PDIP Resmikan Monumen Kudatuli di Kantor DPP 27 Juli
Jakarta, Apaberita – Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPP PDIP) akan meresmikan Monumen Kudatuli di kompleks kantor partai, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, pada 27 Juli 2...
Jakarta, Apaberita – Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPP PDIP) akan meresmikan Monumen Kudatuli di kompleks kantor partai, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, pada 27 Juli 2026. Peresmian monumen ini menjadi penanda peringatan 30 tahun peristiwa kelam penyerbuan kantor DPP PDI—sebelum menjadi PDIP—yang dikenal sebagai Kudatuli atau Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli 1996. Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan, pembangunan monumen merupakan ikhtiar partai untuk menjaga ingatan sejarah perjuangan demokrasi.
"Monumen Kudatuli ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan monumen jiwa, saksi bisu perlawanan kader terhadap represi Orde Baru. Kami resmikan tepat di hari bersejarah itu, sebagai pesan bahwa demokrasi dibangun di atas pengorbanan," ujar Hasto di sela peninjauan akhir lokasi, Jumat (18/7).
Dalam struktur yang disusun panitia internal, acara peresmian akan dimulai pukul 08.00 WIB dengan upacara mengenang lima korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Rencananya, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri akan memimpin prosesi pembukaan selubung prasasti dan relief perjuangan. Sejumlah tokoh nasional, aktivis 98, keluarga korban, serta seluruh jajaran pengurus pusat dan daerah dijadwalkan hadir.
Relief Sejarah dan Nama Korban
Pantauan Apaberita, monumen setinggi 7 meter yang dibangun di sudut depan kantor DPP PDIP itu memadukan elemen granit hitam dengan panel relief perunggu sepanjang 12 meter. Relief menggambarkan kronologi peristiwa Kudatuli—mulai dari pengambilalihan kantor DPP PDI oleh pendukung Soerjadi pada 20 Juni 1996, mobilisasi massa pendukung Megawati, hingga penyerbuan brutal pada 27 Juli dini hari yang menewaskan lima orang dan melukai puluhan lainnya.
Di bagian tengah monumen, tertulis lima nama korban tewas: Ichsan, Budi, Jajang, Dedi, dan Herman—semuanya kader pendukung Megawati. Tulisan "Mereka Gugur untuk Demokrasi" terpahat di atas deretan nama itu. Seorang arsitek dari tim pembangunan yang enggan disebutkan namanya menyebut, monumen dirancang dengan filosofi “air mata dan darah yang berubah menjadi tiang pancang demokrasi”.
"Kami ingin setiap orang yang melintas di Jalan Diponegoro bisa berhenti sejenak, membaca relief, dan merenungi bahwa jalan menuju reformasi tidak mulus. Ini pelajaran abadi bagi generasi penerus," kata Hasto menambahkan.
Makna Politik Tiga Dekade
Dihubungi terpisah, pengamat politik dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Widjajanto, menilai peresmian Monumen Kudatuli memiliki irisan kuat dengan dinamika politik kontemporer. "Di tengah tarik-menarik wacana revisi UU Politik dan isu pelemahan demokrasi, PDIP hendak mengirim pesan bahwa partai ini lahir dari rahim perlawanan. Monumen ini menjadi modal narasi historis yang kuat," ujarnya.
Peristiwa Kudatuli sendiri menjadi titik tolak lahirnya PDIP. Setelah kantor DPP PDI diambil alih, dukungan publik justru menguat kepada Megawati. Pada Pemilu 1999, PDIP keluar sebagai pemenang dengan perolehan 33,7 persen suara. Hingga kini, peringatan Kudatuli selalu menjadi agenda tahunan partai berlambang banteng moncong putih itu.
Seorang kader senior yang ikut saat kejadian, Jefri R. Sitorus, menuturkan kepada Apaberita bahwa monumen ini menjawab kerinduan para korban selamat. "Kami menunggu 30 tahun. Sekarang, anak cucu bisa melihat bahwa pengorbanan kami tidak sia-sia. Dulu di gedung ini kami hanya bisa menangis, sekarang kami tersenyum," katanya dengan suara bergetar.
Protokol dan Akses Terbatas
Kepala Bagian Umum DPP PDIP, Guntur Siregar, mengonfirmasi bahwa peresmian akan digelar dengan protokol ketat. Tamu undangan dibatasi maksimal 500 orang, mencakup perwakilan fraksi di parlemen, ketua DPD se-Indonesia, serta delegasi partai sahabat dari dalam dan luar negeri. Masyarakat umum dapat menyaksikan melalui kanal media pdip secara langsung.
"Kami sudah berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya untuk pengamanan. Rekayasa lalu lintas akan diterapkan di sekitar Jalan Diponegoro pukul 06.00—12.00 WIB," tandas Guntur.
Pembangunan monumen tersebut disebutkan sepenuhnya dibiayai sumbangan sukarela kader dan simpatisan, bukan dari dana APBN atau bantuan partai politik. Hasto memastikan tidak ada satu rupiah pun yang bersumber dari kantong negara. "Ini murni partisipasi kader sebagai wujud cinta pada perjuangan," ujarnya.
Dengan diresmikannya Monumen Kudatuli, PDIP menorehkan kembali lembaran sejarah yang membentuk wajah politik Indonesia modern. Monumen itu akan menjadi pengingat abadi bahwa demokrasi yang dinikmati hari ini merupakan buah dari darah dan air mata para aktivis yang bertahan di gedung tua di Jalan Diponegoro, tiga dekade silam.
Comments (0)