter hewan praktisi telah melakukan nekropsi pada pukul 09.00 WIB pagi harinya. Hasil pemeriksaan menyimpulkan bahwa penyebab utama kematian Anggun adalah gagal ginjal kronis stadium akhir yang diperparah oleh komplikasi degeneratif akibat usia lanjut.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan menyeluruh terhadap organ dalam, kami menemukan adanya atrofi ginjal bilateral yang sangat signifikan. Kondisi ini umum terjadi pada kucing besar yang memasuki usia 15 tahun ke atas, terutama di lingkungan eksitu seperti kebun binatang. Tidak ditemukan indikasi penyakit menular seperti feline panleukopenia atau infeksi saluran pernapasan akut, dan juga bukan disebabkan oleh kelalaian perawatan," ujar Handi Priyanto membacakan ringkasan laporan nekropsi.
Sekda menambahkan bahwa sampel jaringan telah dikirim ke Balai Besar Veteriner Wates, Yogyakarta, untuk uji histopatologi lebih lanjut guna memastikan tidak ada faktor toksikologi yang berperan. "Kami tunggu hasil resminya dalam dua pekan ke depan. Ini prosedur standar untuk evaluasi kesehatan populasi satwa di lembaga konservasi," imbuhnya.
Langkah Pemerintah Kota dan Penanganan Satwa Lain
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Pemerintah Kota Semarang berencana melakukan audit menyeluruh terhadap tata kelola kesehatan satwa di Semarang Zoo. Handi Priyanto menyatakan bahwa Wali Kota Semarang telah memerintahkan Dinas Pertanian dan UPTD Semarang Zoo untuk menyusun protokol perawatan hewan geriatri (lanjut usia) secara lebih komprehensif.
"Kami telah menginstruksikan agar setiap satwa yang berusia di atas 12 tahun mendapatkan pemeriksaan darah lengkap, ultrasonografi abdomen, dan evaluasi fungsi ginjal setiap enam bulan sekali. Selain itu, kami akan memperbarui rekam medis digital untuk seluruh 237 spesies yang ada di kebun binatang ini," jelas Handi.
Semarang Zoo saat ini masih memiliki satu ekor harimau putih lainnya, yaitu jantan bernama Bimo yang berusia 9 tahun. Kondisi Bimo dilaporkan sehat dan aktif. Namun, sebagai langkah pencegahan, tim dokter hewan akan menjalankan general check-up pada Bimo dan harimau Bengal lainnya dalam waktu dekat.
Kematian Anggun juga memicu diskusi mengenai rencana penambahan koleksi harimau putih melalui program pertukaran satwa dengan lembaga konservasi lain. Handi Priyanto mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menjajaki kerja sama dengan Taman Safari Indonesia dan Kebun Binatang Surabaya untuk mendatangkan harimau putih muda guna menjaga kesinambungan program edukasi dan konservasi.
Dengan pengungkapan penyebab kematian ini, Pemkot Semarang berharap publik tidak berspekulasi negatif dan tetap mendukung upaya konservasi satwa di kebun binatang milik pemerintah daerah tersebut. "Transparansi ini kami lakukan sebagai bentuk tanggung jawab moral. Satwa adalah aset publik yang harus dilindungi bersama," tutup Handi Priyanto.
Comments (0)