Papan Interaktif Digital Jadi Kunci Lompatan Belajar Indonesia
Jakarta, Apaberita – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengumumkan hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang menempatkan...
Jakarta, Apaberita – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengumumkan hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang menempatkan Indonesia pada posisi masih memerlukan akselerasi di tiga bidang utama. Data resmi menunjukkan skor kemampuan membaca berada di angka 359, kemampuan matematika 366, dan sains 383. Angka ini mencerminkan capaian siswa berusia 15 tahun yang menjadi sampel penilaian global.
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, dalam Rapat Koordinasi Terbatas di Kantor Kemendikbudristek, Senin (15/1/2024), menegaskan bahwa hasil tersebut tidak mengejutkan. “Angka ini adalah cerminan dari learning loss selama pandemi dan ketimpangan akses pendidikan yang belum sepenuhnya pulih. Kami sudah memperkirakan adanya stagnasi, dan ini menjadi pemicu untuk merealisasikan lompatan belajar yang telah kami rancang,” ujarnya.
Perbandingan dan Tantangan Struktural
Berdasarkan rilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), rata-rata skor negara anggota di bidang membaca adalah 476, matematika 472, dan sains 485. Dengan demikian, capaian Indonesia masih berada di bawah rata-rata global. Namun, Menteri Nadiem menolak menyebut hasil ini sebagai kemunduran, melainkan sebagai baseline baru pasca-darurat pendidikan. “Kita tidak bisa membandingkan secara linier karena metode sampling dan partisipasi antarnegara berubah. Yang penting, sekarang kita punya peta jalan digital untuk mengejar ketertinggalan,” tegasnya.
Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah, saat ditemui di Gedung Parlemen, Selasa (16/1/2024), menyatakan keprihatinannya. “Skor 359 untuk membaca sungguh memprihatinkan. Artinya, kemampuan literasi dasar anak-anak kita masih jauh dari harapan. Tanpa literasi kuat, transformasi digital hanya akan menjadi proyek mercusuar,” katanya. Ia mendesak pemerintah untuk tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga melakukan penguatan pelatihan guru dan penyediaan bahan bacaan bermutu.
Program Papan Interaktif Digital sebagai Katalis Lompatan Belajar
Di tengah sorotan tajam terhadap skor PISA, Kemendikbudristek justru mempercepat peluncuran program Papan Interaktif Digital (PID) di 50.000 sekolah dasar dan menengah di 214 kabupaten/kota prioritas. Program yang dianggarkan melalui APBN 2024 sebesar Rp7,8 triliun ini menargetkan pemasangan perangkat layar sentuh interaktif lengkap dengan konten pembelajaran adaptif berbasis kecerdasan buatan.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Iwan Syahril, dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi X, Rabu (17/1/2024), menjelaskan bahwa papan interaktif bukan sekadar pengganti papan tulis. “Ini adalah ekosistem belajar yang terintegrasi dengan Asesmen Nasional. Setiap interaksi siswa terekam, dianalisis, dan langsung menghasilkan rekomendasi materi pengayaan sesuai level kompetensi masing-masing. Dengan cara inilah kami harapkan lompatan belajar terjadi, bukan evolusi pelan-pelan,” paparnya.
Iwan menambahkan, uji coba di 1.200 sekolah dampingan Tanoto Foundation dan program Organisasi Penggeran menunjukkan peningkatan kemampuan numerasi hingga 22 poin dalam enam bulan. “Jika direplikasi secara nasional dengan pengawasan ketat, kami optimistis skor PISA 2025 nanti bisa melampaui 400 untuk ketiga bidang,” klaimnya.
Kritik dan Kewaspadaan
Meskipun program PID digadang-gadang sebagai solusi, sejumlah pakar pendidikan mengingatkan risiko ketergantungan pada perangkat. Pengamat kebijakan pendidikan dari Universitas Indonesia, Prof. Arief Rachman, mengingatkan bahwa infrastruktur listrik dan internet di daerah terpencil masih menjadi batu sandungan. “Jangan sampai papan canggih hanya berfungsi di kota, sementara sekolah di pelosok semakin tertinggal. Perlu ada audit berkala dan pendampingan teknis yang terus-menerus,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Unifah Rosyidi, menyambut baik inisiatif digital namun menuntut pelatihan massif. “Guru-guru kami harus diberi modul pengoperasian dan strategi mengajar dengan perangkat ini. Tanpa itu, Rp7,8 triliun hanya akan menjadi pajangan di kelas,” katanya dalam Forum Diskusi Pendidikan di Jakarta, Kamis (18/1/2024). Menanggapi hal ini, Kemendikbudristek telah menyiapkan pelatihan berjenjang bagi 300.000 guru sepanjang tahun 2024 melalui platform Merdeka Mengajar dan kemitraan dengan 42 Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).
Langkah Selanjutnya
Wakil Presiden Ma’ruf Amin, dalam Rapat Pleno Dewan Pendidikan Nasional, Jumat (19/1/2024), menegaskan bahwa lompatan belajar adalah mandat UU Sisdiknas. “Papan Interaktif Digital ini bukan proyek sesaat, tetapi bagian dari ekosistem pendidikan kita yang berkelanjutan. Saya minta seluruh kementerian dan pemerintah daerah menyelaraskan program, jangan tumpang tindih,” ucapnya. Pemerintah menargetkan pada 2027, seluruh sekolah di Indonesia—sekitar 216.000 satuan pendidikan—sudah terhubung dengan perangkat PID, sejalan dengan target Indonesia Emas 2045.
Dengan skor PISA saat ini sebagai titik tolak, publik menanti apakah lompatan belajar melalui papan interaktif digital mampu menjadi game changer atau sekadar jargon politik pendidikan. Menteri Nadiem menutup pernyataannya dengan optimisme terukur. “Transformasi ini tidak instan. Tapi saya pastikan, setiap rupiah yang dikeluarkan akan diawasi ketat, dan saya akan mempertanggungjawabkannya langsung kepada Presiden dan rakyat,” pungkasnya.
Baca juga:
Comments (0)