Inspeksi Mesin Pirolisis di Yayasan Get Plastic Sleman

Sejumlah petugas teknis melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap unit mesin pirolisis di kompleks Pengolahan Sampah Plastik Pirolisis milik Yayasan Get Plastic Indonesia, yang berlokasi di Cupuwatu I...

Jul 20, 2026 - 00:52
0 0
Inspeksi Mesin Pirolisis di Yayasan Get Plastic Sleman

Sejumlah petugas teknis melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap unit mesin pirolisis di kompleks Pengolahan Sampah Plastik Pirolisis milik Yayasan Get Plastic Indonesia, yang berlokasi di Cupuwatu II, Purwomartani, Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Kamis (17/7). Inspeksi tersebut merupakan bagian dari prosedur rutin untuk memastikan seluruh komponen mesin berfungsi optimal dalam mengonversi sampah plastik menjadi bahan bakar cair.

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Divisi Operasional Yayasan Get Plastic Indonesia, Heru Prasetyo, yang didampingi oleh tim teknisi dan perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman. Dalam keterangannya, Heru menyatakan bahwa pengecekan kali ini difokuskan pada sistem pemanas reaktor, unit kondensasi, serta mekanisme pengendalian suhu yang menjadi jantung teknologi pirolisis. "Kami menargetkan tidak ada kendala teknis yang menghambat proses produksi, mengingat permintaan bahan bakar hasil daur ulang plastik terus meningkat dari masyarakat sekitar," ujarnya.

Kondisi Mesin Pirolisis dan Kapasitas Produksi

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, seluruh komponen utama mesin pirolisis dalam kondisi prima. Mesin dengan spesifikasi kapasitas reaktor 500 kilogram per siklus tersebut mampu memproses limbah plastik jenis polipropilena, polietilena, dan polistirena menjadi bahan bakar setara solar dan bensin. Teknisi senior Yayasan Get Plastic, Anton Widodo, menjelaskan bahwa pihaknya secara berkala melakukan overhaul minor setiap tiga bulan untuk menjaga efisiensi termal tetap di atas 85 persen.

Tidak hanya itu, sistem keamanan reaktor yang dilengkapi sensor tekanan dan suhu otomatis juga turut diverifikasi. "Dengan perawatan intensif, mesin ini dapat beroperasi hingga 16 jam per hari tanpa henti," kata Anton. Ia menambahkan, dalam satu hari operasi penuh, unit pirolisis tersebut menghasilkan sekitar 250 liter bahan bakar cair yang telah dimanfaatkan oleh bengkel-bengkel kecil maupun kelompok tani di wilayah Kalasan dan sekitarnya.

Dukungan Pengelolaan Sampah Plastik di Yogyakarta

Inspeksi ini juga menjadi momentum evaluasi kerja sama antara yayasan dengan pemerintah daerah dalam menangani persoalan sampah plastik yang kian mendesak. Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Sleman, Retno Wulandari, menuturkan bahwa fasilitas pirolisis di Purwomartani merupakan percontohan yang strategis. "Kami mencatat volume sampah plastik di Sleman mencapai 42,7 ton per hari pada tahun 2025, dan baru sekitar 18 persen yang terolah melalui jalur daur ulang atau konversi energi," jelas Retno.

Pemerintah Kabupaten Sleman, imbuhnya, telah mengalokasikan anggaran pendampingan sebesar Rp2,3 miliar pada tahun ini untuk mendukung operasional tiga unit pirolisis serupa, termasuk yang dikelola Yayasan Get Plastic. Sinergi ini diharapkan mampu meningkatkan cakupan pengolahan sampah plastik menjadi 30 persen dalam dua tahun ke depan. Adapun Yayasan Get Plastic berkomitmen memperluas jangkauan pengumpulan plastik dengan menambah 10 titik bank sampah di Kecamatan Kalasan, Ngemplak, dan Prambanan.

Teknologi Pirolisis untuk Zero Waste

Pemanfaatan teknologi pirolisis sebagai solusi pengurangan timbulan sampah plastik terus didorong oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui program Zero Waste 2040. Dalam konteks inilah, pemeriksaan rutin terhadap mesin pirolisis bukan sekadar kegiatan teknis, melainkan bagian dari upaya terstruktur membangun ekonomi sirkular di tingkat komunitas. Dekan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ir. Budi Santoso, M.T., yang hadir dalam inspeksi tersebut menyampaikan bahwa pirolisis memiliki keunggulan karena tidak menghasilkan emisi dioksin berbahaya jika dioperasikan sesuai standar suhu di atas 400 derajat Celsius.

"Yayasan Get Plastic telah membuktikan bahwa teknologi ini aplikatif di skala menengah dan dapat direplikasi di daerah lain. Kami dari akademisi siap mendampingi dari sisi riset dan pengembangan katalis untuk meningkatkan kualitas bahan bakar yang dihasilkan," ujar Prof. Budi. Hasil uji laboratorium terbaru menunjukkan bahwa angka setana bahan bakar solar dari pirolisis mencapai 48, mendekati standar solar komersial.

Sementara itu, Yayasan Get Plastic merencanakan penambahan satu unit reaktor baru berkapasitas 1.000 kilogram pada akhir tahun 2025. Heru Prasetyo menutup keterangannya dengan optimistis bahwa fasilitas Purwomartani akan menjadi episentrum pengolahan sampah plastik terpadu di wilayah selatan Yogyakarta. "Ke depan, kami juga akan memproduksi refuse-derived fuel untuk kebutuhan industri semen dan pembangkit listrik, sehingga tidak ada lagi plastik yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir," pungkasnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User