Panas! Rusia Tembak Jatuh Puluhan Rudal Ukraina di Kota Kelahiran Putin

Ketegangan antara Rusia dan Ukraina kembali memuncak setelah Rusia mengklaim berhasil menembak jatuh puluhan drone Ukraina di atas langit Saint Petersburg, kota kelahiran Presiden Vladimir Putin. Ser

Jul 07, 2026 - 23:04
0 0
Panas! Rusia Tembak Jatuh Puluhan Rudal Ukraina di Kota Kelahiran Putin

Ketegangan antara Rusia dan Ukraina kembali memuncak setelah Rusia mengklaim berhasil menembak jatuh puluhan drone Ukraina di atas langit Saint Petersburg, kota kelahiran Presiden Vladimir Putin. Serangan udara ini terjadi hanya beberapa hari setelah gelombang rudal Rusia menghantam ibu kota Ukraina, Kyiv, dan menewaskan sedikitnya 30 orang. Menurut laporan Apaberita.com, peristiwa ini menjadi salah satu serangan jarak jauh paling berani yang dilakukan Ukraina ke wilayah yang dianggap memiliki arti simbolis tinggi bagi Rusia.

Kronologi Serangan di Saint Petersburg

Berdasarkan keterangan Kementerian Pertahanan Rusia yang diterima Apaberita.com, puluhan drone tak berawak (UAV) terdeteksi mendekati wilayah Saint Petersburg pada dini hari. Sistem pertahanan udara dan peperangan elektronik segera diaktifkan dan berhasil menghancurkan seluruh drone sebelum mencapai sasaran. Tidak ada korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur vital dalam insiden tersebut. Meski demikian, ledakan di udara sempat memicu kepanikan warga yang mendengar dentuman dan menyaksikan kilatan api di langit malam.

Rekaman amatir yang beredar di media sosial menunjukkan gumpalan asap dan percikan api setelah intersepsi. Beberapa warga mengaku terkejut karena sirene peringatan dini yang biasanya hanya berfungsi saat latihan, tiba-tiba meraung di tengah malam. Bagi banyak penduduk Saint Petersburg, ini adalah pengalaman pertama merasakan ancaman perang langsung di kota mereka sejak pengepungan Leningrad pada Perang Dunia II.

Ukraina Makin Berani Serang Jantung Rusia

Serangan ini menandai babak baru dalam strategi militer Ukraina yang semakin sering menyasar titik-titik strategis dan simbolis jauh di dalam wilayah Federasi Rusia. Selama beberapa bulan terakhir, drone buatan Ukraina telah menghantam kilang minyak, pangkalan udara, dan pusat logistik militer Rusia sebagai balasan atas invasi yang telah berlangsung sejak Februari 2022. Namun, menargetkan Saint Petersburg merupakan eskalasi signifikan karena kota itu tidak hanya menjadi pusat budaya dan ekonomi, tetapi juga tempat kelahiran dan kebanggaan politik Putin.

Seorang sumber di lingkungan intelijen Ukraina yang berbicara secara anonim kepada Apaberita.com menyatakan, "Kami akan terus membawa perang ini ke wilayah yang selama ini merasa aman. Selama rudal Rusia menghancurkan rumah sakit dan sekolah di Kharkiv atau Odesa, kami berhak menyerang balik ke titik-titik yang menyokong mesin perang mereka." Pernyataan ini sejalan dengan kebijakan Kyiv yang mengklaim bahwa semua target yang diserang merupakan bagian dari infrastruktur militer musuh.

Konteks Serangan Balasan Usai Kyiv Dibombardir

Serangan ke Saint Petersburg tidak bisa dilepaskan dari konteks agresi Rusia yang mematikan di Kyiv pada hari-hari sebelumnya. Serangan besar-besaran menggunakan rudal jelajah dan drone Shahed buatan Iran menewaskan 30 warga sipil, termasuk anak-anak, serta melukai puluhan lainnya. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut serangan itu sebagai "pembantaian keji" yang harus dibalas dengan memutus kemampuan Rusia untuk meneror rakyatnya.

Gelombang kecaman internasional kembali muncul, namun Kyiv tampaknya memilih untuk merespons dengan aksi nyata di lapangan. Analis militer menilai bahwa kemampuan Ukraina menjangkau Saint Petersburg—berjarak sekitar 1.200 kilometer dari perbatasan—menunjukkan kemajuan pesat dalam pengembangan drone jarak jauh produksi dalam negeri. Ini juga menjadi sinyal bahwa ketergantungan pada senjata Barat perlahan diimbangi dengan kemandirian industri pertahanan.

Reaksi Kremlin dan Prospek Konflik

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengecam serangan drone tersebut sebagai "aksi terorisme" dan menegaskan bahwa Rusia akan mengambil semua langkah untuk melindungi wilayahnya. Retorika balas dendam pun menguat di media pendukung pemerintah Rusia, yang menyerukan pembalasan lebih keras terhadap pusat-pusat kota Ukraina. Di sisi lain, para pemimpin Barat kembali mengimbau agar kedua pihak menahan diri, meski kecil kemungkinan adanya jeda kemanusiaan dalam waktu dekat.

Perang yang kini memasuki tahun ketiga terus menambah daftar panjang korban dan kehancuran. Serangan ke Saint Petersburg, kota yang selama ini dianggap steril dari zona tempur, menegaskan bahwa dua tahun setelah invasi besar-besaran dimulai, tak ada lagi wilayah yang benar-benar aman dari dampak konflik bersenjata. Apaberita.com akan terus menyajikan perkembangan terpercaya seputar dinamika perang Rusia-Ukraina.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dimas-permana

Editor Olahraga. Editor sepak bola, MotoGP, dan timnas.

Comments (0)

User